-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Yunior Hafidh Hery | Bali

Booklovers, berikut ini adalah #23Tweets dari penulis buku “Tan Malaka Dibunuh” (2007). Dialah Jun a.k.a Yunior Hafidh Hery. Ia seorang guru SD yang menyandang dua gelar sarjana, nyaris dua gelar magister. Saat ini sedang menamatkan gelar magisternya yang kedua di Fisipol UGM. Lelaki sederhana dengan daya humor cukup tinggi. Menyenangi aktivitas belajar dan gratis. Studi pascasarjana ia tempuh dengan gratis. Untuk ukuran guru SD mungkin ia terlalu tinggi. Tapi pilihan itu tak bisa ia elakkan. Belum lagi jika dilihat buku-buku bacaan yang mempengaruhinya, seperti Jalaluddin Rumi, Sukarno (Penjambung Lidah Ra’jat), Nietzsche (Spoke Zarathustra), Lenin (Sosialis Demokrasi), Tan Malaka (Madilog), dan lain-lain. #23Tweets ini dikerjakan Nadia Aghnia Fadhillah.
1 Pertamakali datang ke Iboekoe, #Jun langsung ditarik ke @radiobuku. Ia anggap sebagai kecelakaan. Lalu bercerita tentang Buku Pertama #23tweets

2 #Jun merasa kesulitan mengingat buku pertamanya. Namun akhirnya dapat juga, seperti Wiro Sableng, 5 Sekawan, Donald Duck, buku tentang penemu #23tweets

3 Buku pertama bacaan #Jun adalah petualangan silat dan tokoh penemu alat-alat teknis. Beberapa di antaranya lagi ada fiksi #23tweets

4 Selanjutnya, #Jun menyebut buku-buku yang dibaca dan mempengaruhinya sebagai #bukumelo. Inilah buku-buku itu. #23tweets

5 Buku SMA #Jun nyaris hanya mengingat judul, wawancara Cindy Adams dengan Presiden Indonesia Pertama, Soekarno; Penjambung Lidah Ra’jat #23tweets

6 Bagian yang paling diingat #Jun dari Soekarno; Penjambung Lidah Ra’jat adalah jatuh bangun Soekarno dalam membangun RI. #BukuMelo #23tweets

7 Setelah itu #Jun baca buku saku Suluk Pesisiran Cak Nun. Berisi suluk-suluk yang dikarang Cak Nun di daerah pesisiran #BukuMelo #23tweets

8 Lulus SMA ia baca buku sufisme. Buku-buku Jalaludin Rumi merasuk dalam dirinya. Dadanya nyaris meledak. #BukuMelo #23tweets

9 Gara-gara baca buku sufisme, #Jun meninggalkan sepetak kain bernama sajadah. Lalu Zarathustra Nietzsche. Makin mantap tinggalkan sholat #BukuMelo #23tweets

10 Kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 97. Tahun 2000 masuk Fakultas Ilmu Agama Islam, Usuluddin, di Universitas yang sama. #23tweets

11 Selain Kuliah, #Jun juga berjualan buku-buku bekas. Beli kiloan dijual bijian. Sialnya, kebanyakan buku-buku itu ia simpan sendiri #23tweets

12 Buku-buku yang tak jadi dijualnya itu tersimpan di perpis, perpustakaan kecil di rumah. “Kalo perpus kan gede” kata #Jun #23tweets

13 Di antara buku-buku jualannya, #Jun ketemu dengan Lenin, Sosialis Demokrasi. Buku Demokrasi paling bagus baginya. Lugas dan tegas. #BukuMelo #23tweets

14 Demokrasi Borjuis, demokrasi yangg berpihak pada borjuis. Demokrasi ini menciptakan kelas dalam masyarakat #23tweets

15 Tandingannya, Demokrasi Proletar. Demokrasi yang dikelola oleh Proletar. Menjadikan masyarakat tanpa kelas. Keduanya akan lebur. #23tweets

16 Perjumpaan #Jun berikutnya dengan Madilog tulisan Tan Malaka. Ia temukan buku itu di toko perlengkapan alat gunung. #BukuMelo #23tweets

17 Mulanya akan dijadikan objek skripsi dengan judul Epistemologi Tan Malaka: Kajian Kritis Madilog. Sudah nyaris selesai #23tweets

18 Namun sial, skripsi itu ditolak oleh Kampus karena tak ada sisi religius. Tapi terbit sebagai buku dengan judul Tan Malaka Dibunuh (2007) #23tweets

19 Dalam buku #Jun Tan Malaka Dibunuh, Soekarno-Hatta lah yang bertanggungjawab. #23tweets

20 #Jun bercita-cita menulis lagi tentang Tan Malaka. Ia tak bisa menolak keinginan untuk menuliskan Tan Malaka #23tweets

21 Menurut #Jun, ide-ide Tan Malaka layak dipraktikkan di Indonesia kita saat ini #23tweets

22 Aktivitas #Jun sebagai guru di Jimbaran Bali. Wali Kelas, Guru Agama Islam, Sosial BUdaya dan Bahasa Indonesia #23tweets

23 #Jun sedang sekolah di Pascasarjana Fisipol UGM, akan diwisuda. Sudah 2X menempuh studi S2. Sekolah terus tapi gratis

Booklovers, demikian #23Tweets obrolan bersama penulis buku “Tan Malaka Dibunuh” (2007), Yunior Hafidh Hery. Saya, @nadanakaneh, mengucapkan sampai jumpa di obrolan “Buku Pertamaku” selanjutnya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan