-->

Kronik Toggle

Eksistensi Buku Terbukti Bertahan Ribuan Tahun

Petikan wawancara di bawah ini merupakan salinan wawancara antara Sri Pudyastuti (Wartawan Majalah Tempo) dengan Umberto Eco, yang dimuat dalam Majalah Tempo, edisi 24-30 Oktober 2011.

Dari 10 tanya-jawab yang dimuat Majalah Tempo, di sini hanya memuat dua tanya-jawab perihal pandangan Umberto Eco terhadap buku cetak dan ebook.

***

Bagaimana pandangan Anda tentang buku elektronik?

Membaca koran atau buku lewat iPad malah membuat mata saya rabun, karena saya sudah tua dan mata saya dipaksa melihat huruf kecil-kecil (di layar monitor). Tapi beginilah, di alam bebas seperti ini orang merdeka menetapkan pilihan cara membaca: mau buku elektronik atau buku cetak. Tapi, kalau ditanya bagaimana nasib buku di masa depan, jawaban saya: buku sudah terbukti eksistensinya. Media elektronik, seperti buku elektronik, belum. Tidak ada orang yang tahu sampai kapan buku elektronik akan bertahan. Eksistensinya belum terbukti. Jika saya,  misalnya, menemukan buku masa kecil di gudang, ada emosi yang bergerak di situ. Tapi, kalau yang ditemukan disket, belum tentu bisa dirasakan kenangannya lantaran perkembangan teknologi telah berubah. Disket tidak bisa lagi dioperasikan. Sebaliknya, eksistensi buku cetak sudah terbukti sejak ribuan tahun lalu.

Apa yang ingin diungkap di buku terbaru Anda, This Is Not the End of the Book?

Seperti pernah saya katakan, eksistensi buku sudah terbukti bertahan sejak ribuan tahun lalu. Kita masih bisa membaca buku yang sudah berabad-abad umurnya. Seperti halnya sendok, gunting, atau palu, sekali ditemukan, buku tidak bisa diubah jadi lebih baik. Kisah ini yang saya angkat. Buku ini merupakan percakapan saya dengan penulis skenario dan drama Prancis Jean-Claude Carriere. Semacam obrolan pendek dan diskusi tapi serius, terutama bila menyinggung soal semiotika, yang secara teknis mesti diterangkan lewat diagram. Ibarat dua kutu buku yang bertukar anekdot atau pendapat. Jangan salah, dia bukan “lawan bicara”, melainkan “teman mengobrol”.

*) Sumber: Majalah Tempo. No. 4034/24-30 Oktober 2011. Rubrik iQra. hal. 88-90

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan