-->

Kronik Toggle

13 Perempuan: Realis Cenderung Naturalistik, Humanis Realis Kadang Ironis

Dalam Rangka Hari Kunjung Perpustakaan 2011, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Banten telah menyelenggarakan Bedah Buku “13 Perempuan” pada Rabu, 16 November 2011 pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB. Acara bertempat di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten, Jl. Raya Serang – Jakarta, Km 4, Kota Serang, Banten, dihadiri oleh siswa dan guru sekolah, serta kalangan masyarakat umum.

Buku 13 Perempuan merupakan buku kumpulan cerpen (cerita pendek) karya Yonathan Rahardjo, yang diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia Bandung pada 2011 ini. Acara bedah buku sebagai salah satu rangkaian acara Hari Kunjung Perpustakaan 14-16 Nopember yang dimotori oleh aktivis sastra budaya Gito Waluyo ini, dimulai oleh pemimpin acara penyair Mahdiduri menampilkan pembacaan puisi oleh seniman Banten. Acara masuk inti bedah buku dengan presentasi para pembicara oleh Moderator Arif Sanjaya.

Sebagai pembicara pertama adalah Ahmadun Yosi Herfanda, penyair dan sastrawan nasional yang Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Redaktur Budaya Harian Republika Jakarta. Sebagai pembicara kedua Kurnia Effendi, cerpenis dan sastrawan nasional.

Realis Cenderung Naturalistik

Dalam presentasinya, yang juga tertuang dalam makalah yang berjudul “Mengapresiasi 13 Perempuan Yonathan, Catatan Ahmadun Yosi Herfanda”, Ahmadun memulai dengan pernyataannya, “Di tangan saya hari ini ada 13 cerpen karya Yonathan Rahardjo, 13 cerita pendek yang sebagian besar berbicara tentang perempuan. Karena itu, buku kumpulan cerpen yang merangkum ke-13 cerpen tersebut diberinya judul 13 Perempuan.”

Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, judul tersebut mengisyaratkan bahwa semua cerpen dalam buku ini berbicara tentang perempuan. Cerpen “Kekuatanku” (pernah dimuat di surat kabar harian Suara Karya, Red), misalnya, mengisahkan pedagang warung tenda pecel lele yang dua kali diusir dari tempatnya berjualan oleh seorang haji pemilik lahan tersebut. Atas bantuan seorang marinir, akhirnya dia mendapatkan tempat berjualan di seberang tempatnya semula berjualan. Ternyata laris, dan lahan milik seorang haji yang dia tinggalkan jadi sepi dan kosong melompong.

“Cerpen-cerpen Yonathan umumnya adalah cerpen realis yang cenderung naturalistik,” kata Ahmadun seraya memaparkan, cerpen realis adalah cerpen yang mengisahkan realitas sosial secara apa adanya, tanpa menyertakan rasa simpati maupun antipati, sehingga paparan persoalannya bersifat obyektif. Sebagai contoh, katanya, adalah cerpen “Kekuatanku” tadi, yang mengisahkan perselisihan antara Pak Haji dengan pedagang warung tenda secara apa adanya, sesuai yang sering terjadi di dalam realitas kehidupan nyata sehari-hari.

Selanjutnya menurut Ahmadun, beberapa cerpen Yonathan juga cenderung naturalistik, yakni melukiskan realitas yang buruk-buruk. Sebagai contoh adalah “Cerita Perempuan” (pernah dimuat di Koran Sindo, Red), yang mengisahkan sekelompok perempuan yang saling menceritakan kenangan mereka masing-masing. Salah satu tokoh perempuan menceritakan skandal cintanya dengan seorang pengarang. Kejutan akhirnya, pengarang dan perempuan itu diberitakan tewas berpelukan.

Ahmadun Yosi Herfanda pun menyatakan, “Keunggulan cerpen-cerpen Yonathan ada pada bagian yang ini, yakni cerpen-cerpen yang digarap dengan lebih serius, dengan citarasa sastrawi yang lebih terasa.” Misalnya, Ahmadun memberi contoh cerpen-cerpen Yonathan yang berjudul “Banjir Bik Sarti” (Jurnal Nasional, Red), “Korban Banjir” (Majalah Majemuk, Red), dan “Hubungan Abadi” (Majalah Hidup, Red). Menurut Ahmadun, cerpen-cerpen ini umumnya juga kental warna sosial tapi digarap tidak sebatas sketsa, namun dengan sentuhan sastra yang lebih terasa. Cerpen-cerpen pada bagian ini umumnya juga bercerita tentang perempuan, mengisahkan perempuan-perempuan yang ada di sekitar kehidupannya, sejak neneknya, emaknya, tetangganya, sampai perempuan-perempuan fiktif yang mampir ke dalam imajinasinya.

Yang paling menarik dari cerpen-cerpen Yonathan, lanjut Ahmadun, barangkali cerpen “Di Balik Gunung” (Sinar Harapan, Red) dan cerpen “Hubungan Abadi”. Hanya, katanya, judulnya yang kurang eye catching, tapi narasinya cukup indah dan sastrawi. Cerpen “Hubungan Abadi” mengisahkan seorang tokoh (karakter) yang sering dihampiri banjir. Pada air banjir yang kecoklatan ia biasa berkaca. Tapi, “Kali ini yang tampak pada air bukan wajahnya, namun wajah almarhum emaknya, dan saat itulah kenangan-kenangan indah bersama sang emak terputar kembali. Kehadiran wajah sang emak makin mengepungnya, tampak di mana-mana, dan menggelisahkannya. Bayangan wajah emak baru hilang ketika sang tokoh (aku, seorang perempuan) mendoakan kebaikan sang emak,” papar penyair Indonesia ini.

Cerpen lain Yonathan yang menurut Ahmadun Yosi Herfanda bagus adalah “Rumah Warisan”, yang pernah dimuat di Harian Republika yang diredakturi olehnya.

Humanis Realis Kadang Ironis

Mengutarakan pendapat di depan hadirin yang juga tertuang di dalam makalahnya yang berjudul “Penyuluh dalam Pembuluh, Pembicaraan mengenai Yonathan Rahardjo”, pembicara kedua cerpenis dan sastrawan Kurnia Effendi mengatakan , “Dalam bedah buku kumpulan cerpen 13 Perempuan, saya tidak menganalisis dari sisi literasi, agar berbagi sudut pandang dengan Ahmadun Yosi Herfanda.”

Menurut Kurnia Effendi, secara garis besar, tiga belas cerpen yang terkumpul dalam antologi tunggal itu mengusung tema humanis. Ada beberapa cerpen yang bercerita tentang banjir di Jakarta (lingkungan), tanah warisan (keluarga), dan cinta. Tidak ada tokoh superhero di sana, tidak ada pula dominasi karakter tertentu, semua hadir dalam suasana yang realistis. Dan kadang-kadang ironis.

Sebelumnya, Kurnia Effendi mengajak peserta acara, “Mari kita lirik sekilas karya-karyanya (Yonathan Rahardjo, Red). Baik yang memenangkan sayembara (novel Lanang, 2008), atau yang dihimpun dari yang terserak dalam banyak media cetak. Cukup mengesankan. Mengapa?” gugah Kurnia Effendi.

Ungkap sastrawan ini, “Yonathan mengirimkan dan mengumumkan cerpen-cerpennya ke pelbagai nama koran atau majalah atau jurnal atau semacam media berkala yang sebagian besar baru saya kenal namanya. Di mana media cetak itu terbit dan beredar? Ini semacam cara khas yang seolah menghindari pusat. Yonathan begitu peduli pada “daerah pinggiran” dan itu cukup terbaca dengan materi cerpen yang diusung: realitas yang umum terjadi di permukiman urban, persoalan yang muncul di tengah masyarakat yang berjarak (meskipun tinggal di kota besar, tetapi dalam wilayah yang kerap terendam banjir).”

Fakta yang lain, ungkap Kurnia Effendi, tulisan Yonathan yang realis itu juga mengisi ruang-ruang baca dalam khazanah relijius. Beberapa nama media itu menunjukkan segmen tertentu dengan khalayak pembaca tertentu. “Dari hulu yang sama, sastra, Yonathan mengalirkan buah pikirannya dari hasil memotret lingkungan kehidupannya ke ladang-ladang yang beragam. Saya rasa ia bahkan tak berambisi untuk menjadi ternama oleh sebuah karya, namun lebih menitikberatkan menjadi penyuluh dengan sikap-sikap sederhana. Elan semangatnya ditujukan untuk penyadaran bahwa di tengah masyarakat kita masih (entah sampai kapan) terdapat ketidakadilan, bencana politik, penindasan fisik dan psikis, dan rupa-rupa kejadian yang patut dicermati,” tegas cerpenis Indonesia ini.

Presentasi dua pembicara yang dimoderatori oleh pegiat sastra Arif Sanjaya itu berlanjut semarak dengan tanya jawab dengan begitu banyak pertanyaan oleh peserta

*)Kompasiana, 8 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan