-->

Literasi dari Sewon Toggle

Komunitas Peresensi Buku Jogja Ngeteh di Patehan

KopajaSabtu, 30 April Pkl. 16.00 Komunitas Peresensi Jogjakarta (KPJ) mengadakan pertemuan di IBOEKOE (Indonesia Buku) Jl. Patehan Wetan no.3, Alun-alun Kidul. Kami bertemu dengan Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) dan Subhan Ahmad. Mereka berdua dan beberapa orang adalah pengelola IBOEKOE. Apa yang mereka lakukan di IBOEKOE patut diacungi jempol. Kami salut.

Sembari minum teh kami ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia resensi. Gus Muh banyak bercerita perihal dunia resensi tempoe doeloe, yang boleh jadi tidak banyak orang yang tahu. Bagaimana misalnya tokoh-tokoh yang kita kenal saat ini adalah dulunya pegiat resensi, seperti Goenawan Mohamad, Eep Saefulloh Fatah, Budi Darma, dan lain-lain. Mereka sangat jago dalam meresensi buku. Goenawan Mohamad banyak sekali meresensi buku Nh. Dini, entah ada apa, ujar Gus Muh.

Gus Muh juga mencoba membandingkan tipe resensi tempoe doeloe dengan saat ini. Dulu, kata dia, resensi-resensinya banyak yang “galak,” kritisnya minta ampun. Para peresensi banyak yang “membunuh” buku yang sedang mereka resensi. Salah satunya resensi Abdullah Said Patmadji (S.P.). Kejadiannya pada tahun 1962. Abdullah S.P. meresensi buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang dimuat di harian Bintang Timur.

Metode resensi yang digunakan Abdullah S.P. adalah metode komparasi. Dia membandingkan dengan karya Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, sastrawan Mesir, berjudul Al-Majdulin. Perbandingannya sangat detail, sampai-sampai resensinya terus bersambung dalam beberapa edisi. Hasil bacaan Abdullah S.P. mengerucut pada satu kesimpulan bahwa karya Hamka tersebut plagiasi dari karya Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi. Anehnya, banyak orang mengira resensi itu ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, padahal jelas-jelas yang menulis Abdullah S.P. Dan polemik itu berlangsung sampai dua tahunan.

Subjek pembicaraan kami terus beranjak ke seputar dunia resensi di era sekarang. Adanya media net (online) bisa menjadi alternatif untuk menulis resensi dengan sebebas-bebasnya, di samping menulis versi media cetaknya, kata Gus Muh. Gus Muh juga banyak memberikan masukkan yang berharga bagi kami. Begitu juga Mas Subhan Ahmad. Semoga suatu ketika kami akan mengamalkannya.

Ah, sebetulnya masih banyak yang bisa aku ceritakan perihal pertemuan kemarin, tapi aku sudah di sms Semar untuk minta traktir makan jengkol di Papringan, lantaran hari ini resensiku dimuat di Seputar Indonesia (Sindo).

Ok, kawan-kawan, semoga bermanfaat. Salam teh hangat.

Kepada Gus Muh, Mas Subhan, dkk.. kapan-kapan kita ngeteh lagi di Patehan. Terima kasih ya.

M. Iqbal Dawami

Minggu, 1 Mei 2011, Pkl. 10.00 WIB

Turut naik dalam “Kopaja”:

  1. Ali Usman
  2. M Iqbal Dawami
  3. Abdul Hafid
  4. Moh Khaliullah A.R.
  5. Supriyadi
  6. Maghfur AR
  7. Taufiq
  8. Bramma Aji
  9. Humaidy AS
  10. Munawir Azis
  11. Abdul Kholiq
  12. Fatkhul Anas
  13. Noval Maliki
  14. Muhidin M Dahlan
  15. Ahmad Subhan a.k.a Galih

[audio:ngetehdipatehan.mp3]

2 Comments

udin - 03. Mei, 2011 -

gus muh memang luar biasa.

Tanzil - 03. Mei, 2011 -

Bravo! gimana kalau sharing ttg dunia resensi dulu dan sekarang itu dijadikan tulisan sendiri oleh Gus Muh?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan