-->

Kronik Toggle

Berthold Damshauser: Indonesia Menganaktirikan Budaya Tulis

Di pintu keluar ruangan diskusi lantai tiga Hotel Milenium Jakarta, pengamat sastra Indonesia asal Jerman Berthold Damshauser terlibat percakapan seru dengan seorang penulis Indonesia yang karyanya pernah difilmkan.

Berthold, yang juga Indonesianis kelahiran Wanne-Eickel, Jerman, 8 Februari 1957, dan sejak 1986 mengajar di Universitas Bonn, Jerman itu, berbicara tentang kebebasan serta keragaman agama dan kepercayaan di Indonesia dan dunia. Dia menyoal pentingnya toleransi.

“Saya harap Anda merenungkannya. Keselamatan ada pada setiap agama, kebenaran dapat dilakukan oleh setiap orang. Tuhan akan menilai perbuatan dan menerima orang di surga atas perbuatan baik yang dilakukannya,” papar Berthold, dengan bahasa Indonesianya yang fasih.

Percakapan intim terjadi dengan penulis itu. Saya membiarkan suasana dialog ini tanpa mencampurinya. Itu dilakukan juga dua penulis lainnya. Barulah seusai dialog, Berthold bersedia berbincang, dari menyoal sastra Jerman, sastra Indonesia, hingga fenomena tentang kemanusiaan bagi para penulis di dunia.

“Kita berbincang sambil merokok di luar hotel,” ujar Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn dan Pemimpin Redaksi Orientierungen itu.

Di tengah angin yang bertiup kencang sore itu, tepat di taman di sebelah kiri hotel yang terletak di pinggiran kali Jl Fachrudin itu, tangan kanan Berthold memegang rokok salah satu merek ternama di Indonesia, sedangkan tangan kirinya menjentik korek gas.

Di makalah bertajuk “Sastra sebagai Jembatan Perjumpaan Budaya antar Bangsa” yang dia sajikan dalam diskusi Jakarta International Literary Festival (JilFest) 2011, Berthold mengungkapkan Indonesia belum berbuat banyak untuk pertukaran dan penyebaran budaya ketimbang Jerman.

Belum ada konsep matang mengenai “politik-budaya luar negeri”, juga belum terlihat strategi dan tindakan yang fokus untuk menyebarkan budaya Indonesia.

Pusat budaya Indonesia di luar negeri hanya segelintir. Hanya beberapa embrio di bawah naungan KBRI setempat dan tidak setaraf dengan Goethe-Institut yang notabene adalah lembaga mandiri dan tidak dikelola kaum diplomat, melainkan orang yang ahli di bidang kebudayaan.

Barangkali perbandingan dua negara yang berbeda usia ini kurang adil, namun baginya, Indonesia justru diharapkan memainkan peranan aktif di kebudayaan. Ini karena Indonesia bukan hanya negara yang memiliki budaya lisan-tradisional, namun juga berhasil mengembangkan budaya aksara modern, seperti yang terbukti melalui kesusastraan Indonesia modern.

Memang, sebagaimana dia tulis di dalam makalahnya, Indonesia berupaya menyebarkan tari, musik, gamelan, wayang kulit, budaya tradisi, dan lisan. Namun, nyatanya, hingga kini, budaya aksara termasuk kesusastraan Indonesia tetap dianaktirikan.

Berthold kemudian menyatakan, di luar dukungan negara terhadap sastra, dia menyambut baik adanya pusat sastra di mana pun, pusat budaya yang plural dan beragam.

Saat ini, Jakarta tidak lagi dominan dalam dinamika sastra. Dia justru menyebut keberadaan komunitas di Bali yang didukung penyair Warih Wisatsana, atau dinamika sastra di Tasikmalaya dengan dukungan penyair Acep Zamzam Noor.

“Saya juga menyambut baik keberadaan sastra di Tanjungpinang yang berakar pada tradisi lama. Mantra, misalnya. Yang penting, bagaimana menghasilkan puisi modern tapi berakar pada tradisi,” tambah Berthold sambil kembali menyulut rokok keduanya yang cepat terbakar embusan angin kencang.

Berthold mencontohkan olahan mantra “Presiden Penyair” Sutardji Calzoem Bachri yang berhasil mengelola kemodernan di dalam mantra dan pantun. Menurutnya, segala sesuatu yang baru itu sah, karena nyatanya karya sastra para penyair yang dia sebut di atas juga menghasilkan mutu dan bahasa yang menarik.

Budaya dan Kemanusiaan

Berthold mengatakan, interaksi adalah keniscayaan yang penting antarsemua bangsa di dunia. Budaya berkembang lewat interaksi dengan kebudayaan lainnya.

Aborigin di masa silam hidupnya terpisah dan bisa jadi tak begitu banyak persinggungan dengan kebudayaan yang lain. Tapi, Indonesia berinteraksi dengan banyak kebudayaan, termasuk dengan Persia, Arab, Eropa, sehingga negara ini terus berkembang dan dinamis.

“Yang saya harapkan pada sastrawan Indonesia, selain bakat adalah misi kemanusiaannya. Misalnya, toleransi terhadap yang berbeda agama. Sejauh mungkin, bahkan terhadap perbedaan ideologi, pendapat yang berseberangan asalkan yang berbeda itu tidak jahat. Toleransi terhadap segala pihak yang pasivistis (tertekan dan terkucilkan-red),” ujarnya.

Selain itu, menghormati kepercayaan dan ideologi apa pun. Misalnya, yang tidak percaya pada reinkarnasi atau pun kiamat. Ia bahkan mengatakan, sekali pun dia berlatar keluarga Katolik, tetap saja kepercayaan lain di luar kepercayaan itu, bagi Berthold, akan lebih baik ketimbang orang yang sama-sama Katolik atau pun Kristen namun jahat perbuatannya.

Pembunuh yang memeluk sebuah agama, misalnya, jelas tidak akan dia sukai. Seorang yang berlatar atheis namun berbuat kebajikan akan lebih diterima Berthold, ketimbang merasa “ber-Tuhan” namun tetap berbuat keji. “Jadi, bagi saya ukurannya adalah perbuatan baik, moralitas,” paparnya.

Dalam makalah diskusinya, Berthold mengungkapkan kondisi kekinian masyarakat pembaca yang tak hanya di Indonesia, bahkan di Jerman, yang lebih ke arah “bahasa poster”, di mana citraan visual lebih menarik dikonsumsi publik ketimbang bahasa tulisan.

“Untuk para penulis, jangan pedulikan pasar bahkan masyarakat pembaca. Yang penting, penulis sastra terus menghasilkan karya terbaiknya bagi kemanusiaan,” ujarnya.

Mutu terjemahan, menurut Berthold, juga wajib diperhatikan. Ini karena buruknya penerjemahan karya sastra yang akan menghasilkan efek yang buruk juga. Dia pun menulis di makalahnya, buruknya penerjemahan juga berarti tindakan bunuh diri.

Sastrawan mustahil akan diakui di panggung internasional andai karyanya tidak hadir dalam bentuk terjemahan yang bermutu sastra. Kesimpulannya, syarat mutlak bagi berhasilnya penyebaran sastra Indonesia di luar negeri adalah terjemahan yang baik.

Rindu “Puisi Sejati”

Jurnal Sajak edisi kedua yang pemimpin redaksinya adalah penyair Jamal D Rahman dan dewan redaksinya adalah Agus R Sarjono, Ahmad Syubbanuddin “Alwy”, Acep Zamzam Noor, dan Berthold Damshauser, malam itu terbitan keduanya diluncurkan di Galeri Nasional, Kamis (8/12).

Di jurnal itu, Berthold mengungkapkan kerinduannya pada puisi yang “bukan bergaya prosa” tetapi puisi yang “bersajak”, dan pentingnya nada atau suara yang atas dasar irama atau metrum.

Dia ungkapkan lagi, belakangan, puisi-puisi lebih ke arah prosaik, naratif, ketimbang mementingkan aspek-aspek sejatinya puisi sebagaimana dinampakkan pada kinanti, asmaradana, dan dandanggula dalam matra sastra Jawa atau pun pantun dalam khazanah kesusastraan Melayu.

Menurut Berthold, inilah bagian dari perannya sebagai pencinta kesusastraan Indonesia. Berthold terlibat intens dalam berbagai kegiatan penerjemahan karya sastra Jerman-Indonesia.

Di Jurnal Sajak, untuk objektivitas penilaian di antara redaksi, Berthold dan kawan-kawan lain menerima karya sastra yang anonim yang sebelumnya telah disusun registrar ketika menerima surat elektronik dari penyairnya. Dengan begitu, diharapkan setiap redaksi hanya bersandar pada kualitas dan mutu karya sastranya.

“Jadi kita tak tahu ini karya siapa. Terkadang, muncul karya dari sastrawan yang tak pernah kita kenal,” katanya.

Karya sastra di Indonesia saat ini, menurutnya, meningkat dari segi kuantitatif, namun masih kurang dalam soal mutu. “Mutu terjemahan sastra Indonesia yang terbit di negara lain perlu diperhatikan, supaya hasil terjemahannya tak jadi masalah karena bahasa terjemahan yang tidak bagus,” ujarnya.

Sumber: Sinar Harapan, 10 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan