-->

Tokoh Toggle

Cinta Erwin buat Diponegoro dan Bung Karno

urlOleh Edy M Ya’kub

Muda tapi kuno. Itulah gambaran Erwin Dian Rosyidi, pemuda berusia 31 tahun, yang punya hobi mengoleksi buku-buku kuno. Buku-buku koleksi Erwin bahkan ada yang berumur 100 tahun, jauh melampaui umurnya.

Di antara buku koleksi Erwin yang telah berumur lebih dari 100 tahun itu adalah buku berbahasa Belanda dengan judul ’De Chineesche Beweging of Java’. Buku itu  menceritakan pergerakan sosial, ekonomi, politik, dan budaya dari masyarakat China di Indonesia.

“De Chineesche Beweging of Java’ adalah karya PH Fromberg yang diterbitkan pada tahun 1911,” ucap alumni jurusan sastra STIBA Surabaya itu.

Selain itu, ada pula buku biografi tokoh-tokoh dunia yang populer seperti Bung Karno, Mahatma Gandhi, Lee Kwan Yew, dan sebagainya.

“Buku karya tokoh-tokoh terkenal itu juga ada, seperti buku berjudul ’Sarinah, Kewajiban Wanita dalam Perjuangan RI’ yang merupakan karya dari Bung Karno,” tuturnya ketika ditemui di sela-sela pameran buku kuno di Museum ’House of Sampoerna’ Surabaya (22/11/2011).

Tidak hanya itu, ada juga Legenda Jawa dari buku “Javaansche Sagen Mythen En Legenden” karya Jos, Meijboom Italiaander (1924).

Atau, berbagai dongeng yang beredar di Indonesia yang terangkum pada buku “Folk Tales of Indonesia” yang diterbitkan oleh Sterling Publishers Ltd (1977).

Untuk keindahan karya sastra ada pada buku berjudul “Tifa Penjair dan Daerahnja” yang merupakan karya HB Jassin yang diterbitkan pada tahun 1953.

Ada pula buku mengenal sejarah perjuangan bangsa dari kumpulan naskah atau dokumen sejarah yang pernah terbit pada masa kolonial Belanda dan Jepang karya Osman Raliby yang merupakan terbitan tahun 1953.

Selanjutnya, buku yang memuat ratusan foto-foto tentang Indonesia karya NA Douwesdekker pada tahun 1950-an yang berjudul “Tanah Air Kita”.

“Saya juga mengoleksi buku karya Bung Hatta yang judulnya ’Beberapa Fatsal Ekonomi’ terbutan tahun 1946 dan juga karya Bung Karno berjudul ’Di Bawah Bendera Revolusi’ terbitan tahun 1965,” ungkapnya.

Berikutnya, buku yang menggunakan aksara Jawa terbitan tahun 1917 yang mengangkat kisah Babad Diponegoro serta kumpulan dokumen mengenai perjuangan pertumbuhan dan perkembangan politik Indonesia mulai tahun 1945.

“Buku berjudul ’Babad Diponegoro’ itu yang paling saya suka, saya baca sampai berkali-kali, karena saya memang suka sosok Pangeran Diponegoro,” ucapnya dengan pandangan menerawang.

“Pemburu” Diponegoro

Baginya, perang Diponegoro merupakan perang terbesar di Jawa. “Saya bisa katakan begitu, karena pasukan Belanda sampai kewalahan, sehingga banyak peneliti menyebut sebagai Perang Jawa,” tuturnya.

Ditanya cara mendapatkan buku kesukaannya itu, ia mengaku sangat susah, karena dirinya sampai berburu kepada sejumlah teman.

“Saya cuma dapat cerita dari teman-teman, lalu saya pesan. Sekitar 10 tahun saya baru mendapatkan, karena ada teman yang bilang buku itu ada di Solo. Saya pun ke Solo, lalu saya membeli buku itu. Harganya Rp1,5 juta,” tukasnya.

Selain buku berjudul “Babad Diponegoro” itu, Erwin juga memiliki buku lain yang bercerita tentang Pangeran Diponegoro dari karya Sagimun MD.

Pemuda asal Kupang Krajan, Surabaya yang menjadi “pemburu” buku kuno sejak SMP (1993) itu dirinya suka “berburu” buku karena sering mendapat cerita dari sang kakek.

“Awalnya, kakek sering bercerita tentang revolusi dan di rumah juga banyak buku-buku keluarga tentang sejarah, sehingga saya sering membacanya dan akhirnya saya suka,” ujarnya.

Tanpa disadari, “perburuan” hampir 20 tahun itu kini mencapai hampir 1.000 buku. “Yang paling jauh, saya pernah berburu buku kuno sampai ke Medan,” tandasnya.

Baginya, perburuan buku-buku kuno itu juga dimotivasi oleh tokoh besar yang juga dicintainya, yakni Bung Karno. “Bung Karno pernah bilang bahwa negara yang besar adalah negara yang menghargai sejarah. Beliau bilang, Jasmerah atau jangan sampai melupakan sejarah,” kilahnya.

Walhasil, dirinya kini sudah memiliki “jaringan” tanpa sengaja, bahkan hingga ke luar negeri, sehingga dirinya tak perlu lagi berburu ke lapak-lapak buku loak, karena banyak teman atau orang yang menelepon dirinya untuk menawarkan buku kuno.

“Tawaran termahal, saya pernah membeli buku kuno tentang Neo-Surabaya yang harganya Rp11 juta. Buku koleksi saya yang tertua adalah pembelajaran Bahasa Madura yang merupakan terbitan tahun 1880-an dan buku termuda merupakan terbitan tahun 1970-an,” paparnya.

Bagaimana caranya “merawat” buku-buku kuno itu? “Saya berusaha menempatkan pada ruangan yang tidak lembab, lalu saya beri merica, kapur barus, dan sebagainya. Kadang, saya jemur juga,” ucapnya.

Ditanya tentang uang untuk membeli buku-buku kuno itu, Erwin dengan jujur mengaku dirinya terpaksa menjual buku-buku kuno, terutama buku kuno yang berjumlah lebih dari satu buku untuk judul yang sama.

“Tapi, kalau saya suka sesuatu buku, saya tidak akan melepas kepada kolektor lain, meski orang berani menawar mahal. Saya tetap punya koleksi pribadi. Bagaimana pun, sejarah itu tidak bisa dijual, apalagi saya sudah terlanjur suka,”
timpalnya.

*)Oase Kompas, 23 November 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan