-->

Tokoh Toggle

"Ekspedisi Kompas", Penerima Anugerah Tirto Adhi Soerjo 2011

ekspedisi kompasSudah 17 tahun Kompas menyelenggarakan ekspedisi tanah air, yakni sebuah praktik jurnalistik yang melihat, mengurai, mengkritisi, dan sekaligus membentangkan situasi tanah dan air Nusantara dari pelbagai sisi: masa lalu, masa kini, dan keterjangkauannya di masa depan. Dengan usia yang begitu panjang, “Ekspedisi Kompas” bisa diposisikan sebagai institusi sendiri dalam Kompas.

“Ekspedisi Kompas” berbeda dengan Kompas sebagai harian, sebagai media massa. “Ekspedisi Kompas” adalah mediasi. Bila media massa bersandar pada peristiwa untuk kepentingan dan kepuasan massa, mediasi bersandar pada kepentingan komunitas untuk peneguhan bangsa yang lebih besar.

Tak salah kemudian, tema besar “Ekspedisi Kompas” adalah tanah dan air. Ekspedisi tanah yang sudah dilakukan antara lain Tanah Papua (2007), Anjer-Panarukan (2008) di sepanjang tanah Jawa,  ekspedisi dengan sepeda di sepanjang Jawa (2010), peradaban Nusa Tenggara Timur (2011), dan Cincin Api di Sumatera (2011). Adapun ekspedisi air antara lain menyusuri sungai Kapuas-Mahakam (1994), Barito-Muller-Mahakam (2005), Bengawan Solo (2008), Ciliwung (2009), Musi (2010), dan Citarum (2011).

Dalam jurnalistik perjalanan itu, “Ekspedisi Kompas” menyingkap tanah dan air sebagai bumi manusia di mana di sana ada kehidupan. Di sana, tanah dan air dipandang bukan sebagai benda atau aset, melainkan organisme hidup yang memiliki masa lampau, pasang surut di mana kelahiran dan kematian berbaur.

“Ekspedisi Kompas” kemudian menyodorkan sebuah pendekatan kita kepada tanah dan air yang diikat oleh jurnalistik lewat perjalanan bersama dan bukan melalui perjalanan individual yang umumnya berciri pencarian pada tempat-tempat yang belum diketahui.

Lihat, nyaris semua tempat yang menjadi ruang ekspedisi adalah tempat-tempat yang sudah dikenal luas masyarakat.

Di ruang hidup bersama masyarakat itu, “Ekspedisi Kompas” memberikan eksposisi dan sekaligus reposisi. Ia tak sekadar mengekspos peristiwa, tapi menghadirkan, menyingkap, dan memposisikan kembali benda-benda, manusia-manusia yang menyandarkan hayat di dalamnya, waktu bersama, dalam suatu relasi masa kini dan masa depan. Sekaligus jurnalisme perjalanan yang dikembangkan “Ekspedisi Kompas”, mengajak kita untuk memeriksa kembali pengertian komunikasi. Benarkah komunikasi semata perjumpaan dan percakapan? Atau lebih dari itu, komunikasi adalah pengalaman bersama dalam suatu peristiwa?

Pada akhirnya “Ekspedisi Kompas” memberikan pandu atau kompas bagi sebuah komunitas dalam konteks yang lebih luas, yakni kehidupan berbangsa. Ia tak hanya menjemput, menyingkap, tapi juga sekaligus memetakan persoalan komunitas untuk kemaslahatan bangsa. Tanah dan air. “Ekspedisi Kompas” adalah “communiNATION”.

Resepsi Penganugerahan: 7 Desember 2011 | 19.00 WIB | Newseum Indonesia | Jl Veteran I No 24, Monas, Gambir, Jakarta Pusat |

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan