-->

Kronik Toggle

Katalog Senayan dan Kultur orang Indonesia

Katalog Senayan dan Kultur orang Indonesia
YOGYAKARTA–“Orang Indonesia itu umumnya independen. Dan ini menguntungkan. selalu punya inisiatif bersama. Rasa merdekanya tinggi. Makanya banyak pemberontakan. Sayangnya, waktunya tak bersamaan. Terpecah-pecah. Dalam pengembangan katalog bersama, kultur ini penting, yakni bersama-sama dilaksanakan,” kisah Hendro Wicaksono, SliMS Lead Developer dalam workshop “Membangun Jaringan Katalog Perpustakaan” yang diselenggarakan  Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta, Hotel Cakra Kusuma, Yogyakarta (17/6).
Independensi adalah salah satu kultur orang Indonesia yang diadopsi oleh SliMS dalam membangun sistem informasi perpustakaan berbasis online atau disebut SLiMS. Selain indepensi, kultur orang Indonesia lain yang dipertimbangkan agar sistem ayng dibangun berbasis jiwa warga penggunanya.
Misalnya, orang Indonesia itu senang sekali membangun kerajaan/komunitasnya masing-masing. “Coba kita gunakan insting. Makanya Senayan misalnya, menyiapkan software perpustakaan bersama secara gratis. Apalagi orang Indonesia itu terkenal tak mau ribet. Malas melihat detail. Senayan lalu banyak menambah fitur ditambahkan, tidak memisahkannya menjadi plug in. Risikonya, beban Senayan membesar,” jelas Hendro.
Pentingnya keberadaan sistem informasi perpustakaan yang komplit, mudah, terintegrasi, adaptif atas software yang lain, dan gratis sangat membantu ketika infrastruktur internet di Indonesia mahal. Mahalnya itu karena Indonesia terletak dalam lempeng yang tidak strategis. “Kalau harus membagun kabel dan nyambung dari Singapura. Makanya, LSM jika terkoneksi dengan internet belum tentu punya website sendiri. Di Senayan, ada fitur kalau tak punya website, ya bisa lokal, dan terintegrasi ke web bersama,” tutur Hendro.

YOGYAKARTA–“Orang Indonesia itu umumnya independen. Dan ini menguntungkan. selalu punya inisiatif bersama. Rasa merdekanya tinggi. Makanya banyak pemberontakan. Sayangnya, waktunya tak bersamaan. Terpecah-pecah. Dalam pengembangan katalog bersama, kultur ini penting, yakni bersama-sama dilaksanakan,” kisah Hendro Wicaksono, SliMS Lead Developer dalam workshop “Membangun Jaringan Katalog Perpustakaan” yang diselenggarakan  Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta, Hotel Cakra Kusuma, Yogyakarta (17/6).

Independensi adalah salah satu kultur orang Indonesia yang diadopsi oleh SliMS dalam membangun sistem informasi perpustakaan berbasis online atau disebut SLiMS. Selain indepensi, kultur orang Indonesia lain yang dipertimbangkan agar sistem ayng dibangun berbasis jiwa warga penggunanya.

Misalnya, orang Indonesia itu senang sekali membangun kerajaan/komunitasnya masing-masing. “Coba kita gunakan insting itu. Maka dari itu, Senayan misalnya, menyiapkan software perpustakaan bersama secara gratis. Apalagi orang Indonesia itu terkenal tak mau ribet. Malas melihat detail. Senayan lalu banyak menambah fitur ditambahkan, tidak memisahkannya menjadi plug in. Risikonya, beban Senayan membesar,” jelas Hendro.

Pentingnya keberadaan sistem informasi perpustakaan yang komplit, mudah, terintegrasi, adaptif atas software yang lain, dan gratis sangat membantu ketika infrastruktur internet di Indonesia mahal. Mahalnya itu karena Indonesia terletak dalam lempeng yang tidak strategis. “Kalau harus membagun kabel dan nyambung dari Singapura. Makanya, LSM jika terkoneksi dengan internet belum tentu punya website sendiri. Di Senayan, ada fitur kalau tak punya website, ya bisa lokal, dan terintegrasi ke web bersama,” tutur Hendro. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan