-->

Tokoh Toggle

Pak Guru Ubai dan Multatuli

Oleh: Endah Sulwesi
[audio:http://indonesiabuku.com/wp-content/uploads/2011/05/Ubaidillah-Muhtar1.mp3|titles=Ubaidillah Muhtar]
ubai 2Sebermula adalah seorang mahasiswa yang baru tamat kuliah sekolah pedidikan guru. Dia ikut ujian CPNS sebagai calon guru dan lulus. Tetapi, kelulusan yang seharusnya disambut dengan  bahagia oleh calon guru Bahasa Indonesia ini, tiba-tiba menjadi sebuah “musibah” karena ia ditugaskan di sebuah SMP di Desa Ciseel. Di manakah itu? Sebenarnya dekat saja. Desa itu ada menempati sebuah wilayah di Provinsi Banten, sedangkan calon guru itu berdomisili di Depok.

Namun, ternyata Banten itu lebih luas dari Depok (ya iyalah!). Setelah calon guru itu melakukan survei lokasi, dia menangis. Pasalnya, Desa Ciseel itu letaknya jauuuuh di pelosok. Menempuhnya bukan saja membutuhkan waktu yang panjang, tetapi juga fisik yang kuat karena tidak terjangkau oleh angkutan umum kecuali ojek. Itu pun harus dengan tukang ojek yang memiliki keahlian dan keberanian khusus untuk menaklukkan medan yang kurang bersahabat. Jalan menuju sekolah tempatnya bertugas itu naik turun bukit dengan tanjakan dan turunan yang terjal. Belum lagi jalan-jalan setapak dengan  jurang yang menganga cukup dalam di kiri kanan. Apalagi kalau hujan, bertambahlah kesulitan melaluinya karena licin. Jika ingin sedikit menyingkat jarak, ia harus rela menyeberangi sungai tanpa jembatan. Artinya, ya nyebur-nyebur gitu. Paling tidak celana panjangnya akan basah hingga betis. Itu kalau sungai sedang surut. Kalau habis hujan, lain lagi ceritanya. Bisa sampai sepinggang dalamnya.

Semangat calon guru penggemar sastra itu semakin ciut ketika ia mengetahui di sana belum ada listrik. Astaga! Hari ini masih ada wilayah di tanah air (dan hanya di Banten!) yang belum bisa menikmati hasil karya si Ben yang ditemukan berabad-abad lalu. Berarti di sana juga tidak ada jaringan internet. Belum cukup. Ternyata di sana juga blank spot untuk sinyal HP-nya. Jarak yang jauh itu juga menjadi ancaman baginya untuk rela melepaskan kesenangan menikmati acara-acara sastra di Jabodetabek. Lantas, kehidupan seperti apa nanti yang akan dijalaninya? Ia ingin menolak saja penugasan itu.

Namun, berkat dorongan sang istri tercinta, lelaki muda itu menghimpun kembali semangatnya. Dia mencoba menjalani garis nasibnya.

Hari-hari pertama tentulah berat. Bobot tubuhnya sempat turun drastis. Setiap malam ia harus rela tidur di masjid karena belum mendapat “rumah dinas”. Ia mencoba bertahan dengan keadaan yang ada. Sampai kemudian dia mendapat sepetak tempat di rumah Pak RT. Otaknya berputar. Idealismenya bangkit. Dia harus berbuat sesuatu untuk orang-orang di situ. Tapi apakah itu?

Literasi! Ya, sebuah gerakan literasi yang paling sederhana. Maka, dia lalu membuat sebuah taman baca. Kecil saja, di ruang tamu rumah Pak RT itu dengan buku-buku miliknya sebagai koleksi awal. Taman baca itu kemudian diberinya nama “Multatuli”. Nama yang cocok, sebab nama besar itu tak bisa dilepaskan dari sejarah Banten. Sebuah foto Multatuli dalam ukuran besar tergantung dalam bingkai kaca di dinding rumah itu.

Maka, jadilah! Lewat sekolah dan taman baca itu Pak Guru Ubai, demikian ia disapa murid-murid dan masyarakat di sana, mengenalkan dan mengajarkan sastra. Setelah resmi diangkat sebagai PNS, ia membeli sebuah sepeda motor. Kini, menurut penuturan Linda, istrinya, Pak Guru Ubai malah berharap dia tidak dipindahkan ke tempat lain. Dia telah menemukan cintanya di sana.

Kemudian, dia dipertemukan dengan Sigit Susanto di komunitas Apresiasi Sastra. Selama beberapa tahun terakhir ini, Sigit yang tinggal di Swiss punya agenda tahunan melakukan kegiatan sastra di taman-taman bacaan di tanah air. Setiap Mei-Juni ia meluangkan waktu berlibur ke kampungnya di Kendal. Di sela-sela liburannya itulah Sigit melaksanakan kegiatan sastra tersebut. Tahun ini Taman Baca Multatuli menjadi pilihannya.

Kolaborasi antara Pak Guru Ubai dan Sigit berbuah 3 hari yang mengesankan. Sepanjang 3 hari itu (13-15 Mei), mereka menggelar sebuah acara yang diberi judul “Sastra Multatuli”. Berlangsung di sekolah tempat Ubai mengajar dan di Taman Baca Multatuli. Anak-anak dan orang tua dilibatkan. Mulai dari pentas drama “Saijah dan Adinda”  yang dimainkan para murid (dengan kerbau sungguhan sebagai property) hingga diskusi “Multatuli dan Petani” oleh F. Rahardi. Anak-anak itu (dan para peserta) diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berhubungan dengan Multatuli. Mulai dari bekas rumahnya, bekas sekolahnya, hingga sebuah jalan yang memakai namanya. Semua ada di Rangkasbitung. Tapi, tak perlu heran jika masih banyak warga Banten yang tidak kenal Multatuli. Konon, seorang pejabat tinggi di sana sampai perlu beralasan pura-pura sakit untuk menghindari sebuah wawancara mengenai Multatuli. Hehehe.

Selain itu, anak-anak yang sebagian belum pernah keluar desa mereka, diajak juga mengunjungi Desa Cikeusik, tempat permukiman Suku Baduy. Malam terakhir, Pak Guru Ubai dan Sigit Susanto memutar “layar tancep” film Saijah dan Adinda karya Fons Rademaker.

Hormat saya untuk Pak Guru Ubaidillah yang telah menjadi pelita kecil bagi anak-anak di sana. Membuka mata dan wawasan mereka untuk melihat dunia yang lebih luas lagi dari Ciseel. Salut juga untuk Sigit Susanto yang telah mendukung penuh acara “Sastra Multatuli” ini. Saya iri pada kalian. Sungguh! 🙂

Endah Sulwesi, bloger buku senior

Sumber: Note facebook Endah Sulwesi, 16 Mei 2011

Foto: Endah Sulwesi

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan