-->

Lainnya Toggle

Indolish

Oleh Wahyudi Akmaliah Muhammad

Tiba-tiba saya kepikiran mengenai buku-buku terbitan Indonesia yang ditulis dengan judul bahasa Inggris. Selintas sepertinya tidak menjadi persoalan, tokh bahasa tersebut sudah menjadi bahasa global yang digunakan keseharian masyarakat dunia. Tapi, mengapa hanya sekedar judulnya saja yang menggunakan bahasa Inggris? Isi di dalam bukunya sendiri malah menggunakan bahasa Indonesia. Sejumlah pertanyaan pun muncul dalam diri saya terkait dengan judul itu, dan ingin rasanya saya buat riset kecil-kecilan dengan menanyakan kepada para penulis dan juga penerbit yang menggunakan judul bahasa Inggris dalam karya ataupun terbitannya.

  1. Apakah dengan memberikan judul dengan bahasa Inggris tersebut penulis merasa lebih sesuai dengan isi di dalam karya tersebut?
  2. Ataukah sekedar ingin menunjukan sikap maskulinatas bahwa dengan menggunakan judul bahasa Inggris seorang penulis bisa dianggap lebih intelektual untuk karya-karya akademik atau lebih gaul untuk karya-karya populer?
  3. Jangan-jangan pemberian judul tersebut hanya bagian dari strategi penjualan dari penerbit saja untuk menggaet pembaca agar tertarik terhadap buku tersebut?
  4. Atau memang ada alasan lain sehingga penulis ataupun penerbit menggunakan bahasa tersebut dalam judul karya atau terbitannya.

Untuk pertanyaan pertama, keraguan muncul dalam diri saya, jika merasa pas dengan isi dalam karya buku tersebut, mengapa tidak menggunakan bahasa Inggris saja secara keseluruhan. Selain sebagai proses belajar dan pembiasaan untuk pembaca mengenal bacaan-bacaan asing yang ditulis oleh orang Indonesia, dengan penggunaan bahasa tersebut juga bisa mempopulerkan gagasan penulis kepada khayalak lebih luas, tidak melulu orang Indonesia dan ataupun orang non Indonesia yang memiliki ketertarikan dengan Indonesia, baik dari segi budaya, agama, politik, dan ataupun pariwisata.

Terkait dengan pertanyaan kedua, saya merasa apa yang ditulis dengan judul bahasa Inggris seakan menunjukkan sikap maskulinitas agar ia terlihat gagah sebagai seorang intektual yang menerbitkan buku akademik. Barangkali ini hanya perasaan saya saja. Lagi-lagi entah mengapa saya benar-benar merasa itu sekedar menunjukkan kegenitan intelektual. Padahal, ada kosa kata bahasa Indonesia yang bisa mewakilkan judul dari buku tersebut. Di sini, satu sisi ia ingin menunjukkan sikap intelektual, namun, di sisi lain ia, secara tidak langsung, telah terjajah dengan menggunakan bahasa Inggris yang dianggap ”kunci” untuk bergaul dalam tataran internasional. Kalau buku itu terjemahan dari bahasa Inggris, bagi saya bukan satu persoalan. Ini karena, ada kalimat dalam bahasa tersebut yang memang tidak pas untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kalaupun diterjemahkan biasanya hanya sub-judulnya.

Sementara penggunaan judul dalam bahasa Inggris untuk buku-buku populer semacam sastra, motivasi, dan ataupun biografi inspiratif, bagi saya, barangkali, itu merupakan gejala dari meleburnya batas-batas teritorial antara satu negara dengan negara yang lain sehingga setiap orang dari tiap-tiap negara merasa menjadi bagian dari warga dunia seiring dengan kehadiran internet, bombardir produk Amerika Serikat, dan kemudahan mobilitas antara satu negara dengan negara yang lain. Satu dampak dari itu adalah penggunaan bahasa Inggris yang ditelan bulat-bulat ke dalam identitas orang Indonesia tanpa menyeleksi apakah ini bagian dari bahasa ibu atau bukan. Ringkasnya, kondisi ini biasa disebut dengan glokalisasi, yaitu penyesuaian produk global yang dibahasakan lewat bahasa ibu seseorang sehingga menciptakan hibriditas bahasa. Bagi penulis buku, dampak yang muncul adalah judul-judulnya yang berbahasa Inggris. Hal ini menjadi persoalan kalau terus menggejala dalam dunia perbukuan, karena bisa menggerus kosa kata bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah di tengah tak ada upaya mengimbangkan kedua hal tersebut.

Untuk pertanyaan ketiga, saya memiliki posisi di tengah-tengah. Selain tidak menguasai dunia perbukuan dan sirkulasi penerbitan, strategi pemasaran dalam jualan buku dengan menggunakan judul bahasa Inggris untuk menarik minat pembeli di tengah lemahnya minat membaca orang Indonesia dan membeli buku, saya pikir, relatif dimaklumi dalam batas-batas tertentu. Ini karena persoalan judul dalam dunia perbukuan untuk memprovokasi pembeli, selain bentuk perwajahan, merupakan bagian penting dari pemasaran. Namun, imbasnya adalah seperti yang saya ceritakan dalam paragraf sebelumnya. Di sini, strategi pemasaran buku dan mempertimbangkan bahasa Indonesia serta bahasa Ibu setiap pembaca menjadi isu dilematis. Apalagi penerbit buku merupakan agen kedua untuk mencerahkan orang Indonesia lewat bacaan bermutu. Pertanyaan keempat, saya serahkan kepada penulis dan penerbit buku saja untuk menjawabnya. Ini karena saya tidak bisa mengira mengenai jawaban atas pertanyaan keempat tersebut terkait dengan refleksi sederhana ini.

Bertolak dari sini, saya jadi berpikir, meskipun dalam batas perbukuan sebagai contoh, apakah Indonesia memungkinkan menyandang ungkapan Indolish (Indonesia-English); sebuah istilah untuk penjelasan mengenai gaya tutur orang Indonesia dengan campuran bahasa Inggris, seperti yang terjadi di Singapura dan Malaysia (Singlish) serta Filipina (Taglish)? Meskipun penggunaan bahasa Inggris di tiga negara tersebut sangat kuat tarikannya dengan masa lalu yang pernah mengalami penjajahan di bawah Inggris dan Amerika Serikat.

Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah Muhammad, 3 November 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan