-->

Kronik Toggle

Tukang Becak Luncurkan Buku "The Becak Way"

YOGYAKARTA–Tanggal 27 Mei 2006 memiliki arti yang dalam bagi Blasius “Harry Van Yogya” Haryadi dan ribuan warga Bantul khususnya, dan Yogyakarta umumnya. Hari itu, gempa merobek bumi Mataram, merenggut nyawa ribuan orang. Istri Harry Van Yogya salah seorang korbannya.  Pengayuh becak ini mengisahkan kematian istrinya di bab awal buku The Becak Way.

WAJAH Blasius Haryadi (44) tiba-tiba pucat saat mengenang istrinya, Anastasia Suyatni. Lelaki yang akrab dipanggil Harry Van Yogya, itu kehilangan istrinya kala gempa memorak-porandakan Bantul dan sebagian kota Yogyakarta pada pagi 27 Mei 2006.

“Dulu saya sangat merasa bersalah, karena istri saya meninggal justru ketika saya tidak berada di rumah,” kenang Harry tentang istrinya, kepada Tribun Jogja, di tempat ia mangkal di bilangan Jalan Prawirotaman, Yogyakarta, Selasa (24/5).

Pagi  itu, Jumat 26 Mei 2006. Harry bilang pada istrinya bahwa ia hendak memperpanjang masa gadai sepeda gunung yang ia gadaikan di Pegadaian Ngupasan, Yogyakarta.

Celakanya, pegadaian tutup. Ia pun langsung menuju tempat mangkal becaknya di Jalan Prawirotaman untuk bekerja. Kebetulan, di bulan itu hotel-hotel dan penginapan di Prawirotaman banyak yang penuh.

“Ternyata benar, banyak tarikan, saya narik becak hingga larut malam. Kecapekan, saya tidur di pinggir jalan,” kisah pengayuh becak yang menelorkan buku “Becak Way; Ngudoroso Inspiratif di Jalan Becek” itu.

Esok paginya, 27 Mei 2006, ia terkaget. Begitu bangun dari tidurnya, tak berapa lama ia merasakan ada guncangan hebat. Ia melihat, banyak orang yang berkendara bergulingan jatuh ke jalan.

Kerusakan di sekitar Prawirotaman dan sebagian besar wilayah kota memang tidak terlalu parah. Harry pun juga menganggap bahwa guncangan itu tak jauh beda dari lindu biasa.

“Saya sempat mengantar teman pegawai tourist information ke rumahnya. Sepulang dari sana, saya masih kembali ke tempat mangkal, karena tidak tahu akibat dari gempa akan sedahsyat itu,” tuturnya.

Begitu kembali ke pangkalan becak, hatinya mulai tidak enak. Harry mulai merisaukan kondisi istri dan putri bungsunya, Veronika Natalia Agnes Destriana, yang kala itu masih berusia lima bulan.

Ayah dari tiga anak ini lantas bertekad pulang. Di sepanjang jalan, di atas bus, ia terkesiap melihat banyak rumah rata tanah. Pikirannya jadi kacau.

Turun dari bus, Harry langsung menuju penitipan sepeda. Tempat penitipan itu pun sudah hancur berkeping-keping. Meski sepedanya masih utuh.

“Sepeda saya kayuh sekencang-kencangnya. Menjelang masuk dusun, saya melihat dusun saya hanya tinggal pepohonan saja, tak ada satu rumah pun berdiri,” kata Harry.

Begitu sampai di dusunnya di Cepoko, Trirenggo, Bantul, Harry mendapat kabar putrinya selamat. Ia pun lantas menuju rumahnya, mencari istri tercinta.

Rumah itu sudah rata tanah. Harry lantas bergegas ke dapur, siapa tahu istrinya berada di dapur kala gempa mengguncang.

Namun nihil. Ia pun beranjak meninggalkan rumah dan mencari putrinya. Menurut penuturan seseorang, putrinya dirawat oleh mertua adik iparnya. “Begitu bertemu putri saya, ia saya peluk, saya ciumi, sambil terus menangis,” katanya.

Lantas datang kabar tsunami akan mengguyur. Orang-orang pun lintang pukang menuju kota untuk menjauhi wilayah pantai.

Sesampainya di sebuah sawah, Harry diyakinkan oleh seorang petugas polisi, bahwa tsunami tidak terjadi. Harry pun menitipkan putrinya pada sejumlah kerabat. Ia kembali ke kampung untuk kembali mencari istrinya.

Harry merasa dirinya sudah seperti orang gila. Ia bersepeda keliling dusun, mencari orang untuk membantu memugar reruntuhan rumahnya. Tapi semua orang menangis, semua orang berlumuran darah.

Akhirnya, ia pun bertemu tiga orang tetangga yang bersedia membantu. Setelah beberapa saat membongkar reruntuhan, istrinya pun akhirnya ditemukan.

Istrinya berada di bawah lemari yang roboh. Pada bagian atas lemari terdapat bongkahan tembok yang mengganjal. Istri Harry berada di rongga lemari, ia hanya terlihat leher ke atas. Bagian tubuh lainnya terkubur reruntuhan bangunan.

Harry masih belum sadar betul bahwa istrinya telah meninggal. Begitu tubuh istrinya diangkat ke atas tanah, air matanya pun tumpah.

Ia menyalahkan diri sendiri atas kematian istrinya. Berkali-kali ia menyesal dan menyiksa diri sendiri dengan rasa bersalahnya.

“Mungkin ia meninggal karena kehabisan napas setelah lama di bawah lemari itu, andai saya ada di rumah mungkin istri saya tidak kehabisan napas hingga meninggal,” kenangnya.

Namun Harry pun tenang kembali. Ia ikhlas, itu semua sudah kehendak Tuhan. Ia berpikir, jika semua itu adalah kesalahannya, mungkin anaknya pun juga ikut meninggal dunia. Hari ini, lima tahun lalu, kita mengenang petaka dahsyat yang mengoyak Yogyakarta.

Sumber: Tribun Jogja, 27 Mei  2011, “”Harry van Yogya Nyaris Gila Mencari Istrinya”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan