-->

Tokoh Toggle

Subcomandante Marcos, Senjata Kami Kata-Kata

Kutipan wawancara antara Subcomandante Marcos dengan Gabriel García Márquez dan Roberto Pombo mewakili majalah Meksiko Revista Cambio. Wawancara utuh terbit pertama kali di Revista Cambio 26 Maret 2001. Subcomandante Marcos adalah juru bicara karismatis Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN) Meksiko yang mengangkat senjata pada 1 Januari 1994 untuk melawan terampasnya hak-hak masyarakat adat oleh proses globalisasi ekonomi neoliberal. Komunike-komunike EZLN dan tulisan-tulisan Marcos (1994-2004) serta artikel-artikel lain mengenai pemberontakan Zapatista telah saya terjemahkan dan terbit dalam tiga jilid buku: Bayang Tak Berwajah: Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (INSIST Press, 2003), Kata Adalah Senjata: Kumpulan Tulisan Terpilih 2001-2004 (Resist Book, 2005), Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan (Komunike-komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme) (Resist Book, 2005).

GGM : Masih punya waktu membaca di sela-sela kekacauan ini?
Marcos : Ya, sebab kalau tidak… apalagi yang mau kami perbuat? Dalam tentara-tentara gerilya yang ada sebelum kami, para prajuritnya mengisi waktu luang dengan mengelap senapan dan menyetok amunisi. Di sini, senjata kami adalah kata-kata, jadi kami harus bergantung pada gudang amunisi kami setiap saat.

GGM : Segala yang Anda ucapkan –dalam arti bentuk dan isi—menampilkan latar belakang sastra yang mendalam dari hidup Anda. Dari mana ini berasal dan bagaimana Anda mencapainya?
Marcos : Ini terkait dengan masa kecil saya. Dalam keluarga saya, kata-kata punya nilai yang sangat khusus. Kami mengenal dunia lewat bahasa. Kami tidak belajar membaca di sekolahan melainkan dengan membaca koran. Ibu dan ayah saya menyuruh kami membaca buku-buku yang secara cepat memperkenalkan kami dengan hal-hal baru. Entah bagaimana, kami mencerap sebuah kesadaran berbahasa yang bukan diperuntukkan sebagai cara berkomunikasi satu sama lain, tapi sebagai cara untuk membangun sesuatu. Seakan ia lebih merupakan kenikmatan ketimbang kewajiban atau penugasan. Ketika masa perjuangan bawah tanah tiba, kata-kata tidaklah dinilai tinggi oleh kaum borjuis intelektual. Ia diturunkan ke tingkat sekunder. Saat masuk dalam komunitas-komunitas adatlah kata-kata menghantam kami seperti ketapel. Anda sadar bahwa kata-kata ternyata gagal untuk mengekspresikan soal-soal tertentu, dan ini mengharuskan Anda untuk melatih kemampuan berbahasa Anda, mengulang-ulangi kata tertentu demi mempersenjatai dan melucuti senjata mereka.

GGM : Bukannya sebaliknya? Bukannya kontrol atas bahasalah yang mengizinkan adanya tahap baru perjuangan ini?
Marcos : Ibarat blender. Anda tak tahu apa yang dimasukkan terlebih dulu ke sana, tapi hasil akhir yang Anda dapat adalah koktail.

GGM : Boleh kami tanya tentang keluarga ini?
Marcos : Keluarga kelas menengah. Ayah saya, sang kepala keluarga, adalah seorang guru desa pada masa Cardenas. Saat itu, menurut ceritanya, mereka memotongi telinga guru-guru karena menjadi komunis. Ibu saya, yang juga guru desa, akhirnya pindah dan kami menjadi keluarga kelas menengah, maksud saya, sebuah keluarga tanpa kesulitan-kesulitan yang berarti. Semua ini terjadi di daerah udik, di mana cakrawala budaya hanya sebatas lembar-lembar masyarakat surat kabar lokal. Dunia di luarnya, atau kota-kota besar, Mexico City, merupakan daya pikat menakjubkan karena toko-toko bukunya. Akhirnya, ada juga pasar buku yang terselenggara di udik itu, dan dari situ kami bisa mendapatkan buku-buku. García Márquez, Fuentes, Monsiváis, dan Vargas Llosa –terlepas dari cara berpikirnya—untuk menyebut beberapa. Mereka semua datang melalui orang tua saya. Mereka menyuruh kami membacanya. Seratus Tahun Kesunyian bermaksud menjelaskan bagaimana rupa pedalaman udik tersebut di masa-masa itu, dan Matinya Artemio Cruz bermaksud menjelaskan apa yang terjadi dengan Revolusi. Días de guardar menjelaskan apa yang terjadi dengan kelas menengah. Untuk beberapa tahap, meski telanjang, potret kami tergambar dalam Kota dan Sekawanan Anjing. Segala sesuatunya ada di situ. Kami tiba melihat dunia dengan cara yang sama kami tiba mengenal sastra. Dan menurut saya, hal inilah yang membentuk kami. Kami tidak mengenal dunia lewat siaran berita, tapi lewat sebuah novel, esai atau sepotong sajak. Ini membuat kami benar-benar berbeda. Inilah cermin yang diberikan kedua orang tua kami, tatkala orang lain menggunakan media massa sebagai cermin atau hanya sebagai kaca buram hingga tak seorang pun mengerti apa yang sedang terjadi.

GGM : Di mana letak Don Quixote di tengah semua bacaan ini?
Marcos : Mereka memberi saya sebuah buku indah, bersampul tebal. Don Quixote de la Mancha. Saya pernah membacanya sebelum itu, tapi dalam edisi bacaan anak. Buku itu mahal, hadiah sangat spesial yang saya nanti-nantikan. Shakespeare tiba setelahnya. Tapi kalau boleh saya urutkan tibanya buku-buku itu, pertamanya adalah “boom” sastra Amerika Latin, lalu Cervantes, lalu Garcia Lorca, lalu ada suatu masa yang semuanya serba puisi. Maka, Anda [menunjuk ke arah Márquez ] ikut bertanggungjawab atas ini semua.

GGM : Apakah eksistensialis dan Sartre ikut-ikutan dalam soal ini?
Marcos : Tidak. Kami tiba terlambat untuk itu. Khususnya eksistensialis, dan sebelumnya, sastra revolusioner, kami tiba saat sudah begitu “terbentuk”—seperti kata kaum ortodoks. Waktu kami tiba pada Marx dan Engels, kami telah begitu teracuni oleh sarkasme dan humor kesusastraan.

GGM : Tak ada bacaan teori politik?
Marcos : Pada tahap pertama, tidak. Dari mengeja ABC kami beranjak ke sastra dan setelahnya baru teks-teks politik dan teoritis saat kami mulai menjelang SMA.

GGM : Apakah teman-teman sekolah Anda mengira bahwa Anda adalah, atau bisa jadi, komunis?
Marcos : Tidak, saya kira tidak. Paling banter yang pernah mereka ucapkan soal saya adalah saya ini semu merah, merah di luar, putih di dalam.

GGM : Apa yang Anda baca sekarang?
Marcos : Don Quixote selalu ada di sisi ranjang saya, dan seperti biasa saya selalu menenteng-nenteng Romancero Gitano Garcia Lorca. Don Quixote adalah buku teori politik terbaik yang pernah ada, disusul Hamlet dan Macbeth. Tak ada cara yang lebih baik untuk memahami tragedi dan komedi sistem perpolitikan Meksiko selain lewat Hamlet, Macbeth, dan Don Quixote. Mereka jauh lebih baik ketimbang kolom analisa politik manapun.

GGM : Anda menulis tangan atau dengan komputer?
Marcos : Komputer. Hanya kalau sedang berbaris saya menulis dengan tangan karena saya tak punya waktu bekerja. Saya menulis sepotong draft kasar, disusul yang berikutnya dan berikutnya lagi. Anda anggap saya bergurau, tapi kurang lebih ada tujuh draft saat saya selesai.

GGM : Buku apa yang sedang Anda garap?
Marcos : Apa yang sedang saya coba tuliskan ini absurd, yaitu upaya untuk menjelaskan diri kami pada diri kami sendiri, yang hampir mustahil. Kami harus sadar bahwa kami ini sebuah paradoks, karena sepasukan tentara revolusioner tidak berupaya merebut kekuasaan, tentara revolusioner tidak berperang, kalau memang itu tugasnya… Semua paradoks telah kami jumpai: bahwa kami telah tumbuh dan menjadi kuat dalam sebuah sektor yang benar-benar terasing dari kanal-kanal kebudayaan.

GGM : Bila tiap orang tahu siapa Anda, kenapa pakai topeng ski?
Marcos : Sedikit sisa-sisa kegenitan. Mereka tak tahu siapa saya dan mereka tak peduli. Yang terjadi di sini adalah: apakah Subcomandante Marcos itu sekarang, bukan siapa ia dulunya.

Sumber: Blog Sastraalibi.blogspot.com, 22 Agustinus 2011. Blog ini diasuh Ronny Agustinus.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan