-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Ketiga Nopember 2011

Pram MelawanPram Melawan!

Karya P Hasudungan Sirait, Rin Hidrayati P, dan Rheinhardt

Resensi ditulis Nezar Patria

Dimuat KOMPAS, 20 Nopember 2011

Buku ini menarik karena seperti menghidupkan kembali Pram dan pikirannya. Semangat dan sifat keras kepalanya terhadap kekuasaan yang menindas terasa dalam setiap topik percakapan. Dibagi dalam tujuh bab, Cerita I Sampai Cerita VII, beragam soal di kupas. Selain ihwal mistik dan seks, Pram juga bicara proses kreatifnya sebagai pengarang, tentang PKI, Lekra, Aceh, Papua, presiden, sastra, terorisme, sejarah, film dan sebagainya. Model Tanya jawab sengaja dipilih agar tak merusak gaya khas Pram yang berbicara dengan diksi dan alur yang khas.

Mimpi Sejuta Dolar

Karya Alberthiene Endah

Resensi ditulis Fitria Zulfah

Dimuat KORAN TEMPO, 20 September 2011

Buku yang ditulis Alberthiene Endah ini sungguh mengisahkan perjuangan yang inspiratif. Sebab, buku ini menuturkan kisah tentang seorang mahasiswi berkantong pas-pasan yang kemudian bisa meraih sukses di Singapura. Tak salah jika buku ini meniupkan spirit nyata bahwa usia muda tidak menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan.

Cracking Zone

Karya Rhenald Kasali

Resensi ditulis Ahan Syahrul Arifin

Dimuat JAWA POS, 20 Nopember 2011

Buku ini memahamkan kita akan sebuah perubahan yang terjadi, memetakannya dengan teliti, lalu menarik kita bermetafosis menjadi aktor bagi perubahan itu sendiri. Berubah bentuk menjadi seorang cracker, yakni seorang yang mengubah wajah dunia. Dia bukan seorang pimpinan yang hanya melakukan transformasi. Tapi, dia bekerja lebih keras, cerdas, dan beresiko tinggi mengubah tradisi persaingan.

Muhammadiyah Abad Kedua

Karya Dr Haedar Nashir

Resensi ditulis Benni setiawan

Dimuat JAWA POS, 20 Nopember 2011

Untuk transformasi dibidang pemikiran, pendidikan, kesehatan, ekonomi serta usaha-usaha lain yang bersifat unggul dan terobosan, Muhammadiyah dituntut untuk terus berkiprah untuk lebih inovatif . Pembaruan gelombang kedua menjadi keniscayaan bagi Muhammadiyah dalam memasuki fase itu. Memasuki abad kedua, Muhammadiyah akan  sarat masalah dan tantangan. Tapi dengan prinsip dan orientasi gerakannya yang kukuh, Muhammadiyah sangat berpeluang untuk berhasil.

Rasa Cinta (dan Pikir Cinta)

Karya R Valentina Sagala

Resensi ditulis RR Masyithah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 20 Nopember 2011

Buku ini tidak sekadar menulis dengan kritis mengenai keadilan bagi perempuan. Namun buku ini juga memuat puisi karya penulis dan isi buku ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Buku ini merupakan pidato kebudaayan Valentina untuk Peringatan Hari Perempuan Internasional 2011.

Membongkar Kedok Iblis

Karya Jekoi Silitonga

Resensi ditulis Ronny SV

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 20 Nopember 2011

Buku ini mencoba memberikan Warning kepada manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling luhur, agar waspada dan tak terlena pada bujukan dan tipu muslihat iblis. Lewat paparan dan gaya sederhana dan mengena, penulis buku ini, tak cuma bicara teori, namun juga dengan logika, dan pengalaman untuk membongkar modus operandi tipu daya setan.

Busyro Muqoddas: Penyuara Nurani Keadilan

Karya Elza Faiz dan Nur Agus Susanto

Resensi ditulis Subroto

Dimuat REPUBLIKA, 20 Nopember 2011

Buku ini menggambarkan siapa sebenarnya alumnus doktor Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini. Melalui buku ini, kita bisa melihat Busyro adalah orang yang teguh memegang amanah, menjalin silaturahim, mandiri, memiliki karakter berhati-hati, dan sangat benci terhadap berbagai bentuk ketidakadilan. Kepribadian yang dimiliki Busyro itu tidak datang begitu saja, tetapi didapat dari didikan orang tua yang menanamkan sikap hidup sederhana, ringan tangan, dan peduli terhadap sesama.

Nyanyian Penggali Kubur

Karya Gunawan Budi Susanto

Resensi ditulis Munawir Azis

Dimuat SUARA MERDEKA, 20 Nopember 2011

September 1965 merupakan momentum dimana Indonesia mengalami kesenyapan, sekaligus kepenatan. Kesenyapan yang memungkinkan ada jutaan suara dibungkam, ribuan nyawa dicabut, tubuh dibunuh, dan darah muncrat dalam kegelapan malam. Melalui buku ini, penulis hendak memanggungkan kisah-kisah sunyi itu dalam ruang public keindonesiaan kita yang bergerak dengan masa lalu, namun masih terbebani kegelapan sejarah.kisah-kisah gelap tentang tragedi September 1965 dan efeknya pada masyrakat pinggiran.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan