-->

Resensi Toggle

Mencambuk Batu, Sebuah Novel Mitologi.

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOE1Obrolan Senja Angkringan Buku membedah draft novel ini.

Sabtu, 7 Mei 2011
Pukul 16.00 – 18.00 wib
Angkringan Buku IBOEKOE, Jl Patehan Wetan 3, Alun2 Kidul Keraton, Yogya

* * *

Draft Novel Mencambuk Batu Karya Dahlia Rasyad

Oleh: Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus

Saya menduga bahwa nasib Sauya akan sama dengan umak dan mbok-mboknya. Nasib buruk menimpa mereka karena mengagung-agung lelaki, suami mereka. Lelaki, bagi mereka adalah kebahagiaan dunia dan jalan menuju surga. Namun, yang mereka terima justru neraka dunia. Meski mulanya mereka tetap kukuh dengan pandangan tersebut, akhirnya mereka roboh juga.

Nun, istri yang ditinggalkan Sobari, menjadi kepala keluarga setelah meninggalnya sang suami dan menghidupi keempat anaknya. Ia menjadi perempuan yang kasar dan sering megutuk anak-anaknya, terutama Sauya dan Mayasa, dua anak terakhirnya. Ia kerap dipukuli oleh suaminya dan tak pernah diberi nafkah lahir. Anak-anak mereka mengutuk ubaknya, tapi Nun tetap menganggapnya suami mengatar ke pintu surga.

Misna, anak pertama Nun, dicerai suaminya karena tak bisa memberikan keturunan. Sang laki menuduh Misna sebagai perempuan mandul. Lalu dicerai. Dan sang laki lari dengan perempuan lain dari desa seberang. Masih bernasib paling naas. Selama sepuluh tahun lebih bersama Benu dan menghasilkan dua orang anak, ia kerap kali dipukuli sampai berdarah, sampai kurus kerontang. Toh akhirnya ia masih menganggap Benu sebagai pintu menuju surga. Ia pernah diselamatkan oleh Sauya dari amukan lakinya, tapi ia kembali lagi lakinya. Hingga yang terakhir, Sauya hampir membunuh Benu dengan parang kalau saja tak dilerai oleh kyai, Kriya, dan orang-orang kampung.

Tak sampai di sini saja, Masinah akhirnya mati dibunuh oleh Benu di Tanjungan. Semula orang-orang kampung mengira Masinah mati karena dibunuh Hantu Banyu. Tapi Sauya tak puas. Ia berkeyakinan pasti ada hal logis yang dapat menjelaskannya. Ia pun ke kota mengundang seorang dokter. Dan benarlah, akhirnya terbukti. Masinah mati dibunuh orang, suaminya sendiri.

Sauya sendiri mengalami nasib serupa tapi tak seperti mereka bertiga. Ia memiliki pemikiran yang kuat dan logis. Ia menjadi pemikir modern tanpa tersentuh hal-hal modern. Ia dijodohkan. Mulanya ia tak mau karena ia punya cinta dengan lelaki lain yang lebih sholeh. Tapi ditentang oleh Nun karena lelaki yang dicintai Sauya dianggap tak mampu memberikan penghidupan duniawi. Nun akhirnya punya alasan paling kuat, dan Sauya menerima pinangan lelaki kaya. Sauya menikah dan tak mau diboyong oleh suaminya ke London. Ia lebih suka tinggal di Desa Beti karena alasan romantisme.

Anak yang terakhir bernama Mayasa. Ia belum merasakan penderitaan sebagaimana perempuan lain di dalam rumahnya. Meski masih berusia lima belas tahun, ia memiliki keinginan kuat untuk sekolah setinggi-tingginya. Namun harapan itu pupus dengan datangnya pasukan Nippon ke daerah mereka.

Keluarga ini turun dari Gede (nenek) Masiah. Gede Masiahlah yang banyak memberikan petuah dan cerita klasik kepada Sauya meski Sauya tak pernah percaya pada cerita-cerita mistik itu.

Pada bab pertama novel ini, ditampilkan pertentangan antara Sauya dengan umaknya, Nun. Sauya menetang perjodohannya. Konflik tak selesai pada bab ini. Masuk pada kedua, merupakan cerita antara gede Masiah dengan cucunya, Sauya. Bab ini seakan terpotong dengan bab lain. Nyaris tak memiliki hubungan peristiwa. Tak diceritakan apakah kebersamaan Sauya dengan Gedenya membuatnya menjadi gadis yang kuat. Sauya sempat melarikan diri ke hutan dan mencari mawar hitam ketika terjadi pertengakaran antara dirinya dengan Gedenya. Ketika ia pulang ke rumah Gedenya, Masih telah meninggal dunia. Innalillah Wa Inna Ilairojiun.

Bab ketiga merupakan bab paling pokok dalam novel ini. Di sini diungkap segala konflik yang menyeluruh. Masing-masing tokoh akhirnya mendapat bagian penceritaan. Namun yang membuat saya cukup bingung adalah tak ada batasan yang jelas dalam pergerakan peristiwa dan penceritaan tokoh. Tiba-tiba cerita beralih pada tokoh ini, tiba-tiba berganti cerita pada tokoh lain. Saya menduga bahwa draft yang sampai pada saya, hanya sebagian.

Pada daftar isi ada tujuh bab yang harus dirampungkan pembaca, tetapi draft yang saya baca hanya bercerita sampai bab ketiga. Bab ketiga (atau mungkin akhir dari novel ini) diakhiri dengan datangnya Nippon ke daerah tersebut dan mampu diusir oleh Gede Olek, sang punggawa desa. Nippon datang untuk mencari gadis-gadis ayu dari desa Beti dan berhasil diusir dengan Ilmu Gaib.

* * *

Sebagian orang ketika membaca novel ini barangkali akan mengatakan ini novel etnografi. Novel ini sarat dengan lokalitas, dengan rinci menceritakan lokasi, bahasa, kesukuan, dan lain sebagainya. Namun saya lebih nyaman menyebutnya sebagai novel mitologi. Dari awal hingga akhir yang dibicarakan hanya mitos. Entah mitos tradisional ala Levis-Strauss, maupun yang modern ala Barthes.

Mitos dalam karya sastra memiliki dua fungsi. Mengukuhkan dan melemahkan. Novel besutan perempuan cantik Dahlia Rasyad ini hadir untuk melemahkan mitos. Tak hanya mitos-mitos tradisional yang ia lemahkan, seperti mitos Mawar Hitam, laki-laki dan perempuan, anak dan orangtua, kupu-kupu jelmaan peri cantik, Kuuq, Hantu Banyu dan Usang Rimau. Dan mitos modern misalnya kecantikan perempuan, humberger, dan male gaze. Mula-mula, mitos-mitos itu ditampilkan secara keseluruhan, lalu dihajar habis oleh si tokoh utama, Sauya. Meski ia banyak mendapat tentangan dari penduduk desa dan dianggap “budak laknat”, akhirnya ia menang dengan pembuktian rasional. Pelemahan mitos-mitos tersebut disajikan dengan begitu natural melalui sikap keras kepala si tokoh utamanya. Hal ini membuat pembaca tak akan merasa digurui meski apa yang dimunculkan pernah kita lihat atau alami dalam kehidupan sehari-hari kita.

Pelemahan mitos yang paling tampak adalah pada mitos laki-perampuan. Ia dilemahkan dalam persidangan Sauya oleh hukum adat karena nyaris membunuh kakak iparnya. Sauya mempertanyakan hukum adat yang cenderung membela laki-laki dalam hubungan rumah tangga. Seperti lelaki boleh memukul istrinya. Pelemahan mitos ini tak hanya dilihat dari sisi rasional semata, melainkan juga agama. Sauya mengatakan bahwa dalam Alqur’an, lelaki hanya boleh menepuk istrinya, bukan memukul, itupun jika si istri tak mau diajak sholat. Bagian ini diceritakan cukup panjang, dan pada bagian ini pulalah, cerita mulai menarik, hingga akhir novel.

Tokoh utama, Sauya, digambarkan sebagai perempuan yang memiliki pemikiran modern, rasional, dan esensialis tanpa tersentuh dunia modern. Ia gadis yang melawan tradisi, menjunjung logika. Ia seolah-olah melampaui zamannya. Bagaimana tidak, novel ini berkisah pada masa sebelum kedatangan Jepang hingga Jepang datang, yang berarti kira-kira tahun 1940 dan penjajahan Jepang kira-kira tahun 1942-1945. Dan pemikiran yang menentang budaya feodal pada masa itu bagaikan mencari jarum di lautan. Apalagi oleh perempuan desa dan tak tersentuh budaya modern secara lahir dan bathin.

Sayangnya, penulis tak mempertegas dari mana Sauya mendapatkan pemikiran demikian. Dari awal Sauya hanya digambarkan sebagai gadis pembangkang, begitu pula dengan Mayasa, adiknya. Namun Sauya menjadi solusi dalam setiap perkara dan musibah yang menimpa keluarganya.

Mayasa sempat membuat saya kaget tak kepayang, dengan kemunculan humberger. Mayasa meminta umaknya untuk membantunya membuat humberger. Tapi umaknya menolak karena tak tahu apa itu humberger. Dari mana pengetahuan Mayasa mengenai humberger? Koran tak masuk desa itu, radio dan televisi apalagi? Listrik saja belum masuk.

Sebagai novel yang bercerita tentang lokalitas, bahasa lokal cukup dominan dalam setiap dialog antartokoh. Ini sempat membuat saya kelimpungan. Saya harus ditemani sebuah kamus besar dalam menyelesaikan pembacaan. Sebagaimana yang saya alami ini, pemakaian bahasa lokal yang terlalu dominan bisa menjadi kelemahan dalam sebuah novel. Pembaca akan mengalami kesulitan dalam upaya memahami setiap konflik yang muncul. Namun di sisi lain bisa menjadi peluang yang bagus karena menjaga orisinalitas.

Sepanjang pembacaan saya, pemakaian bahasa lokal ini akan cenderung mempersulit pembaca. Pasalnya, kata penyair kondang Mutia Sukma, bahasa lokal yang digunakan adalah bahasa yang berlaku di desa penulisnya saja, bukan bahasa lokal Palembang yang bisa dipahami oleh masyarakat Palembang pada umumnya. Pernahkah penulis novel ini membaca sebuah novel yang dominan bahasa lokal yang tak ia pahami? Hal ini masih perlu dipertimbangkan lagi.

Hal terakhir yang cukup mengusik saya adalah kalimat pengantar utama—harusnya ia menjadi pengusik pertama—tapi ini terjadi setelah saya selesai membaca keseluruhan naskah.

Bunyinya begini, “Baginya yang seorang modernis, esensialisme terasa seperti kotak kecil hitam tanpa pintu-jendela yang memungkinkan seseorang bergerak lebih leluasa dan bernafas lebih lega. Dan pada akhirnya, baginya yang seorang esensialis, pukau modernitas sebagai suatu mesin penghancur hati nurani. Terasa mengerikan, seperti sebuah dinding hitam yang perlahan bergerak menghimpit diri sendiri.”

Kalimat ini terasa lumayan susah dipahami dalam upaya mengetahui kemauan pertama penulis. Seolah mengisyaratkan bahwa novel ini adalah novel yang sangat berat dan penuh pemikiran-pemikiran filsafat barat. Jika pembaca mula-mula memberikan pengartian yang mendalam pada kalimat tersebut, saya khawatir ia akan terpeleset dan kecewa.

* Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus, Koordinator Obrolan Senja

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan