-->

Kronik Toggle

Balai Pustaka dan Pradnya Paramita Masuk Daftar BUMN "Duafa"

JAKARTA- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menargetkan program transformasi perusahaan negara yang merugi akan rampung dalam tempo tiga bulan.

Selama masa itu, diharapkan BUMN “duafa”–dalam istilah Dahlan–dapat dijadikan anak usaha BUMN yang sehat. Tapi ia ingin proses penyatuan dilakukan sesuai dengan kebutuhan BUMN yang bersangkutan.

“Mereka yang memilih sendiri,” ujarnya setelah merayakan Hari Listrik Nasional di kantor PLN, Jakarta, kemarin. Mekanismenya akan dibuat semacam kontes bagi sejumlah BUMN yang ingin mengangkat anak usaha.

PT Garuda Indonesia Tbk termasuk BUMN yang berminat kepada usulan Dahlan. Menurut Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar, perusahaannya berminat mengakuisisi BUMN yang kesulitan keuangan.

Meski begitu, Emir menyatakan belum melihat dan mempelajari BUMN yang diincar. “Tentunya, kalau ada yang bagus dan bisa memberi nilai tambah, akan kami lakukan (akuisisi),” kata dia dalam acara yang sama.

Ia berujar, Garuda sudah memiliki anak usaha yang memberi nilai tambah. Di antaranya PT Garuda Maintenance Facility, PT Aerotrans Service Indonesia, PT Aero Wisata, dan PT Aero Systems Indonesia.

“Kami harus yakin dulu bahwa akuisisi akan menambah nilai bagi Garuda karena kami juga saat ini adalah perusahaan publik,” tutur Emirsyah.

Sebelumnya, Kementerian BUMN menyatakan ada 7 BUMN yang kesulitan keuangan. Ketujuh BUMN itu akan menjalani transformasi bisnis dalam waktu dekat.

Salah satu bentuk transformasi yang dilakukan adalah dengan mengubah BUMN tersebut menjadi anak usaha BUMN yang sehat. Kemudian dilanjutkan dengan perubahan nama dan bidang usaha.

Beberapa BUMN yang sempat disebutkan Dahlan adalah Balai Pustaka, Pradnya Paramita, dan Perum Produksi Film Negara. Beredar pula nama Istaka Karya, Energy Management Indonesia, dan Survei Udara Penas.

Direktur Utama Balai Pustaka Zaim Uchrowi setuju dengan rencana transformasi bisnis Balai Pustaka menjadi anak usaha BUMN sehat. Perubahan itu, tuturnya, dapat memperjelas kepastian status perseroan.

“Ke depan, Balai Pustaka tidak diharapkan lagi menjadi BUMN, namun bisa diakuisisi oleh perusahaan lain,” kata Zaim kepada Tempo, Rabu malam.

Zaim mengatakan, rencana akuisisi tengah dibicarakan dengan beberapa perusahaan, seperti PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dan salah satu anak perusahaan PT Telkom Tbk.

“Bisa juga diakuisisi anak perusahaan BUMN yang lebih relevan. Bergantung yang paling siap,” kata dia.

Menurut Zaim, Balai Pustaka memang tidak layak lagi dijadikan sebagai BUMN. Status BUMN sangat membebani karena diharuskan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Padahal Balai Pustaka punya misi sosial dan pendidikan, yang tidak mendatangkan untung. Zaim menolak menyebutkan nilai kerugian yang diderita perusahaan.

Zaim menuturkan, Balai Pustaka kemungkinan besar bakal ditarik masuk ke Kementerian Pendidikan Nasional. “Lebih cocok menjadi badan layanan umum saja karena tugas-tugasnya agak relevan,” kata dia.

Dituturkan Zaim, pada Desember, Balai Pustaka akan bergabung dengan Pradnya Paramita.

NUR ROCHMI | EVANA DEWI | ABDUL RAHMAN | EFRI

Sumber: Portal berita Koran TEMPO, 28 Oktober 2011

Judul asli: Tiga Bulan untuk BUMN ‘Duafa’

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan