-->

Kronik Toggle

Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim di Dunia Maya

Malang – Halaman informasi di dunia maya (website) mengenai profil dan karya-karya almarhum sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim resmi diperkenalkan ke publik pada Sabtu malam, 7 Mei 2011.

Bertempat di rumah peninggalan almarhum di Jalan Diponegoro, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, peluncuran www.rumahratna.com didahului dengan tahlilan 40 hari meninggalnya Ratna mulai pukul 18.30 WIB. Sastrawan asal Malang kelahiran 24 April 1949 itu meninggal pada Senin, 28 Maret lalu.

Usai tahlilan pada pukul 19.30 WIB, acara selanjutnya diisi dengan kegiatan apresiasi seni dan sastra yang diisi oleh seniman, budayawan, akademisi, dan tokoh sepakbola. Seniman yang datang berasal dari Malang, Yogyakarta, Mojokerto, dan Kediri. Sejumlah orang difabel juga hadir.

Di atas sebuah panggung, sejumlah teman dan sahabat bergiliran menyampaikan testimoni, membacakan puisi, dan membawakan lagu. Seluruh rangkaian acara tuntas di sekitar pukul 22.30 WIB.

Mereka tampil di panggung yang berlatar satu layar yang menayangkan isi www.rumahratna.com dan poster besar bergambar Ratna. Website dirancang dalam sepekan dan kini diurus oleh lima sahabat Ratna: Giman Suwengso, Redy Eko Prasetyo, A. Elwiq, Titik Qomariyah, dan Slamet.

Ada banyak penampil malam itu. Salah satunya Lucky Adrianda Zainal. Pendiri klub sepakbola Arema Indonesia ini bersaksi bahwa dirinya sudah lama mengetahui nama Ratna tapi baru mengenal Ratna lebih dekat justru saat ia mendapat “ujian” dari Tuhan berupa kebutaan total pada 2006.

Kebutaan membuat dirinya nyaris tak berdaya. Frustrasi, kehilangan kepercayaan diri, dan merasa menjadi manusia yang tak berharga. Menurut Lucky, kelebihan Ratna terletak pada semangatnya yang membara sehingga tak mengenal lelah untuk terus berkarya dan menjadi aktivis sosial-budaya. Cacat tak seharusnya menjadikan manusia malas bekerja dan berkarya. Setiap manusia ada gunanya.

“Ratna menginspirasi saya untuk selalu jadi manusia yang tahu bersyukur kepada Tuhan dengan segala kondisi kita, serta pantang mengeluh. Terima kasih Ratna, kau telah bangkitkan semangatku,” kata Lucky, yang kemudian memadukan komposisi Summertime karya George Gershwin dengan lagu Es Lilin.

Yusri Fajar, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, menarasikan prolog novel Lemah Tanjung, salah satu novel karya Ratna yang paling terkenal. Diterbitkan pada 2003, Lemah Tanjung dibuat berdasarkan kisah nyata tentang perlawanan warga Kota Malang menentang pembangunan rumah mewah di lahan kota seluas 28,5 hektare, bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian. Perumahan itu mewujud dengan nama Irjen Nirwana Residence kepunyaan Grup Bakrie.

Ratna intensif terlibat menentang pengalihan fungsi hutan kota itu. Tak hanya turun ke jalan untuk menentangnya, Ratna pun menghadirkan dirinya lewat tokoh Mbak Syarifah. “Novel Lemah Tanjung memiliki banyak dimensi, seperti lingkungan, kemanusiaan, sejarah. Tapi yang jelas, novel ini fenomenal karena jadi bukti perlawanan rakyat terhadap keserakahan kapitalisme,” kata Yusri.

Yusri akan mempresentasikan novel Lemah Tanjung dalam konferensi internasional bidang humaniora di Penang, Malaysia, pada Juni mendatang. Ia bertekad mengenalkan karya-karya Ratna di kancah sastra internasional dengan menerjemahkannya ke dalam beberapa bahasa asing, terutama ke dalam bahasa Inggris.

“Semasa hidup, Mbak Ratna sering bilang sangat ingin semua karyanya bisa diakses oleh siapa pun baik di Indonesia dan luar negeri, khususnya novel Lemah Tanjung. Untuk itu, harus ada karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Tak harus semuanya, tapi satu-dua karya dulu,” ujar Yusri.

Pembuatan website juga menjadi mimpi Ratna untuk mengenalkan karya-karyanya ke jagat internasional. Menurut salah satu pengelola, Giman Suwengso, pembuatan website ditujukan untuk mendokumentasikan semua karya Ratna. Selama ini diketahui Ratna telah membuat sekitar 400 cerita pendek dan cerita bersambung, ditambah sejumlah novel. Tapi sebagian masih tercecer.

“Kami ingin dengan adanya website ini, karya-karya Mbak Ratna bisa terdokumentasi dengan baik sehingga bisa diakses secara luas oleh siapa pun. Agar lebih interaktif, kami sediakan ruang buku tamu dan forum bagi pengunjung,” kata Giman, seraya menambahkan pembuatan website sekaligus melengkapi keberadaan Toko Buku Kita alias Tobuki.

Untuk sementara, website baru berisi biodata, karya-karya, dan galeri foto tentang Ratna. Juga ada ruang testimoni “Aku & Ratna”. Saat ini website terus disempurnakan sehingga nanti kontennya makin beragam dan luas tak hanya tentang profil dan karya-karya Ratna, tapi juga karya-karya sastra dari sastrawan lain, juga agenda kegiatan budaya.


ABDI PURMONO

*)Tempointeraktif, 8 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan