-->

Tokoh Toggle

Farid Gaban dan Ahmad Yunus, Penerima Anugerah Tirto Adhi Soerjo 2011

equator04Dari Juni Juni 2009-Mei 2010, jurnalis Farid Gaban dan Ahmad Yunus keliling Indonesia selama delapan bulan dengan sepeda motor. Mengunjungi dan merekam kehidupan di 100 pulau pada 50 gugus kepulauan Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas hingga Rote.

Keduanya menamai ekspedisi “gila” itu dengan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa”. Selama delapan bulan perjalanan itu, mereka berhasil membawa pulang 10.000 frame foto, 70 jam materi video, dan setumpuk catatan perjalanan.

Tak kebetulan belaka bila ekspedisi itu terilhami oleh oleh perjalanan pecinta dan pengamat alam Inggris Alfred Russel Wallace yang berkeliling Kepulauan Nusantara 150 tahun lewat.  Lewat buku “The Malay Archipelago” (1869), Wallace berjasa memperkenalkan keragaman alam dan manusia Kepulauan Nusantara ini kepada dunia, khususnya di kalangan akademis. Buku itu antara lain memuat informasi 120.000 spesies flora-fauna dan menyertakan daftar kosakata dari 59 bahasa lokal suku asli Indonesia.

Jika diusut lebih jauh, tradisi jurnalistik pertama di Nusantara pada dasarnya pencatatan perjalanan. Dan itu pula yang dilakukan Farid Gaban dan Ahmad Yunus. Yakni, meletakkan satu tradisi perjalanan sebagai model jurnalistik. Berbeda dengan pola perjalanan sebelumnya yang sekadar memorabilia dan kesan-kesan personal, keduanya dalam waktu yang serentak mengajak masyarakat untuk ikut bersama dengan mengendarai momentum ledakan media sosial.

Dengan jurnalisme perjalanan itu, Gaban dan Yunus coba melihat Indonesia dari pintu belakang di mana selama ini Indonesia dominan disaksikan dari depan, seperti yang terjadi di dunia pariwisata, investasi, dan simbol-simbol kultural. Keduanya menemui orang biasa, peristiwa biasa, lalu menyimpannya dalam buku harian, dalam lensa kamera, dan mata video.

Ini bersebalik dengan kecenderungan jurnalistik yang mengejar peristiwa-peristiwa yang umumnya luar biasa. Jika tokoh, maka tokoh itu mestilah istimewa. Jika peristiwa, maka mestilah peristiwa yang menggegerkan; terapung dalam buih peristiwa-peristiwa, mudah diombang-ambing oleh siapa saja yang punya agenda.

Keduanya mengangkat yang biasa, dikemas dengan cara yang detail, melibatkan sebanyak mungkin orang lain dalam waktu bersamaan dengan memanfaatkan media sosial secara berkesinambungan. Dengan cara itulah Indonesia dihadapkan oleh Gaban dan Yunus kepada kita.

Farid Gaban, seorang wartawan sarat pengalaman dengan tradisi jurnalistik—bergiat di Tempo, Editor, Republika. Ia pernah bertugas meliput di medan perang etnik Bosnia, penyaksi runtuhnya tembok Berlin 1990, dan melihat pertandingan Piala Dunia di Amerika Serikat. Sementara Ahmad Yunus adalah jurnalis muda yang pernah bergiat di majalah Pantau, portal berita detik dot com, dan sekaligus di Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Dari Gaban yang sarat pengalaman, pengertian kita tentang jurnalistik diubah; jurnalistik tak semata media massa, tapi juga mediasi. Dari Yunus kita temukan bahwa jurnalistik perjalanan adalah silaturahmi jaringan dan dengan penulisan baru yang di Indonesia dipopulerkan oleh Pantau.

Kolaborasi dua jurnalis dengan perjalanan yang sederhana ini (tak dipersiapkan dengan amat serius dengan logistik tanpa batas), kemudian mendobrak apa arti jurnalistik mayarakat kini yang itu seabad lebih sebelumnya dilakukan Tirto Adhi Soerjo yang berkeliling ke daerah-daerah, mencatatnya, dan menerbitkannya sendiri. Gaban dan Yunus adalah “Sang Pemula” mendobrak cara kita memposisikan jurnalitik di era kiwari ini dengan sederhana, cermat, dan mengikuti jiwa zaman.*

Resepsi Penganugerahan: 7 Desember 2011 | 19.00 WIB | Newseum Indonesia | Jl Veteran I No 24, Monas, Gambir, Jakarta Pusat |

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan