-->

Lainnya Toggle

Baequni Mohammad Haririe Mengenang Lan Fang

Menjelang akhir tahun 2011, tiba-tiba saya dikangenkan seseorang. Saya dan Komunitas Seniman Santri berencana menggelar sebuah acara bersama Lan Fang, juga akan melibatkan beberapa orang atas rekomendasinya. Namun seolah-olah “batal” terkait kepulangannya. Menjadi akhir tahun yang (selalu) berbeda bagi saya pribadi, arsitektur kebudayaan –hasil dari diskusi bersama Lan Fang—yang akan kami bangun, kembali harus saya rancang ulang. Entah, akan menjadi seperti apa tanpa keterlibatan dirinya.

Barangkali, pertemuan saya dengan novelis “Ciuman Di Bawah Hujan” ini terbilang singkat. Sekitar awal tahun 2010 saya baru mengenalnya. Pertemuan saya dengan Lan Fang berangkat dari pertemanan di dunia maya, situs jejaring sosial (facebook). Mula-mula, saya merasa tertarik membaca status-status yang ia buat, tertangkap oleh saya; betapa cerdas pemiliknya mengangkat sebuah tema atau obrolan (tentang persoalan apapun), meskipun –mungkin bagi yang lain—terkesan “main-main” dan ringan. Jadi, dari status facebook pun, sebenarnya kita bisa sedikit meraba originalitas kecerdasan serta kepekaan seseorang.

Semula, saya tidak pernah berani menyapanya, ketika pun mendapati nama Lan Fang di ruang chatting, sedang aktif. Entahlah, seolah-olah jemari saya tiba-tiba mendadak kaku dan tertatih-tatih untuk melontarkan sapaan. Sangkaan saya, bila sedang On Line, Lan Fang pasti sibuk berkomunikasi dengan orang yang lebih penting, jadi kedatangan saya justru khawatir akan mengganggu. Akhirnya saya hanya bisa membaca obrolannya menanggapi komentator-komentator yang lain di statusnya. Saya begitu terkesan dengan argumentasi, opini maupun gagasannya. Suatu ketika, Lan Fang berdiskusi panjang dengan beberapa orang tentang karya novelnya –Tanda Tanya—di salah-satu kolom status facebook-nya.

Naskah itu menurutnya, seperti terang-terangan “dicuri” oleh seseorang yang kemudian diadopsi ke dalam sebuah film berjudul ? (Baca: Tanda Tanya) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Ia (Lan Fang) pun berusaha sadar diri, bahwa naskah film itu bisa jadi dimirip-miripkan dengan karyanya. Namun ketidakmengertiannya terhadap naskah maupun film itu, justru melahirkan banyak tanda tanya, ketika mendapati setting film, alur konflik dan tema besar pada film tersebut, hampir 99% tak jauh beda dengan karyanya, apalagi penulis naskah film ? tersebut, Lan Fang mengenalnya dengan baik (rasional bukan, ketika Lan Fang merasa telah terjadi “pencurian” besar-besaran atas karyanya yang dilakukan Hanung Bramantyo?)

Lagi-lagi –novelis yang rendah hati ini—hanya berbaik sangka, bahwa semuanya bisa jadi lantaran faktor kebetulan dan dia sendiri yang ke-GR-an. Oleh karenanya, Lan Fang tidak melanjutkannya ke jalur hukum (bukankah orang Indonesia itu seringkali tidak menghargai karya sastra dan hak cipta, Lan Fang?). Pada sisi ini, betapa saya menaruh hormat lantaran sifat rendah-hatinya yang luar biasa. Ia tidak menuntut apa-apa, hanya berharap kejujuran dari para Sineas di tanah air ini.

Saking penasarannya, pada kesempatan berbeda, saya mengikuti launching film ? (Tanda Tanya) yang diputar di bioskop 21 pusat perbelanjaan Grage Mall Cirebon, yang waktu itu diprakarsai oleh GP Ansor, sekaligus direncanakan oleh mereka adanya sesi dialog dengan Sutradara film tersebut. Sangat disayangkan, waktu itu Hanung Bramantyo tidak hadir. Sehingga tidak banyak informasi yang dapat saya croscek, terutama penulis naskah film itu. Kesimpulan saya; mereka tidak melakukan research naskah dan beberapa pertanyaan yang dilontarkan ke perwakilan Production House-nya pun, tidak menyiratkan pertanggungjawaban apa-apa. Nihil!

Kemudian, pertemanan saya dengan Lan Fang di facebook berjalan pelan-pelan tapi pasti. Sesekali, bahkan tiba-tiba dia “mampir” di status saya, yang kadangkala saya merasa malu ketika membaca komentarnya (jujur, kadang saya juga merasa tersanjung). Betapa tidak, status saya yang begitu sepele, dikomentarinya dengan canda-cerdas. Candaan dari novelis juga penulis besar seperti Lan Fang, tentu saja membuat saya kikuk untuk membalasnya. Segelintir saja orang tenar dan besar mau berbalas sapa atau canda di dunia maya dengan orang yang belum dikenal (kalaupun terjadi, itu biasanya sekedar menghibur heuheuheu).

Apalagi di twitter (sementara di twitter, saya tidak menemukan Lan Fang), bisa berdialog semisal dengan sastrawan besar menjadi sesuatu yang istimewa. Parahnya, lagak orang Indonesia (pejabat maupun selebritisnya), twitter dianggap lebih bergengsi, lebih prestisius ketimbang facebook. Di dunia maya pun, ternyata orang-orang Indonesia memiliki kegemaran menciptakan kelas-kelas sosial. Maka tidaklah heran, tumbuh-subur “kebodohan” dimana-mana, kesenjangan sosial teramat kentara di dunia nyata, dari sudut ekonomi maupun interaksi. Sebuah perkembangan teknologi komunikasi yang patut dicemaskan, ditambah lagi, masyarakat kita memiliki watak konsumtif.

Kembali ke soal Lan Fang. Lantaran sifatnya yang terbuka dan sederhana di facebook, perlahan-lahan juga akhirnya, saya memberanikan diri menyapa Lan Fang di ruang chatting. Di ruang chatting, rupanya Lan Fang menyambut baik siapa saja yang datang menyapa, orang yang sudah dikenal maupun belum dikenalnya. Terbukti, Lan Fang bersedia membalas –padahal saya mengerti, pasti dia sibuk dan sedang serius—dan bahkan sesekali meminta saya untuk mengapresiasi catatan pribadinya. Tentu saya beranggapan, Lan Fang sekedar berbasa-basi dengan saya soal permintaannya tersebut.

Akhirnya, pertemanan saya dengan Lan Fang semakin serius. Ia sesekali mengirim pesan melalui inbox facebook, menanyakan dan atau membicarakan sesuatu. Kami membahasnya sesekali dengan canda-tawa, seolah-olah persoalan yang kami diskusikan –meskipun persoalan serius—tak ubahnya obrolan para tukang becak (obrolan tukang becak bukan berarti tiada guna, katanya). Atau, bila membahas sesuatu yang biasa-biasa saja, diskusi kami tak kalah seriusnya seperti obrolan anggota dewan saat paripurna. Begitulah Lan Fang, sepengtahuan saya, menularkan keceriaan dan selalu membuat saya gembira.

Pernah, suatu ketika, atas situasi politik di negeri ini, Lan Fang tiba-tiba SMS. Nadanya sangat serius dan seperti hendak memuntahkan kepeduliannya seketika itu juga kepada saya. Saya pun membalasnya agak panjang, berusaha sebisa mungkin menjawab rentetan pertanyaannya yang brilian. Ia memperhatikan banyak hal, bukan saja golongannya, di luar komunitasnya pun ia baca. Tak urung, pemerhati NU ini (aktivis keturunan Tionghoa ini dekat dengan NU –sangkaan saya—dimulai sejak mengenal sosok Gus Dur dan “mengikrarkan diri” menjadi murid setia Almaghfurlah. Setelah Gus Dur wafat, ia tetap meneruskan silaturahminya dengan KH. Sholahuddin Wahid dan sahabat karib beliau termasuk dengan KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus serta beberapa tokoh pesantren lainnya) kerap-kali merasa gerah dengan polah-tingkah elit-elit NU. Menurutnya, sepeninggal Gus Dur, makin banyak orang “ngawur”. Kau tahu Lan Fang, betapa penglihatanmu teramat tajam?

Waktu terus bergulir, pertemanan saya dengan Lan Fang di facebook semakin mesra. Suatu ketika, Acep Zamzam Noor menerbitkan buku “Puisi Dan Bulu Kuduk”. Dan di buku itu, Lan Fang, termasuk salah-seorang apresiator yang menuangkan semangatnya dalam bentuk endorsement. Lantaran buku PDBK pula, sepertinya Tuhan memberikan celah bagi saya untuk mengenal Lan Fang lebih konkrit lagi. Maka saya tak mengabaikan kesempatan ini, apalagi Lan Fang yang saya ketahui saat itu, memang sedang gencar-gencarnya bersafari di Jawa Timur dengan kang Acep serta sastrawan lainnya; membedah, menularkan virus-virus kesusastraan dan “mempersembahkan” PDBK di pesantren, kampus dan komunitas.

Gayung bersambut, saya berinisiatif menghubungi Lan Fang untuk menggelar acara Kelas Menulis dan Bedah Buku, kemudian atas rekomendasinya juga, saya disuruh berkordinasi soal waktu dengan penulis PDBK (kang Acep). Tanggal disepakati dan rencana –menurut pengakuan Lan Fang, berkunjung ke pesantren Jawa Barat dan bisa berziarah ke maqom Sunan Gunung Jati adalah cita-cita besarnya—diberkati Tuhan. Buku kang Acep itu, wasilah saya bertemu langsung dengan Lan Fang (bertemu dalam arti sebenarnya).

Setengah bulan sebelum tiba di Cirebon, dengan bahagianya Lan Fang berujar: “kau mau dibawakan oleh-oleh apa?” maka saya jawab dengan sepenuh hati “ah, tak perlu repot-repot, sediakan waktumu untuk pesantren Babakan Ciwaringin dan Ciuman Di Bawah Hujan, tetap sehat dan jaga stamina, ok?!”. Saya tidak mengetahui soal kesehatannya waktu itu, mungkin saja penyakit yang baru saya ketahui di kemudian hari –kanker hati dan komplikasi—sebenarnya telah lama bersarang di dalam tubuhnya, sehingga saya benar-benar “tak sabar” untuk segera bersua. Ngalap berkah!

Oya, ketika saya hendak mempublikasikan gambar dirinya di Baligho acara. Saya mengajukan poto –yang menurut saya pantes—sebagai bagian dari backdrop design. Ia menyuruh saya memberikan kode (me-Like) salah-satu poto di album facebook-nya (untuk hal-hal tertentu, ia seringkali mengajak saya bermain intelejen). Kemudian saya like salah-satu potonya, ia langsung SMS: “jangan yang itu, terlalu fashionable. Ga pantes sebagai penulis hehehe. Nanti aku kirim ya via email, kau tinggal pilih salah satunya.” Ah Lan Fang, kau cermat sekali.

Menjelang dekatnya jadwal ke Cirebon, Lan Fang berkali-kali SMS. Mengingatkan saya; soal keseriusan waktu dan kesiapan teknis acara. Ia juga kadang sesekali menegaskan, “bonus ziarah ke Sunan Gunung Jati jangan lupa lho. Kau antarkan aku ke sana. Aku sudah pernah ziarah ke Wali lainnya, ke Cirebon belum. Bagaimana?”.  “jangan khawatir, bonus itu akan aku penuhi. Pokoknya jaga stamina jangan sampai ngedrop!”. Saya berulangkali pula mengingatkan soal stamina, soalnya, jam terbang Lan Fang dan Acep Zamzam Noor pada bulan September 2011 waktu itu (sedangkan jadwal di Cirebon 2 Oktober 2011) sangat padat, benar-benar membuat saya khawatir juga. Beliau berdua bekerja keras memenuhi undangan pembaca dan penikmat sastra dalam mengapresiasi buku Puisi Dan Bulu Kuduk. Dari pesantren ke pesantren dari kampus ke kampus dan dari komunitas ke komunitas, tak mengenal lelah.

Sesampainya di Cirebon, saya bingung soal penginapan untuk Lan Fang (untuk hal ini saya hampir kurang terpikir secara matang, Lan Fang datang siang hari pada tanggal 1 Oktober, sehari sebelum acara). Akhirnya saya menempatkannya di pondok pesantren Kebon Jambu, kediaman seorang penulis juga, Nyai Hj. Masriyah Amva. Pikir saya, sama-sama perempuan dan sama-sama penulis, tentu memiliki banyak kesamaan. Alhamdulillah, begitu tiba di pondok, beliau-beliau ini seperti sudah saling mengenal, langsung akrab dan terlibat obrolan hangat. Bahkan, pagi harinya—Lan Fang bercerita dengan begitu antusias, bahwa mereka ngobrol di kamar dari sore sampai dini hari.

Saat acara (Lan Fang pada sesi “Kelas Menulis” pagi hari, sekaligus diplot untuk “Bedah Buku PDBK” siang harinya bersama Acep Zamzam Noor dan Ahmad Syubbanuddin Alwy) tiga pendekar sastra itu banyak memberikan pencerahan dan bimbingan tulis-menulis berikut pengetahuan tentang sastra kepada saya serta para santri lainnya. Pelajaran yang sangat berharga, ilmu yang tidak ternilai harganya, dan Lan Fang selalu saja tampil ceria. Kau tahu Lan Fang, kecerianmu masih tampak di mana-mana?

Bersama Lan Fang di Cirebon, banyak pelajaran yang saya dapatkan. Ia pribadi yang cerdas, kritis, santun, konsisten dengan janji dan waktu, jiwa sosialnya tinggi dan peka terhadap banyak hal. Sampai-sampai, apa saja yang barusan dilihat, diterjemahkannya dan selalu menjadi bahan obrolan yang mengagumkan. Pun ketika di area maqom Sunan Gunung Jati. Di hadapan peristirahatan Ong Tin Nio (istri dari Sunan Gunung Jati), ia begitu khusyuk berdoa dan serasa terlunaskan segala kebutuhan jiwanya. Ia terlihat begitu bahagia. Lan Fang, wangi doamu masih semerbak di sana.

Mengenai novel Ciuman Di Bawah Hujan yang ia janjikan, rupanya tak terbawa (mungkin terburu-buru ketika berangkat ke Cirebon, sehingga ia lupa). Namun berselang satu minggu setelah mengisi acara di pesantren Babakan Ciwaringin, ia SMS, minta alamat lengkap rumah saya. 3 hari kemudian, datang kiriman hadiah; sebuah sorban dan novel Ciuman Di Bawah Hujan. Ketika saya beritahu bahwa hadiahnya telah diterima, ia kembali mengirim pesan, “di kardus itu ada dua hadiah, satu untukmu dan satu lagi untuk Nyai Hj. Masriyah Amva. Terimakasih atas segalanya, salam, Lan Fang.”

Ketika saya menuntaskan membaca novel Ciuman Di Bawah Hujan, saya benar-benar dibuat terperanjat. Betapa ia pribadi yang brilian. Ia sungguh-sungguh seorang novelis besar. Ia mengangkat sudut pandang unik soal cinta, politisi, politik, anggota dewan dan jabatan. Alur ceritanya begitu menawan, karakter tokoh-tokohnya kuat, dialog-batinnya menakjubkan, ia mampu menempatkan dua rangkaian cerita dalam satu cerita, menjadi senyawa. Sampai saya curiga, jangan-jangan tokoh utama “Fung Lin” itu tak lain adalah penulisnya. Sayang, endingnya membuat saya seperti mengalami “penyesalan”, menyesal membaca cerita yang tidak “selesai”. Tapi, di akhir halaman ia sampaikan persoalan itu, rupanya ia bertanggungjawab dan oleh karena mata-batinnya begitu lembut, sampai mampu mengantisipasi dan dapat merasakan getar “kegelisahan” pembaca sebelum pembaca menyampaikannya. Berikut saya petikkan pertanggungjawaban Lan Fang.

Sampailah kita pada penghujung Ciuman Di Bawa Hujan. Tetapi saya mengalami kesulitan untuk mengeksekusi nasib para tokoh saya. Sebetulnya bisa saja saya mengakhirinya dengan sad ending yang menguras airmata? Cara paling mudah adalah membuat tokoh meninggal. Tetapi saya tidak menyukai kematian. Atau tepatnya, saya belum siap untuk mesra dengan kematian, walau hanya di dalam fiksi.

Pilihan lain adalah ending yang dramatis. Misalnya, ada tokoh yang saya buat bahagia sekali tetapi juga ada tokoh yang menderita sekali. Sehingga hitam-putih cerita menjadi jelas. Tetapi itu bukan ending yang saya sukai. Karena bila semua terlalu jelas maka tidak ada rahasia lagi. Sedangkan keindahan justru terletak pada rahasia.

Jujur saja saya mengakui bahwa kesulitan ini disebabkan karena saya telah jatuh cinta pada tokoh-tokoh saya. Sehingga wlaupun di dalam fiksi, saya tidak rela mereka sengsara. Saya ingin cerita ini berakhir happy ending untuk semuanya. Tetapi hati kecil saya mengatakan ending seperti itu terlalu dikarang-karang. Tampak sekali sebagai kamuflase yang menipu perasaan sendiri. Ah, ternyata di dalam mengarang pun ditunut kejujuran.

Akhirnya, setelah bertengkar sengit dengan diri sendiri, saya harus kalah ketika kejujuran lebih nyaring bersuara “tidak menyelesaikan pun itu adalah sebuah penyelesaian.” Jadi maaf, bila ada yang merasa cerita ini belum selesai…

Begitulah Lan Fang, novelis, kolumnis dan sastrawan hebat ini mengakhiri novelnya. Dan jauh sebelum saya rampung membaca novel itu, saya lebih dulu mengatakan “Lan Fang, saya belum selesai membaca novel Ciuman Di Bawah Hujan. Baru sampai Rintik 3 Fung Lin: Lalu. Perlu waktu khusus untuk menyelesaikannya. Tapi saya suka, dan ini novelmu yang berat sekaligus dahsyat!”. Beberapa detik kemudian ia membalas, “hehehe… syukurlah kalau kau suka. Memang, itu novel berat, membacanya perlu waktu spesial. Aku tunggu kritikan dan masukannya.” Mendengar jawaban Lan Fang yang santai dan rendah hati itu, saya berusaha mencuri waktu untuk menyelesaikan bacaan Ciuman Di Bawah Hujan. Kemudian sesegera mungkin menyampaikan kejujuran, bahwa novelnya memang dahsyat.

Ketika itu saya tuntas membacanya di awal November 2011. Pikir saya, momentum yang tepat untuk mengucapkan “selamat” terhadap novelnya itu saat bulan Desember, dimana bertepatan dengan seringnya turun hujan, kadang begitu deras dan kadang ada saja yang merindukan rintik-rintiknya, seperti dalam novel itu. Namun saya selalu mengurungkan niat, lantaran datang kabar dari sahabat-sahabatnya via SMS, bahwa Lan Fang sedang dirawat di rumah sakit. Bahwa Lan Fang sedang berjuang keras melawan penyakitnya. Mohon doa untuk kesembuhannya. Berkali-kali kabar SMS itu mengabari saya soal kesehatan Lan Fang.

Saya tidak pernah dapat membayangkan sebelumnya ketika kondisi kesehatannya dalam keadaan kritis, saya hanya berdoa untuk kesembuhannya, untuk segala kebaikannya, segeralah pulih Lan Fang dan menulislah lagi, batin saya berulangkali melangitkan harapan untuknya. Namun apalah daya, takdir mendatanginya lebih cepat. Atau tepatnya, mungkin kau sudah sangat siap untuk mesra dengan kematian, walau hanya di dalam keheningan. Dan sastrawan perempuan bernama lengkap Go Lan Fang kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 ini, harus meninggalkan saya dan kita semua untuk selama-lamanya. Meninggal dunia di rumah sakit Mounth Elizabeth Singapura, 25 Desember 2011. Selamat jalan Lan Fang, damailah selalu, Tuhan mengasihimu.

*)Kompasiana, 30 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan