-->

Lainnya Toggle

Multatuli Tetangga Anne Frank: Literasi Anti Tirani

Oleh: Sigit Susanto

0705110452sigit3DI Amsterdam, jika kita berjalan kaki dari rumah kelahiran Multatuli di jalan Korsjespoorsteeg 20 (sekarang Museum Multatuli), ke arah jalan Herrengracht, kita akan bertemu patung Multatuli di atas jembatan, kemudian jalan menurun ke kanan, di jalan Prinsengracht 263 tibalah di rumah persembunyian Anne Frank, maka jejak kaki kita akan membentuk huruf V. Apakah huruf V tersebut masih punya arti Victory alias kemenangan? Atas nama kemanusiaan, tentu saja ya. Dua penulis yang hidup di dua era berbeda: kolonialisme dan Perang Dunia II itu tak disangka, ternyata bertetangga. Hanya dalam hitungan menit, dua kaki kita bisa menjangkaunya.

Berawal dari mata batin yang humanis dan pengamatan dari dekat sehari-hari, tergoreskanlah dengan pena. Sepertinya sudah menjadi kejamakan, bahwa karya besar harus ditebus dengan pengorbanan seluruh jiwa bahkan nyawa. Multatuli tak gentar dengan sanksi hukuman dari atasannya, Residen Banten: Brest van Kempen, termasuk aksi busuk Raden Wiranata Kusuma yang pernah diisukan meracuni Carolus, pendahulu Multatuli. Begitu pula Anne Frank telah melewati masa-masa kritis dalam pengasingan. Walau akhirnya kematian pun menjemputnya.

Perjalanan jiwa kedua penulis ini begitu tergoncang dan kata-kata di sekitarnya menyambut, menengadah, siap dipetik, dipilah, dibuang dan ditimbang, lalu disemai dalam bentangan kalimat khas masing-masing. Multatuli suka menyusupkan ajakan dialog dengan pembaca dalam novel Max Havelaar, Pembaca yang Budiman. Anne Frank biasa memulai pada Catatan Hariannya dengan Kitty Tersayang!

Novel Max Havelaar bukan berisi puja-puji terhadap bangsanya sendiri, sebaliknya membela 30 juta rakyat Insulinde, bagian Hindia Belanda nun jauh di ufuk timur. Buku Harian Anne Frank memotret kehidupan mencekam sebagai bangsa Yahudi yang dikejar-kejar oleh tentara Hitler. Sekitar 6 juta orang Yahudi menjadi korban kekejaman Nazi (Nationalsozialisten)

Kedua penulis berlumuran tinta kemanusiaan demi menegakkan keadilan dan kebenaran. Mereka sama-sama meninggal di Jerman. Multatuli meninggal 19 Februari 1887 di Nieder-Ingelheim, Rheinhessen, Jerman. Anne Frank diangkut tentara Nazi ke tahanan Bergen-Belsen, Jerman dan meninggal pada Maret 1945, sebulan sebelum Inggris membebaskannya.

Eduard Douwes Dekker atau dengan nama samaran Multatuli meninggalkan Belanda ke Indonesia pada usia 18 tahun. Anne Frank meninggalkan Jerman ke Belanda pada usia 4 tahun.

Dekker menjalani tugas sebagai amtenar di negeri jajahan selama 17 tahun. Sejak itu jalur hidupnya bergeser menjadi penulis. Lebak sebagai stasiun terakhir setelah ia pernah bertugas di beberapa kota seperti; Batavia, Sumatra, Purwakarta, Bagelen, Manado dan Ambon. Belum genap 2 bulan menjabat sebagai Asisten Residen Lebak, ia sudah mengadukan penyelewengan yang dilakukan oleh Bupati Banten: Raden Adipati Karta Natanegara dan menantunya: Demang Parangkujang Raden Wiranatakusuma, yang suka mencuri kerbau rakyat.

Ketika Dekker tiba di Hindia Belanda, kas negara kerajaan Belanda kosong akibat membiayai menumpas beberapa gerakan pemberontak, salah satunya perang Diponegoro. Lewat tangan jenderal Van den Bosch, politik Cultuurstelsel (Tanam Paksa) mulai diterapkan.

Sebenarnya Anne Frank menulis buku hariannya untuk dirinya sendiri. Tapi pada awal tahun 1944 dia mendengar di radio, sebuah pidato dari menteri pendidikan Belanda yang sedang mengungsi di London. Menteri itu menyatakan sehabis pendudukan tentara Nazi nanti, semua dokumen akan diterbitkan. Termasuk buku harian. Terkesan dengan pidato tadi, Anne Frank bertekad ingin menerbitkan buku hariannya. Tapi naas, pada 4 Agustus 1944, 3 hari setelah menulis buku harian terakhirnya, sebuah mobil mendatangi rumah di jalan Prinsengracht 263 itu. Polisi berseragam hijau membawa 8 orang Yahudi, termasuk Anne Frank dan Margot Frank, kakak perempuannya yang kemudian dibawa ke tahanan Nazi di Bergen-Belsen, Jerman.

Baik Dekker maupun Anne sama-sama mengasah parang saat menyeberang di negeri orang. Jiwanya mendidih, menajamkan penglihatan mata dan hati. Simak pidato Multatuli di hadapan para pejabat pribumi di Lebak:

Saya bertanya kepada Tuan-Tuan kepala di Banten Kidul, mengapakah banyak orang pergi dan tidak dikuburkan di tempat mereka dilahirkan? Mengapakah sampai pohon bertanya:

Di manakah orang yang sewaktu masih kanak-kanak sering kulihat bermain di kakiku.

Multatuli tak melulu membenci fiksi dan patuh dengan gaya realisnya. Namun juga nyerempet ke surealis. Ia hendak menghidupkan dialog antara pohon dan rakyat. Sebuah ilustrasi yang sepadan dengan tingkat pemahaman orang pribumi, dimana pohon beserta isi alam ini bagai makhluk gaib yang bisa diajak komunikasi.

Senapas dengan ilustrasi alam dan model monolog di atas, bisa ditemui pada salah satu surat Anne:

Sabtu, 12 Februari 1944

Kitty Sayang!

Mentari memancar, langit biru kelabu, angin berembus dan aku bersyukur dapat bicara, tentang kebebasan, tentang kawan-kawan, semua menjadi satu. Lebih baik menangis! Aku berpikir, seolah aku akan meledak dan aku tahu, mungkin lebih baik menangis.

Tentang tokoh-tokoh Belanda pada novel Max Havelaar, sengaja Dekker menghadirkan nama-nama imajiner, sebaliknya untuk tokoh pribumi, tetap apa adanya. Misalnya, Eduard Douwes Dekker (Max Havelaar), Lengeveldt van Hemert (Verbrugge), Carolus (Slotering).

Demikian pula tokoh bernama Kitty pada Buku Harian Anne Frank adalah imajiner, sedang nama tokoh-tokoh lain benar-benar ada di sekitarnya.

Sabtu, 20 Juni 1942:

Sekarang sudah kutemukan dalam fantasiku seorang kawan perempuan yang akan hadir, aku tidak ingin menulis Buku Harianku seperti Buku Harian yang lain. Biarlah kawan perempuan itu bersama Buku Harian, dan kawan perempuan itu bernama Kitty.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa Dekker tidak bermaksud membuat tokoh pribumi yang imajiner seperti para tokoh Belanda? Bukankah dengan nama asli, maka tokoh-tokoh pribumi mudah dilacak keberadaannya? Mungkin saja, Multatuli mengalami kesulitan bermain imajiner dengan nama tokoh lokal.

Anne jelas merasa lebih leluasa berimajinasi, segala kegundahan dan kegembiraannya akan dicurahkan kepada satu kawannya yang tak mungkin mengelak, ya karena tokoh Kitty hanya imajiner.

Perihal nama tokoh pada sebuah karya, William Faulkner punya jawabnya. Pada bukunya Faulkner in the University, ia mewanti-wanti, jangan coba-coba memakai nama tokoh yang masih hidup, jika tak menghendaki diadukan ke pengadilan.

Bisa dipastikan novel Max Havelaar adalah karya yang paling banyak dibaca terkait dengan dokumen kolonialisme Belanda di Indonesia. Tak diragukan lagi Buku Harian Anne Frank merupakan karya yang paling banyak dibaca terkait dengan rezim fasis Nazi di Jerman. Kedua karya besar ini tergolong literasi anti tirani.

Ada dua kredo yang mirip antara Dekker dan Anne. Dekker percaya diri terhadap karyanya, sehingga berujar Aku Akan Dibaca. Demikian juga terjadi pada Anne, ia bercerita kepada sahabatnya Kitty, pada 11 Mei 1944:

Kamu sudah lama tahu, bahwa keinginanku yang terbesar, pertama menjadi wartawan, dan kemudian menjadi seorang penulis terkenal. Sekarang aku sudah banyak punya tema. Usai perang nanti aku hendak menulis karya berjudul Di Belakang Rumah (Das Hinterhaus). Sebagai materinya Buku Harianku.

Ketika Max Havelaar terbit tahun 1860, Dekker berharap bisa dicetak banyak dan dijual murah, agar banyak lapisan masyarakat membaca. Namun penerbitnya melakukan yang sebaliknya, justru diterbitkan dengan kemasan mewah dan tentunya harganya mahal. Tujuannya agar peredaran novel itu terbatas. Meskipun banyak barier menghadang, 20.000 eksemplar sudah beredar luas ke pembaca.

Apa yang terjadi pada Buku Harian Anne Frank tak jauh berbeda.

Rabu, 5 April 1944

Kitty Tercinta!

….Aku akan hidup terus, setelah kematianku….

Realitasnya meskipun Anne sudah meninggal, karyanya tetap hidup terus hingga kini. Buku Harian itu dicetak lebih dari 25 juta eksemplar di seluruh dunia. Rumah persembunyian Anne Frank dikunjungi pelancong dunia sekitar 600.000 setiap tahunnya. Termasuk Yassir Arafat mengunjunginya akhir Maret 1998.

Max Havelaar menjadi buku bacaan bagi siswa-siswa di Belanda, sedang Buku Harian Anne Frank dijadikan bacaan untuk siswa-siswa di USA.

Dekker menyuntuki Max Havelaar pada usia 39 tahun (17 September – 3 November 1859). Anne Frank menulis buku hariannya pada usia 13 tahun hingga 15 tahun (Juni 1942 – 1 Agustus 1944)

Siapa Menulis Berarti Provokasi, sebuah judul kumpulan esai dari Marcel Reich-Ranicki, kritikus sastra Jerman. Ia tandaskan, penulis tak wajib menentang masyarakat, namun ia harus memprovokasi mereka. Lebih jauh ia paparkan, jika penguasa memahami bahwa kata ibarat senjata, maka keindahan kata tak dipedulikan lagi.

Beranjak dari pendapat Ranicki untuk meneropong pihak yang berseberangan dengan Max Havelaar dan Buku Harian Anne Frank, sangat relevan. Mengingat mereka, penjajah Belanda dan partai Nazi Jerman, lebih tertarik akan isi karya ketimbang takaran seni sastra yang terkandung di dalamnya.

Moechtar dalam bukunya MULTATULI (pengarang besar, pembela rakyat kecil, pencari keadilan dan kebenaran) telah menunjukkan betapa reaksi pro-kontra mencuat keras di media Belanda setelah Max Havelaar terbit. Intelektual, sastrawan, mantan amtenar Hindia Belanda ikut unjuk bicara.

Ds. W. Francken AZ, direktur Yayasan Zending di Rotterdam pada 20 Juni 1860 melayangkan surat kepada Dekker karena tersinggung. Pada Max Havelaar ada tokoh pendeta Kristen bernama Domine Wawelaar. Pendeta itu berkotbah kepada penduduk, “Telah menjadi kehendak Tuhan bahwa kita bangsa Belanda mengharuskan orang Jawa bekerja sekeras-kerasnya, bahkan sampai melampaui batas-batas kemanusiaan dan sesudah itu kita mengirimkan kepada mereka kitab-kitab Injil dan sebagainya.”

Dekker menjawab dengan bersahaja, “Wawelaar itu karikatur, yang pantas menjadi guru Kristen yang pandai, ramah tamah dan saleh. Wawelaar itu fiksi, khayal dan bohong-bohongan.”

Fransen van de Putte, menteri Daerah Jajaharn pada 8 Novem,ber 1864 mengirim surat protes kepada Gubernur Jenderal Sloet de Beele yang isinya tidak membolehkan aksi pemerasan, walau hampir semua bupati di tanah Jawa melakukannya.

Pico Bulthuis, sastrawan Belanda menulis pada koran Haagse Post di Den Haag pada 8 Januari 1955 yang menyebutkan, “Max Havelaar menimbulkan suasana `gelisah` dan `gemetaran` di seluruh negeri. Tidak pernah sebelum itu para pembaca bangsa Belanda ditunjukkan dengan cara-cara yang begitu jelas dan tajam serta realistis, begitu mengharukan dan menarik, tentang kekurangan-kekurangan yang terdapat pada pemerintah Hindia Belanda.”

Pramoedya Ananta Toer ikut meneguhkan kembali kebesaran karya Max Havelaar dengan menulis di New York Times pada 18 April 1999 dengan judul The Book That Killed Colonialism.

Paralel dengan itu, David Barnouw pada bukunya Anne Frank, Vom Mädchen zum Mythos mengusung berbagai kalangan yang mempertanyakan orisinalitas tulisan Anne. Ada tiga serangan yang cukup berpengaruh. Pertama tahun 1957 dari Harald Nielsen, kritikus sastra Denmark ini menganggap Buku Harian itu palsu. Kedua tahun 1958 dari Lothar Stielau, aktivis neo Nazi sebagai guru bahasa Inggris ini membandingkan dengan Buku Harian dari Eva Braun dan ratu Inggris, sama palsunya dengan Buku Harian Anne Frank. Akibatnya Dewan Penasihat Yahudi Pusat di Jerman meminta Otto Frank, ayah Anne untuk memberikan bantahan. Lewat penerbitnya, Fischer Verlag, disusulkan lagi edisi asli. Kasus ini berbuntut panjang hingga ke pengadilan. Ketiga, tahun 1975 David Irving, sejarawan Inggris berhaluan politik kanan mengkritik bahwa Buku Harian itu tidak penting.

Empat tahun sebelum terjadi penggerebekan rumah keluarga Anne Frank di Amsterdam, sebetulnya Belanda sudah dikuasai pasukan Hitler sejak 1940. Ratu Wilhelmina bersama para pejabat pemerintah mengungsi ke Inggris. Dengan harapan bisa menjalankan roda pemerintahan dari pengasingan. Rakyat Belanda ditelantarkan sendirian. Kota Rotterdam dihujani bom dari udara oleh pasukan Nazi. Sekitar 800 warga Belanda meninggal. Ekspansi Hitler ke Belanda, tentu berdampak melemahnya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Lepas kritik yang telah mengiringinya, Max Havelaar dianggap sebagai karya pertama di Eropa yang mengusung penindasan kolonialisme. Buku Harian Anne Frank menjadi format baru dalam dokumentasi perang.

———
*Catatan ini ditulis untuk acara Sastra Multatuli 2011 di dusun Ciseel, Sobang, Lebak pada 13 Mei 2011.

*) Dikutip dari Indonesiaartnews

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan