-->

Resensi Toggle

Sekaleng Pasir dan Cerita Dua Layang-layang | Mom | Rumah Cinta dari Wafer (Rendra Narendra)

Teks-teks monolog ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Sabtu, 12 November 2011, jam 16.00 – 18.00. di Angkringan buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

Peristiwa Monolog Rendra Narendra

Teks-teks monolog ini ditulis tidak hanya di depan komputer dengan meraba-meraba adegan, tetapi setelah diadakan latihan terlebih dahulu dan setiap dialognya direkam lalu ditulis ulang dan mengalami beberapa perubahan. “naskahnya akan selesai kalo selesai dipentaskan,” begitu aku penulisnya.

Dengan demikian kita bisa membayangkan bahwa teks-teks monolog ini akan selalu hidup di kepala penulisnya. Setiap menemukan hal baru, teks-teks ini akan berubah sebelum ia menemukan panggung yang tepat baginya.

Teks-teks monolog tersebut masing-masing berjudul Sekaleng Pasir dan Cerita Dua Layang-layang, Mom, dan Rumah Cinta dari Wafer.

Teks pertama dengan judul Sekaleng Pasir dan Cerita Dua Layang-layang membawa kita pada ambiguitas makna. Kalau saja penulis tidak memberikan judul “Cerita Dua Layang-layang”, kita akan cukup sulit memahami siapakah yang sebenarnya sedang berdialog itu.

Dialog-dialog yang dibangun menggunakan logika manusia, yang bahkan sulit untuk dipahami dalam sekali baca. Mula-mula kita akan mengira, bahwa yang sedang berdialog itu adalah dua laki-perempuan berpacaran yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama.

Sementara di sisi lain, dialog kemudian diarahkan ke logika layang-layang di mana ia ingin diterbangkan menuju senja. Lalu kemudian kembali lagi pada lagika manusia yang menginginkan berciuman dan bercinta dengan kekasihnya. Kalau kita membayangkan layang-layang berciuman, salah satu di antara mereka kemudian akan putus dari benang yang mengikatnya. Apakah demikian yang diharapkan layang-layang itu?

Yang menarik di sini adalah hadirnya sistem waktu. Waktu menjadi batas bagi apa dan siapa saja. Dialog yang satu ingin menafikan waktu, sementara yang lain memberikan batasan bahwa kebersamaan mereka berakhir ketika senja. Tak ada yang bisa mengalahkan waktu, tapi paling tidak kita bisa menafikannya. Lalu saya membayangkan kehidupan penulis dengan kekasihnya, jam malam sungguh mengganggu!

Teks yang kedua tak jelas judulnya. Namun “Mom” mengawali pembicaraan teks. Maka kita beri saja dia judul Mom. Mom, mami, mama, atau ibu yang lebih akrab ditelinga kita. Melihat tipologi dan diksinya¸ kita akan diingatkan dengan bentuk puisi. Ya, yang berjudul Mom lebih mirip dengan puisi. Sama dengan teks pertama di atas, cukup sulit dipahami dalam sekali baca.

Kadang-kadang, kalimat-kalimatnya seperti teks samping yang menjelas adegan tetapi tidak memiliki pembedaaan dengan kalimat-kalimat yang harus didialogkan. Meski demikian, akhirnya terjelaskan juga pada paragraf-paragraf akhir.

Seorang anak membeli sebatang korek api dan menyalakannya di bawah selangkangan perempuan yang sudah cukup tua. Sekali beli ia tak puas lalu ia berkata kepada neneknya, “Vagina itu gelap ya, Nek. Aku takut!”

Si nenek lalu marah dan memukuli pantat anak itu dengan lidi yang diikat untuk mengusir lalat. Bukan jera yang menempel di benak anak itu, melainkan justru rasa penasaran. Ia kembali membeli sebatang korek dan ingin melihatnya lebih jelas. Kemudian ia berulang-ulang melakukannya.

Saat itulah, anak itu merasakan sensasi masokistik atau sadomasokisme.

Masokistik atau sadomasokisme saat ini tidak hanya dipandang sebagai suatu penyimpangan, melainkan dapat dilihat sebagai preferensi atau variasi seksual, gaya hidup, metode pencapaian puncak spiritualitas, pelepas ketegangan dan bahkan, tak mesti melibatkan elemen seksual.

Dalam konteks ini, masokisme adalah penyimpangan seksual di mana seseorang punya kebutuhan untuk mengalami (melibatkan tindakan nyata yang menyebabkan) rasa sakit fisik dan psikologis untuk memperoleh kepuasan seksual dan atau membangkitkan gairah seksual.

Ya. Pada kesempatan yang lain, anak itu kemudian menyadari bahwa yang ia lihat di antara selangkangan itu adalah jalan yang ia tempuh dalam mengenal dunia, jalannya sendiri. Vagina yang ia liat itu ternyata milik ibunya.

Teks ketiga, yang berjudul Rumah Cinta dari Wafer lebih fantastis, yang sebenarnya kisahnya biasa-biasanya. Pilihan diksi dan cara mengimajinasikan membuatnya lebih hidup dari kisah-kisah porno yang mudah kita jumpai saat ini.

Begitulah bercinta. Bagitulah laki-perempuan saling menikmati tubuh lawannya. Saya kurang mampu menuliskannya sebagaimana Rendra Narendra menuliskannya dengan begitu porno.

Tapi yang menarik dari teks ini adalah perlawanan terhadap kehendak Tuhan. Dalam setiap hal mungkin menjadi kehendak Tuhan, namun dalam hal bercinta, itu kehendak manusia. “Terima kasih tuhan, atas segala yang tak menjadi kehendakmu !!” begitulah Rendra menutup tulisannya.

Rendra Bagus Pamungkas. Lahir di Kediri, 21 Maret 1984. Alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini aktif sebagai aktor lepas, pekerja seni dan sedang menyenangi bermain musik hip hop.

1 Comment

scar_let - 28. Agu, 2012 -

saya sungguh penasaran dengan cuplikan monolog yang anda postkan.. sudah pentaskah? boleh di upload naskah”nya? 😀

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan