-->

Kronik Toggle

Komunitas Malioboro Ternyata Gemar Membaca

YOGYAKARTA – Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro Sujarwo Putra menegaskan, saat ini, kebanyakan orang menganggap komunitas Malioboro, seperti penarik becak, tukang parkir, atau pelayan toko dianggap orang yang malas membaca. Padahal menurutnya, fenomena anggota komunitas yang senang bermain catur, ngobrol, atau tidur-tiduran di becak hanya sebagian kecil dari seluruh fenomena yang ada.

“Saya melihat ibu-ibu yang gemar membeli dan menyewa tabloid, tukang becak dan PKL yang bergiliran membaca koran, bahkan koran lusuh sekalipun,” terang Sujarwo di Balaikota Yogya, Kamis (12/5).

Ia menambahkan, bukti lain adalah adanya taman bacaan keliling Pustaka Mletik, yang cukup diminati warga komunitas Malioboro. Taman bacaan yang berdiri sejak Mei 2010 ini menurutnya telah memiliki lebih dari 1000 buku.

“Penggemar Pustaka Mletik adalah seluruh komunitas Malioboro, siapa saja yang beraktivitas di Malioboro. Karena sifatnya sukarela, anggotanya baru 220 anggota dari 800 anggota komunitas yang membaca dan meminjam buku di Pustaka Mletik,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, banyak anggota komunitas yang berumur dibawah 40 tahun menggemari buku inspirasi, motivasi dan ketrampilan. Sementara ibu-ibu di Malioboro menggemari buku memasak, tabloid, buku inspirasi, dan buku agama. Sementara untuk iuran anggota, pihaknya tidak menargetkan karena hanya bersifat sukarela.

“Karena sifatnya sukarela, potensi pemasukannya Rp440 ribu dari 220 anggota, dengan iuran dua ribu per bulan, realisasinya hanya Rp100 ribu per bulan,” pungkasnya.

Sumber: Krjogja.com, 12 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan