-->

Kronik Toggle

Reklame untuk Buku masih di anaktirikan

1Pengantar Penyalin

Awalnya adalah ketidaksengajaan menemukan bendel “Madjalah Manager” (MM) di Perpustakaan Gelaran Ibuku. Setelah membuka beberapa halaman bendel majalah yang terbit pada 1963 hingga 1964 itu, terbacalah keterangan mengenai peringatan Hari Buku pada 21 Mei yang disambut dengan pemuatan artikel tentang reklame atau iklan atau promosi sebagai salah satu aspek dalam manajemen pemasaran buku. Artikel yang dimaksud adalah “Reklame untuk Buku masih di anaktirikan”.

Membaca artikel tersebut perlu sembari mengingat konteks Indonesia saat terbitnya MM, yakni suatu masa penuh semangat membangun kemandirian bangsa dan ketika cita-cita menuju Sosialisme Indonesia menjadi kata-kata bertuah.

Hal itu tercermin dalam “Pengantar Penerbit” dalam edisi MM memasuki tahun ke-4, yang mana redaksi menyatakan bahwa MM diterbitkan dengan tujuan:

“ … sebagai medium komunikasi untuk mendiskusikan, mengeritik dan mengoreksi serta menjebarkan gagasan2 jang dapat membawa masjarakat lebih dekat pada tjita2 sosialisme Indonesia”. (No. 37. Tahun. 4. hal. 1)

Pada penerbitan nomor 38, redaksi MM kembali menegaskan identitas terbitannya dengan menyesuaikan pada pedoman dari pemerintah saat itu yakni “Deklarasi Ekonomi”. Redaksi MM memuat artikel berjudul “Deklarasi Ekonomi dan Madjalah Manager”. Berikut ini kutipannya:

“Banjak sekali masalah2 jang tersangkut disini jang semuanya harus kita pecahkan ber-sama2. Diantaranja jang ingin kami sebut disini ialah pendidikan tenaga managers. Sebab tak dapat disangkal bahwa djabatan manager perusahaan masih baru bagi kebanjakan manager kita. Tiada tradisi jang dapat memberikan landasan kepada mereka dalam memikirkan dan memetjahkan masalah2 jang mereka hadapi se-hari2. (No. 38. Tahun 4. hal. 64).

Dengan demikian jelas bahwa segmen pembaca MM adalah para pemilik, pengelola, ataupun manajer perusahaan.

* * *

MM sebagai pendukung cita-cita Sosialisme Indonesia, terkait topik pemasaran, terbaca dalam artikel berjudul “Fungsi Sosial dari Reklame” (No. 37. Thn. 4. hal. 101). Redaksi MM mendefinisikan reklame sebagai: “pemberitahuan tentang sesuatu jang penting untuk chalajak ramai atau sebagian dari chalajak”.

Redaksi MM memilah reklame menjadi dua jenis, yakni “reklame tama” dan “reklame sosial”. Untuk yang disebut pertama, redaksi melekatkan sifat-sifat ketamakan atau yang menurut pendapat redaksi MM adalah “tjotjok sekali dengan alam dan djiwa liberal”, karena reklame jenis ini mengingatkan pada “orang jang berusaha mengeduk untung se-banjak2nja dan jang me-nonjdol2-kan dirinja sendiri. Malahan orang jang tidak segan2 mempergunakan tipu muslihat untuk mendjebakkan orang lain”. Sedangkan reklame jenis kedua dianggap bersifat “jang sopan santun, dan jang tahu diri. Jakni reklame jang sungguh2 membantu orang banjak”.

Cara pandang tersebut di ataslah yang melandasi cara pandang penulis artikel “Reklame untuk Buku masih di anaktirikan”. Dalam menilai poster sebagai salah satu bentuk “reklame untuk buku”, penulis artikel tersebut menganggap adalah suatu kesalahan apabila pencantuman nama penerbit dalam poster secara menyolok mata, karena yang ditonjolkan bukanlah barangnya namun merk dagangnya. Secara retorik, penulis artikel itu menulis, “manapula ada peminat buku jang tertarik dengan merk dagang itu?!”

Artikel “Reklame untuk Buku masih di anaktirikan” dapat menjadi cermin bahwa buku diyakini oleh berbagai pihak sebagai media untuk mendukung tercapainya kemajuan, kemanapun arah cita-citanya, liberalisme maupun sosialisme. Semuanya sepakat bahwa buku adalah sarana untuk maju.

Pustakawan IRE Yogyakarta & Kontributor Indonesia Buku

* * *

4

Reklame untuk Buku masih di anaktirikan

Sudah umum diketahui, bahwa untuk memprodusir dan memperdagangkan buku tidaklah sehebat keuntungannja apabila dibandingkan dengan dagang sandang-pangan, obat2an ataupun djual beli mobil.

Kalau manusia sudah kenjang dengan sandang-pangan, sudah punja mobil dari tahun terachir, rumah dengan gaja arsitektur modern disertai dengan mubilair jang serba antik, biasanja orang lantas berhenti sampai disitu tok …… dan pangan djiwanja dilupakan, meskipun uang untuk itu lebih dari tjukup.

Memang barang jang tak njata, jakni makanan rochaniah manusia tidak begitu lantjar pendjualannja dibandingkan dengan barang jang njata, lux dan mengkilap.

Tapi bajangkanlah, betapa menjedihkan apabila terdapat sekelompok manusia jang kaja-raja tetapi tidak sanggup membatja buku sebuahpun ? ! Dan apabila sekelompok manusia itu bergabung dan merupakan satu bangsa, maka bangsa itu tidak ada kemadjuan dalam arti sesungguhnja.

Kemadjuan dan kemakmuran sesuatu bangsa tidak dapat dinilai hanja dari segi materi, melainkan djuga dari segi rochani, dan bahkan kemadjuan rochanilah sebenarnja jang mendjadi pendekar dan pendorong kemadjuan materi itu.

Dengan uraian singkat diatas ini dapatlah kita mengatakan bahwa untuk mengukur kemadjuan sesuatu bangsa dapat kita ukur dari banjaknya buku bermutu jang diprodusir dan diperdagangkan dengan harga jang dapat terbeli.

Tugas untuk mendjadikan suatu bangsa mendjadi “book-minded” sebagian besar terletak ditangan para penulis dan penerbit/pedagang buku, meskipun bantuan dari pemerintah berupa materiil dan moreel tidak dapat diabaikan.

Dinegeri kita pendjualan buku agak seret djalannja, sebab kelompok jang dapat membeli dan melaksanakan kebutuhan akan buku masih terlalu ketjil, sehingga penerbit dan pedagang buku harus berpikir dua kali sebelum mulai dengan produksi dan perdagangannja.

Dengan sedikit pengantar diatas ini marilah kita meningkat sekarang kepada pembitjaraan mengenai reklame buku.

Sebagaimana pada setiap perusahaan, setiap produksi harus diperkenalkan. Dengan lain kata harus diedarkan dalam masjarakat, djadi harus direklamekan, hal mana untuk barang jang „tak njata” agak sukar dilaksanakannja.

Sampai sekarang masih kurang dipikirkan gagasan2 dan idee untuk mempopulerkan buku djika dibandingkan dengan turisme. Hanja di Denmark, Swiss, Belanda dan Djerman Barat, mereka mulai memikirkan dan memperhatikan reklame buku. Surat2 kabar dinegara2 tsb. chusus menjediakan rubrik tersendiri dimana para penerbit dapat „menimbulkan” buku baru dengan tjuma2. Pameran2 buku djuga diadakan dan jang paling terkenal ialah, Buchmesse di Frankfurt, sematjam bursa buku jang mendapat pengundjung dari segala pendjuru dunia.

Usaha reklame jang selama ini dilakukan ialah baru terbatas pada pembuatan folders buku, iklan disurat kabar dan padjangan dietalase. Kemudian mereka mentjoba dengan sedikit royal dengan pembuatan poster buku. Poster itu mula2 terdiri dari kertas berwarna jang besar, diatas mana ditjantumkan gambar dari kulit buku jang diterbitkan oleh salah satu penerbit. Tetapi satu kesalahan telah dibuat, jakni dengan djalan mentjantumkan nama penerbit itu setjara menjolok mata sehingga „arti buku” mendjadi hilang Djadi jang ditondjolkan bukan barangnja tetapi merk-dagangnja, hal mana agak djanggal rasanja, karena manapula ada peminat buku jang tertarik dengan merk dagang itu?!

Sebuah toko buku di Swiss telah berani mengambil resiko dengan mengadakan sajembara poster buku dengan sjarat: poster itu hanja membuat empat teks kata, tanpa nama buku dan nama penerbit. Hasilnja ialah bandjir poster buku sedjumlah 15.000 buah dari mana dipilih 24 buah jang terbaik.

Selain memberikan perhatian kepada poster buku, djuga para penerbit kini telah memikirkan djuga mengenai kulit buku dengan membuatnja agak modern, abstrak dan artistik.

Dalam prospektus dan folder buku seringkali kita lihat photo penulis ditjantumkan, hal mana menurut hemat kita kurang tepat, karena seorang penulis bukanlah seorang bintang film jang perlu direklamekan tampangnja. Suatu petikan dari suasana dramatis dari isi buku itu dengan teks jang pendek, merupakan suatu tjara reklame jang terpuji, karena hal itu menimbulkan rasa ingin tahun dari para pembatjanja.

Kembali kenegeri kita, harus diakui bahwa reklame buku masih belum mendapat perhatian. Misalnja pada hari2 Natal dan Tahun Baru, djarang sekali ada penerbit jang mau mempergunakan kesempatan itu untuk mereklamekan bukunja sebagai hadiah Natal/Tahun Baru, seperti jang selama ini sudah lazim diluar negeri.

Bagaimana kalau organisasi penerbit dan pedagang buku mulai memikirkan „poster buku” tanpa nama penerbit dan nama buku, seperti jang dilakukan oleh toko buku di Swiss itu ? ! Dengan tjara itu rasanja dapat dirangsang selera masjarakat untuk kemudian mendjadikan mereka “book minded.”

Seperti barang lainnja, bukupun memerlukan reklame !

(bahan/photo dari madjalah GRAPHIK)

Sumber: Madjalah Manager. Tahun 4, No. 38. Mei 1963. hal. 95-97.

Koleksi bendel Madjalah Manager (April 1963 s/d Maret 1964) dapat dibaca di Perpustakaan Gelaran Ibuku.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan