-->

Tokoh Toggle

Diana AV Sasa, Penggila Buku dari Puncak Gunung Brengos

Oleh: Risang Anom Pujayanto

[audio:http://indonesiabuku.com/wp-content/uploads/2010/01/dianasasa.mp3|titles=dianasasa]

63867_1513457711042_1072380661_1495943_7918807_nSalah satu penulis buku Lekra Tak Membakar Buku yang saat ini dicekal, Muhidin M Dahlan pernah mengibaratkan perjalanan menuju ke kediaman Diana Amaliyah Verawati Sasa yang berada di ketinggian 1.118 dpl itu bak membaca tiga novel sekaligus. Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garzia Marquez, The God of Small Thing karya Arundhati Roy dan Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie. Tempat tinggal yang dikelilingi bebatuan pegunungan tandus, dingin dan berkabut itu bernama Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Jaraknya sekitar 50 km dari pusat Pacitan atau 70 km dari jantung Ponorogo. Di sana, sukar sekali mencari hiburan selain radio.

Perempuan yang akrab disapa Sasa ini mengaku Son Ani, ayahnya, merupakan orang yang pertama kali berjasa mengenalkan dirinya dan buku. Dahulu Son merupakan guru agama, dan sekarang beliau menjabat Kepala Sekolah SD Pakis Baru 2 Pacitan. Sejak kecil Sasa selalu dimanja dengan buku-buku. Buku inpres bantuan dari pemerintah yang seharusnya diletakkan di sekolah dibawa pulang oleh ayahnya.

”Waktu itu sekolah masih tidak punya perpustakaan. Setelah saya baca, kemudian ayah mengembalikan buku ke sekolah,” ujar perempuan kelahiran Pacitan, 28 Maret 1980 itu.

Karena di sana minim hiburan, tak pelak Sasa menjadi keranjingan membaca. Membaca menjadi hiburan alternatif tebaik. Bahkan melihat kegemaran yang dimiliki Sasa, Son pun memutuskan mulai berlangganan majalah-majalah seperti Trubus, Kuncup, Fakta, Intisari, Ananda, Bobo dari penjual majalah yang datang sebulan sekali.

Kebiasaan membaca tersebut membuat wacana Sasa melebihi teman-teman sepantaran. Berkembangnya intelegensi ini membuat Sasa tidak tertarik untuk belajar di sekolah. Pasalnya, semua yang diajarkan guru telah dimengerti terlebih dahulu di luar kepala. Melihat stagnasi pembelajaran itu, Son memutuskan memindah sekolah Sasa ke SDN 3 Wonogiri. Jadi sejak SD, Sasa sudah kost sendiri dan mengatur kehidupan secara mandiri.

”Di SDN 3 Wonogiri ini saya menemukan teman-teman yang selevel untuk bertukar pendapat keilmuan,” kenangnya.

Untuk memenuhi hasrat pada buku, Setiap waktu, Sasa mengunjungi perpustakaan gereja dekat alun-alun Wonogiri. Meskipun perpustakaan itu berdiri atas nama gereja, tetapi terbuka untuk umum. Karena terlampau seringnya meminjam buku, Suster Antony penjaga perpustakaan acapkali mewanti-wanti untuk menjaga buku. Ini disebabkan uang saku per bulan yang sejatinya untuk keperluan sehari-hari, terkadang secara berutal dialokasikan untuk meminjam buku. ”Diana uang sakunya disimpan separyh. Jangan dipakai sewa buku semua”, begitu pesan suster Antony.

Sasa menyadari membaca buku secara frontal membuat perkembangan psikologisnya menjadi cepat dewasa dari seharusnya. Apalagi ditunjang dengan kemandirian hidup di Wonogiri. Keadaan yang menuntut Sasa menjadi dewasa ini kerap menjejakkan image berlebihan di mata teman-temannya. Padahal pada usia semuda itu, Sasa benar-benar dihadapkan pada persoalan memanage hidup secara mandiri. Dengan perkataan lain, keadaanlah yang membentuk karakter kedewasaan dalam dirinya.

Setelah itu ada banyak lika-liku peristiwa lain di masa kecil Sasa yang membentuk kematangannya di saat ini. Mulai kegemaran pada sastra Jawa oleh karena bapak kost berlangganan majalah Panjebar Semangat dan Joyoboyo, bersentuhan dengan politik praktis, hingga mengidolakan tulisan Seno Gumira Ajidarma: Jazz, Parfum, dan Insiden.

”Buku Jazz, Parfum, dan Insiden hingga saat ini menjadi buku yang paling saya suka. Karena buku ini pemberian seorang teman dari Palang Merah Remaja (PMR), Achmad Wijayanto, ketika saya ditarik pulang kampung, kembali terisolasi, dan kesulitan mendapat buku,” ujar penulis Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku itu.

Bertolak dari riwayat itu, memisahkan Sasa dengan buku sama halnya memisahkan induk dengan anaknya. Bagi Sasa, membaca buku ibarat donor darah; mendapat darah segar. Adapun baginya, membaca buku sama pentingnya dengan bernafas; suatu kebutuhan yang sulit dilepas. Karena dengan membaca buku, Sasa dapat membuka wacana sebagai ruang terbuka berdialektika. Sehingga dengan begitu, dengan tahu banyak hal maka seseorang tidak akan mudah dibelokkan. Demi mencari kebenaran hakiki, kebenaran sejati, bukan kebenaran ala versi.

Sedih dan prihatin. Mengingat pencekalan buku kembali marak terjadi di negeri ini. Bahkan baru-baru ini buku ada yang dimusnahkan dan dibakar. Suatu kemunduran sejarah menuju jaman jahiliyah, dimana kala itu hanya berlandaskan emosi untuk menjatuhkan musuh, memberangus dan memusnahkan buku diketahui merupakan kebiadaban tiada tara setara menghilangkan nyawa. Di negeri ini keidealan demokrasi yang diangan-angankan oleh masyarakat sejatinya hampir dicapai, tetapi kenapa bisa terkikis kembali menjadi sekadar slogan belaka.

Awalnya Sasa tidak pernah mengerti kalau ada pelarangan membaca ideologi kiri di negeri ini. Berkali-kali pikiran Sasa telah diresapi buku-buku kiri seperti komunis, marxis dan politik kekiri-kirian lainnya, tetapi Sasa mengaku kecintaannya pada negara ini tidak sedikit pun luntur. Dengan mempertimbangkan budaya ketimuran, pada prinsipnya Sasa sepakat dengan pencekalan buku. Dengan catatan buku tersebut hanya buku-buku yang bernuansa porno vulgar dan muatannya menistakan agama, selebihnya tidak dan seharusnya jangan dipermasalahkan.

”Jangan main bredel-bredel. Itu fakta baru bagi anak muda seperti kami yang tidak mengalami masa itu. Persoalan benar-salah, waktu yang akan menjawab!” seru Sasa ketika ditemui SP di kediamannya di kawasan Karangrejo Surabaya, Senin (28/12). Selama ini tentang kesejarahan bangsa, kami selalu didikte dengan pelajaran sejarah dasar, seperti Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) atau dalam konteks sekarang justru dileburkan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), imbuhnya.

Bagi golongan yang tidak sepakat dengan muatan yang ada dalam buku dengan alasan mencemarkan nama baik atau tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, bisa memperkarakan dengan menempuh jalur hukum. Pasalnya, negara ini adalah negara hukum, yang bakal tampak konyol jika memutuskan main hakim sendiri. Cara yang lebih elegan untuk menolak karena tidak sepakat dengan suatu buku, yakni bisa membalas dengan menulis buku tandingan. Pertarungan seperti ini bahkan dapat memperkaya khasanah literasi pembaca.

”Gus Dur (saat dilakukan wawancara dengan Sasa, Gus Dur masih sakit) pernah mencontohkan bagaimana buku yang menyerangnya dibalas oleh Gus Dur dengan membuat buku tandingannya. Karena itu saya juga sangat mengidolakan sosok Abdurahman Wahid alias Gus Dur itu,” ujarnya.

*) Dikronik dari Surabaya Post, 3 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan