-->

Kronik Toggle

Kirim Kado ‘9 Buah Bom Buku’, Dua Pelajar Diperiksa

Bengkulu – Gara-gara iseng mengirimkan kado bertuliskan “9 Buah Bom Buku”, dua siswi asal Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, harus berurusan dengan polisi.


Mereka berinisial Re, 15 tahun, dan Ri, 15 tahun, dibawa ke Markas Polres Rejang Lebong untuk menjalani pemeriksaan. Kepada polisi, mereka mengaku paket tersebut dikirimkan kepada Pandu, 16 tahun, dengan tujuan membuat kejutan pada hari ulang tahunnya. “Mereka memang sengaja menuliskan ‘9 Buah Bom Buku’ di atas kertas kacang pembungkus kado, dengan maksud iseng mengerjai Pandu di hari ulang tahunnya,” ujar Kepala Polres Rejang Lebong Ajun Komisaris Besar Umar Sahid kepada wartawan, Sabtu, 14 Mei 2011.

Kedua remaja itu tidak pernah menyangka jika paket yang sebenarnya hanya berisi permen, Al-Quran, dan gitar tersebut akhirnya membuat heboh masyarakat dan pihak kepolisian.

Menurut Umar, kehebohan ini bermula saat adik Pandu, Aldo, 10 tahun, pada 13 Mei 2011 sekitar pukul 11.00 WIB, menemukan paket bertuliskan “9 Buah Bom Buku” di teras depan rumahnya.

Temuan itu membuat Aldo yang saat itu sendirian di rumah takut. Dia menceritakan keberadaan paket tersebut kepada tetangganya yang langsung melaporkan penemuan tersebut ke Polres Rejang Lebong. “Mendapatkan laporan tersebut sekitar pukul 13.15, kami langsung mengirimkan anggota Brimob ke TKP,” ujarnya.

Pihak polisi langsung mengamankan lokasi dan memberi pagar pembatas. Sementara paket dibawa ke markas Brimob Rejang lebong sembari menunggu tim Gegana Polda Bengkulu.

Berdasarkan penyelidikan, kata Umar, kepolisian akhirnya menemukan pengirim paket yang diduga bom tersebut. Kedua pelaku langsung diamankan ke Markas Polres Rejang Lebong. “Kedua pelajar masih diperiksa untuk kepentingan penyidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Polda Bengkulu Brigadir Jenderal Burhanudin Andi mengatakan, hingga saat ini Polda terus melakukan penyelidikan terkait penemuan teror bom di beberapa daerah di wilayahnya.

Ia juga menilai fenomena teror bom yang dilakukan beberapa pelajar ini tentu saja meresahkan masyarakat. Sekalipun hanya dalam kapasitas iseng dan tidak membahayakan. “Terpenting masyarakat tidak usah panik, tetap waspada dan tanggap jika melihat sesuatu yang mencurigakan,” ujarnya.

PHESI ESTER JULIKAWATI

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 14 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan