-->

Kronik Toggle

Buku tentang KH A Wahid Hasyim Diluncurkan

JAKARTA—Memperingati satu abad kelahiran KH A Wahid Hasyim, keluarga besar KH A Wahid Hasyim mengadakan serangkaian acara. Acara diadakan di beberapa kota di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

Sabtu (30/4), acara bedah buku Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim diadakan di auditorium Kementerian Agama, Jakarta. Acara ini digelar bekerja sama dengan Kementerian Agama RI. “Beliau tidak hanya pemikir yang baik, tapi juga dapat mewujudkan pikiran-pikirannya,” ucap Salahudin Wahid (Gus Solah), yang mewakili pihak keluarga.

Buku Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim mengupas pergulatan KH Wahid Hasyim dalam perannya di Majelis Alam A’la Indonesia, keterlibatannya dalam pendirian Masyumi, dan perjuangannya memimpin Nahdlatul Ulama. Juga mengupas peran KH Wahid Hasyim selama menjadi Menteri Agama di tiga kabinet dan pergelutannya di kancah politik di era penjajahan Belanda dan Jepang.

Bersamaan dengan itu, dibedah pula buku Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah pribadi yang meliputi berbagai aspek terkait dengan Wahid Hasyim.

Jadi, isi buku yang kedua ini merupakan persepsi dari generasi penerus terhadap pendahulunya. Penulisnya pun datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan latar belakang profesi.

“KH A Wahid Hasyim merupakan sosok bapak yang baik. Beliau juga sosok yang cerdas, karena beliau amat gemar membaca. Bahan bacaannya pun tidak terbatas,” tutur Gus Solah. Bagi pengamat politik Yudi Latif, KH Wahid Hasyim merupakan sosok yang memberikan pengaruh kuat untuk membaca.

“Hal ini terbukti dari kebiasaan kelima anaknya yang juga gemar membaca,” ujar Yudi. Kelima anak KH A Wahid Hasyim yaitu Abdurrahman Wahid, Aisyah, Salahudin Wahid, Lily Wahid, dan Muhammad Hasyim.

Menurut Yudi, KH A Wahid Hasyim merupakan sosok mujahidin baru. Hal ini terlihat dari sosoknya yang memberikan ide dalam pendirian IAIN, Yayasan Perjalanan Haji, dan hakim wanita di Peradilan Agama (PA).

KH A Wahid Hasyim juga mempertemukan pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Selain itu, jasanya untuk pergerakan kemerdekaan juga tidak dapat dilupakan begitu saja. Bersama beberapa tokoh Islam lainnya, ia tidak keberatan mencoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta, berupa pernyataan yang menegaskan “menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Sikap ini menunjukkan KH A Wahid Hasyim bisa membedakan mana hal yang bersifat mendesak dan mana hal yang bisa dimusyawarahkan lagi.

Tapi, generasi saat ini kurang mengenal sosok KH A Wahid Hasyim. Selain karena wafat dalam usia relatif muda, yakni 39 tahun, juga karena banyak karya dan pemikiran Wahid Hasyim yang tak terdokumentasi dan terpublikasi dengan baik.

Penerbitan buku ini diharapkan akan mengingatkan kembali pada sosok dirinya dan mendorong generasi muda mengkaji kembali pemikiran, gagasan, dan jejak langkah KH Wahid Hasyim. Dan, tentu saja menafsirkannya kembali mengacu pada konteks zaman. Di mata Gus Solah, sosok KH A Wahid Hasyim merupakan sosok yang sudah jarang ditemui sekarang ini.

Acara peringatan Satu Abad KH A Wahid Hasyim ini merupakan bentuk penghormatan dan upaya mengangkat pemikiran-pemikiran dia tentang pembaruan Islam Indonesia. “Ada nilai kejuangan dan peran menonjol dari dirinya untuk kemerdekaan sebagai tokoh brilian yang progresif, bahkan memberi nilai baru pada Departemen Agama,” ungkap Ketua Umum Panitia Pelaksana Satu Abad KH A Wahid Hasyim, Aisyah Hamid Baidlowi.

Dalam bedah buku itu, hadir beberapa tokoh, di antaranya mantan wakil presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Suryadharma Ali, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, pengamat politik Yudi Latif, serta keluarga besar dari KH A Wahid Hasyim.

Rangkaian acara memperingati Satu Abad KH A Wahid Hasyim dimulai dengan lomba karya tulis ilmiah (LKTI) mengenai Wahid Hasyim yang diikuti oleh 260 makalah dari kategori santri/pelajar dan mahasiswa/umum. Rangkaian kegiatan akan diakhiri dengan seminar nasional mengenai pemikiran politik Wahid Hasyim pada 25 Juni 2011.  c10 ed: priyantono oemar

*) Republika, 3 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan