-->

Lainnya Toggle

Kasus Tintin di Indonesia

Seno Gumira Ajidarma

Realisme adalah semacam aliran kepercayaan, bahwa kebenaran itu mungkin dicapai, seperti yang terlihat kasatmata dalam perjuangan budaya visual untuk menggapainya: sejak lukisan naturalisme Finlandia dari abad XV (Myers, 1965: 218-9) sampai usaha keras teknologi fotografi serta sinematografi hari ini.

Namun, meski konsep realisme telah digugurkan pendekatan antirealis, yang menegaskan bahwa pencapaian termungkin hanyalah representasi realitas, dan bukan realitas itu sendiri, tak berarti realisme mati kutu. Sebaliknya, efek-realitas masih merupakan permainan yang dibutuhkan manusia, seperti tampak pada kasus mampirnya Tintin di Indonesia dalam dua terjemahan dari komik yang judul aslinya Vol 714 pour Sydney (1968). Terjemahan Penerbit Indira adalah Penerbangan 714 (tanpa nama penerjemah, 1975) dan terjemahan Penerbit Gramedia Pustaka Utama adalah Penerbangan 714 ke Sydney (Donna Widjajanto, 2008).

Seperti diketahui, dalam hal Herge, penggubah komik seri Tintin, pemahaman atas permainan itu diwujudkan bagai suatu parodi bagi realisme: dalam cara menggambar yang menjadi pelopor genre garis-jelas (ligne claire/clear line), Herge menggambarkan kembali lingkungan visual ke mana pun Tintin pergi secara rinci, dengan ketepatan (baca: efek-realitas) berdasarkan penelitian atas lokasi yang disebutkan, tetapi penggambaran tokoh-tokoh manusianya justru karikatural. Dengan kata lain, latar visual komik Tintin adalah realisme garis-jelas, tetapi visualisasi tokoh-tokohnya seperti kartun.

Kombinasi pada tataran dua dimensi ini, khususnya pada wajah Tintin, merupakan pencapaian Herge yang memusingkan Steven Spielberg dan Peter Jackson, ketika berusaha memindahkannya ke dalam penggambaran tiga dimensional, yang sebagai gambar-idoep berjudul The Adventures of Tintin tentunya bergerak pula. Lev Grossman dalam majalah Time edisi 31 Oktober 2011 melaporkan, setidaknya dua atau tiga tahun diperlukan untuk menggarap berbagai nuansa wajah Tintin.

Ini sekadar bukti berkobarnya semangat realisme, yang menarik sebagai suatu kasus berkonteks Indonesia, ketika Tintin bersama Kapten Haddock dan Profesor Calculus dalam episode Vol 714 pour Sydney mendarat untuk transit di Pulau Jawa saat menuju Australia. Apa kasusnya?

Antara Kemayoran dan Cengkareng

Baiklah diperhatikan, bahwa jika dalam terjemahan Gramedia dituliskan bahwa Tintin dan kawan-kawannya mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta, dan demikian pula—menurut pendiri dan moderator Komunitas Tintin Indonesia (Tintin_Id) Surjorimba Suroto—dalam terjemahan berbagai bahasa di seluruh dunia (tetapi ejaan lama: Kemajoran, Djakarta); maka dalam terjemahan Indira bukan hanya bahasanya yang dialihkan, melainkan wahananya secara keseluruhan, sehingga Kemayoran itu semula berubah menjadi Halim Perdanakusuma, lantas berubah lagi menjadi Cengkareng (bukan Soekarno-Hatta). Bagi pembaca non-Indonesia, apalagi tak tahu Indonesia, tiada masalah membaca nama Kemayoran atau apa pun nama bandaranya. Namun, bagi pembaca di Indonesia, dalam konteks realisme, terdapat suatu dilema.

Sejauh saya periksa buku Michael Farr, Tintin: The Complete Companion (2001), yang berisi bukti-bukti bahwa Herge meneliti segenap aspek visual lokasi setempat sebelum menggambarkannya, tidaklah saya yakini bahwa Herge pernah melihat foto gambar Kemayoran. Namun, itu bukanlah berarti Herge menggambarkannya tanpa orientasi sama sekali. Halaman pertama komik Vol 714 pour Sydney memperlihatkan pohon-pohon dan rumah di kejauhan ketika Tintin turun dari pesawat, yang bisa diterima sebagai lingkungan bandara negeri tropis, dan terdapatnya seorang penumpang mengenakan peci cukuplah membuktikan bahwa terdapat semacam penelitian oleh Herge, sekali lagi agar terdapat suatu efek-realitas, sehingga Kemayoran diterima pembaca sebagai Kemayoran.

Dalam sudut pandang realisme, berarti mengganti nama Kemayoran dengan Halim Perdanakusuma atau Cengkareng adalah keliru, karena bahkan Herge sendiri berorientasi hanya kepada Kemayoran, yang untunglah tidak menghasilkan gambar yang tak bisa tidak adalah Kemayoran. Namun, adalah sudut pandang realisme pula yang membuat para penerjemah dalam Penerbangan 714 mengalihwahanakan Kemayoran menjadi Halim Perdanakusuma dan Cengkareng, tentu karena sebagai pihak Indonesia beranggapan bahwa efek-realitasnya tidak akan meyakinkan jika bandaranya tetap Kemayoran.

Jika konsekuensi pilihan ini diteruskan, dalam cetak ulang berikutnya Tintin tentu tak bisa menggunakan pesawat Qantas yang baru saja tutup? Nah, apakah terjemahan bahasa Inggris yang terbit di Australia kelak juga harus mengganti Qantas dengan maskapai penerbangan Australia lain? Tergantung kepada argumen macam apa yang lebih bisa diterima para pengalihwahana, dalam konteks wacana dominan pembaca setempat. Nah, betapa rumitnya artikulasi ”kebenaran” itu bukan? Memang pergantian nama cukup ”lazim” dalam alih wahana komik seri Tintin, begitu rupa sehingga pembaca Indonesia bahkan menjadi terasing ketika dikembalikan kepada penamaan Herge, seperti terjadi dengan Penerbangan 714 ke Sydney—tetapi kasus Kemayoran menjadi Cengkareng bukanlah ganti nama, melainkan tempat, ketika gambar tempatnya sama sekali tak berubah.

Tiada kebenaran tunggal

Dengan demikian, kasus ini menjelaskan pula bahwa suatu wacana menjadi hegemonik atau terpinggirkan, terproses oleh berbagai faktor dalam konteks. Dalam konteks wacana pembaca Indonesia, jelas Bandara Cengkareng/Halim Perdanakusuma di dalam komik merupakan wacana dominan dalam hubungan intertekstual dengan Bandara Soekarno-Hatta/Halim Perdanakusuma di luar komik, sehingga cenderung tak akan dipertanyakan. Dalam konteks ”keaslian dan kemurnian”, kesetiaan kepada karya Herge, yang memang menghadirkan naratif gambar/kata-kata di dalam komik dengan rujukan ruang-waktu tertentu di luar komik, bersama dengan semua terjemahan ke bahasa-bahasa lain, tentu Bandara Kemayoran merupakan wacana yang dominan pula.

Sejauh posisi realisme telah diketahui, tentu tidak proporsional menentukan mana yang lebih benar. Bagi catatan ini, cukuplah jika terpahamkan: dari posisi Indonesia tersaksikan dilema realisme, sehingga tidak termungkinkan adanya kebenaran tunggal. Di satu sisi terjanjikan betapa realitas tidak akan pernah diketahui, sekaligus tersepakati bahwa representasi realitas itu tidak dapat dikuasai wacana tertentu, termasuk mazhab realisme itu sendiri.

SENO GUMIRA AJIDARMAWartawan
*)Kompas, 20 November 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan