-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kelima Oktober 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Menggali Bara, Menemu Bahasa; Bahasa Tansi, Bahasa Kreol Buruh dari Sawahlunto

Karya Elsa Putri E Syafril

Resensi ditulis Ricky A Manik

Dimuat KOMPAS, 30 Oktober 2011

Untuk melihat kemunculan bahasa pada masyarakat Sawahlunto Elsa Putri E Syafril mengangkat deskripsi tentang sejarah industri tambang batu bara diwilayah ini. Elsa mengatakan, sejarah masyarakat Sawahlunto dimulai sejak beropersinya Tambang Batubara Ombilin (TBO) dan arus migrasi orang-orang dari berbagai daerah ke Sumatra Barat.  Sejarah tentang masyarakat Sawahlunto menguatkan asumsi Elsa  tentang keberadaan sebuah bahasa yang tercipta dari suatu kondisi perburuan batubara yang membetuk struktur sosial. Golongan masyarakat ini memiliki kemampuan berbahasa yang saling berbeda.

Strategi Hideyoshi, Another Story of The Swordless Samurai

Karya Tim Clark dan Mark Cunnin gham

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat KORAN TEMPO, 30 Oktober 2011

Toyotomi Hideyoshi, mantan gelandangan yang berperawakan seperti monyet dan tidak pandai ilmu bela diri, ternyata dapat menjadi pemimpin tertinggi jepang yang legendaris. Sebagai seorang pemimpin, Hideyoshi selalu menyambut hangat dan ramah kepada setiap tamu yang datang, sekali pun ia petani paling miskin. Inilah kesadaran jiwa yang jarang dimiliki seorang  pemimpin. Banyak pemimpin enggan menyapa rakyatnya dan lupa akan janji-janjinya.

Aku Mendakwa Hamka Plagiat; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964

Karya Muhidin M. Dahlan

Resensi ditulis M. Lubabun Ni’am ASShibbamal S

Dimuat JAWA POS, 30 Oktober 2011

Ini bukan skenario yang mengherankan. Sebab pada dasarnya, skandal plagiasi satu ini meski diselesaikan bukan oleh mahkamah sastra kita, tetapi oleh birokrasi dan rezim yang kemudian hari tak hanya menutup skandal ini, tapi juga panggung gerakan kiri Indonesia. Dan, Gus Muh menulis chronic sastra Indonesia ini secara chronicle sehingga plagiasi Hamka adalah satu persoalan lain, yang sekaligus menjadi konteks mengenai seteru idea sastra untuk sastra dan sastra untuk rakyat, adalah siapakah yang memulai pegang arit dan membabat habis roman berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Orang Kristen Naik Haji

Karya Augustus Ralli

Resensi ditulis N. Mursidi

Dimuat JAWA POS, 30 Oktober 2011

Berdasarkan catatan sejarah, sebagaimana diceritakan dalam buku ini, ada beberapa petualangan Kristen yang bergerak hatinya untuk pergi ke Tanah Suci dan menjalankan ritual haji. Ketertarikan mereka memang dipicu penyebab yang beragam. Pesona Tanah Suci seakan menjadi daya tarik tersendiri.

Mempertemukan Dua Hulu; Pelajaran Desentralisasi Fiskal dan Penanggulangan Kemiskinan dari Gunung Kidul

Karya Abdur Rozaki dkk

Resensi ditulis Hazwan Iskandar Jaya

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 30 Oktober 2011

Buku ini menunjukan bahwa asset Gunungkidul, baik secara natural (sumber daya alam), pemerintahan pengambil kebijakan (eksekutif dan legislative), secara modal sosial (guyub dan gotong royong) masyarakatnya merupakan sebuah keniscayaan untuk mengentaskan kemiskinan. Tinggal, bagaimana pemerintah, pusat dan daerah, secara instusional mampu memetakan potensi yang dimiliki, sehingga aliran anggaran itu tepat guna dan tepat sasaran.

Gurunya Manusia

Karya Munif Chatib

Resensi ditulis Ah sujai

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 30 Oktober 2011

Dalam buku ini, Munif Chatib lebih menekankan pada aspek potensi guru. Dengan kata lain, profesionalitas yang harus dimiliki guru, semangat belajar, memahami kondisi siswa, pengajaran yang menyenangkan, memandang setiap murid sebagai juara dan lainnya. Bagi munif, guru haruslah ditempati oleh orang yang benar-benar cerdas.

Dari Kampung ke Kampung

Karya Tim Suara Perempuan

Resensi Ditulis Susie Evidie Y

Dimuat REPUBLIKA, 30 Oktober 2011

Secara garis besarnya, buku ini mengungkap potret sesungguhnya kehidupan terkini masyarakat di Papua. Pembaca akan disuguhi tulisan menarik lengkap dengan foto-fotonya. Disitu tergambarkan bahwa pembangunan fisik Papua mengalami perubahan. Sekolah, puskesmas, pasar, rumah guru yang dibangun secara permanen. Namun banyak ditemukan sekolah, ada muridnya, tetapi tidak ada gurunya. Tidak sedikit pelajar usia SD, SMP, bahkan SMA yang belum bisa berhitung dan membaca. Sisi lain yang dikupas di buku ini mengenai kebiasaan, adat istiadat setempat, serta peristiwa menarik yang hanya terjadi di Papua.

Haji Backpacker 2; Rp 12 Juta Naik Haji

Karya H. Aguk Irawan MN

Resensi ditulis Satmoko Budi Santoso

Dimuat SUARA MERDEKA, 30 Oktober 2011

Buku Haji Backpacker 2; Rp 12 Juta Naik Haji penulis memberikan pemahaman bahwa naik haji tidak harus selalu mahal. Semahal yang saat ini sering dirasakan banyak orang. Sudut pandang dalam penulisan buku ini tidak hanya membidik ibadah formal hajinya saja. Ada penggambaran tempat-tempat tertentu yang cukup khas. Misalnya, Mathaf (museum Masjidil Haram), pasar, Laben Jamal (pemerasan susu unta) dan Pabrik Kiswah (tenun Kiswah Kabah). Meski terkesan ditulis dalam sudut pandang populer, namun buku ini tetap subtantif mengedepankan aspek ibadah sebagai tujuan utama.

Mimpi Sejuta Dolar

Karya Alberthiene Endah | Merry Riana

Resensi ditulis Tribun Jogja

Dimuat TRIBUN JOGJA, 30 Oktober 2011

Buku biografi tentang Merry Riana, secara lengkap menceritakan perjuangan seorang Merry Riana untuk tetap bertahan hidup sewaktu kuliah di NTU singapura. Tiap hari perutnya hanya diisi dengan mi instan dan roti tawar. Biaya kuliah dari dana pinjaman Universitas tetapi tidak bisa mencukupi biaya hidup paling dasar yaitu makan. Menjadi sales asuransi dan produk keuangan, mengantarkan Merry Riana menjadi seorang miliuner hingga membuka lembaga keuangan sendiri.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan