-->

Kronik Toggle

Siswa ini Rakit Bom karena Terinspirasi Buku Jihad

Bengkulu – Semalam sudah Febi Yulianda, 14 tahun, mencicipi dinginnya sel tahanan. Siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kabupaten Kepahiang harus membayar keisengannya merakit bom buku.

Semua gara-gara ia membaca sebuah buku berjudul Mengungkap Berita Besar dalam Kitab Suci. Buku tebal karangan Abdul Wahab, cukup tebal, ada 444 halaman.

Fakta ini disampaikan oleh Kapolres Kepahiang Ajun Komisaris Besar Polisi Chaerul Yani. “Sebelum merakit bom buku, Feby sempat membaca buku setebal 444 halaman itu,” katanya, Kamis, 12 Mei 2011.

Kepada penyidik Feby juga mengaku mengambil buku itu dari perpustakaan SDN 18 yang tak jauh dari rumahnya. Rangkaian kabel dan komponen elektronik dari joycstick Play Station itu ditumpuk dalam buku. Memang tidak ada bahan peledak dan baterai yang bisa membuat rangkaian itu meledak,” katanya.

Fakta ini membuat shock orang tua Feby. Imron Joni, 44 tahun, sang ayah, masih mengaku tak percaya jika rakitan bom buku yang ditemukannya Ahad lalu adalah hasil karya putra ketiganya. Ia terlihat pucat ketika diberondong pertanyaan soal buku yang menginspirasi putranya itu. Bahkan ia heran jika Feby membaca buku jihad setebal itu. “Setahu saya, dia tak suka membaca. Jangankan membaca buku tebal seperti itu, membaca buku pelajaran saja saya pecut dulu baru dia mau” kata Imron.

Imron mengaku tidak pernah melihat putranya membaca buku tersebut, termasuk merakit bom buku itu. Ia sendiri baru pertama kalinya melihat buku bersampul merah tersebut.

Selama beberapa hari terakhir, orang tuanya juga tidak melihat gelagat aneh dari sang putra. Malah hari Senin pasca penemuan bom buku, Feby masih masuk sekolah dan belajar seperti biasa. “Ia masih sekolah hari Senin itu,” kata Aneliarisa, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Taba Tebelet.

Pihak sekolah sama sekali tidak menyangka jika salah satu siswanya merakit sebuah bom buku karena selama ini Feby tidak pernah berperilaku aneh dan terlibat masalah. “Karena anaknya baik dan tidak pernah terlibat masalah, saya sampai tidak mengenal ,itu indikasi dia anak yang baik seperti anak yang lain,” jelas Aneliarisa.

Menurut Aneliarisa, berdasarkan nilai akademisnya, sejauh ini nilai Feby baik dengan nilai merata di semua mata pelajaran. Tidak ada nilai yang menonjol di mata pelajaran tertentu, misalnya agama atau kimia, dan sebagainya.


Feby juga tidak terlibat dalam organisasi ekstrakurikuler rohis. Meski begitu, di sekolah, Feby diwajibkan mengikuti kegiatan kerohanian setiap hari Jumat. Namun, kegiatan tersebut tidak hanya fokus pada kegiatan keagamaan saja, tapi juga dijadikan ajang siswa untuk tampil berpidato dalam bahasa Inggris dan Thailand.


Berdasarkan pantauan guru wali kelasnya, dalam pertemanan Feby juga berbaur dengan semua teman. Sang wali kelas tidak melihat Feby intens dengan satu orang teman saja. Selama ini juga Feby tidak dikenal suka mengunjungi perpustakaan atau terlihat sering membaca buku. “Biasanya jika istirahat dia ke kantin dan main bola karena itu memang hobinya,” kata Yuliani, wali kelas Feby.

Sekolah setiap bulan memberikan reward kepada siswa yang rajin ke perpustakaan, tetapi Feby tidak pernah menjadi salah satu siswa yang mendapatkan reward tersebut.


“Jadi, kita sangsi jika dia membaca buku tersebut,” tambah Wakil Kepala Sekolah Hardyanto yang mengaku cukup dekat dengan Feby.


PHESI ESTER JULIKAWATI

*)Dikronikdari Tempointeraktif, 12 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan