-->

Kronik Toggle

Buku Monggo Dipun Badhog

Setelah sukses dengan karya-karya terdahulunya yang lebih banyak bertutur tentang kehidupan serta dinamika Kota Surabaya dimasa lalu, sebuah buku yang masih memilih latar belakang masa lalu Surabaya, Monggo Dipun Badhog segera diluncurkan.

DUKUT IMAM WIDODO sang penulis, menyampaikan bahwa karya tebarunya itu masih tetap sama, dengan latar belakang kehidupan Surabaya dimasa lalu, tetapi memiliki perbedaan tajam jik adibanding dengan karya-karya terdahulunya.

“Secara khusus buku ini memang berisi thethek bengek makanan, jajanan, atau kuliner khas yang ada di Surabaya dimasa lalu, yang barangkali keberadaannya dimasa sekarang ini sudah sangat sulit dijumpai,” kat DUKUT.

Kalau buku-buku sebelumnya tak ubahnya sebuah perjalanan sejarah Kota Surabaya lengkap dengan tradisi serta bahasa khas Suroboyoan, pada karya terbarunya yang memilih judul: Monggo Dipun Badhog, tak ubahnya catatan tentang makanan dan jajanan khas Surabaya.

“Karena itu, saya memilih judul Monggo Dipun Badhog yang memang identik dengan makanan, atau dalam istilah Suroboyoan dikenal dengan: badhogan. Dan semoga ini melengkapi buku-buku saya terdahulu,” lanjut DUKUT ketika ditemui suarasurabaya.net, Sabtu (28/05).

Dari buku terbarunya itu, suarasurabaya.net, mencoba membaca beberapa lembar bagian, diantaranya menampilkan: Arumanis, Blendhung, Bongko Menthuk, Lontong Balap dan Lupis Campur.

Dijadwalkan Monggo Dipun Badhog buku terbaru DUKUT IMAM WIDODO, diluncurkan Minggu (29/05) bertepatan dengan puncak acara Stamboel Surabaia dalam rangka peringatan HUT ke 718 Surabaya, yang digelar Sjarikat Poesaka Soerabaia.(tok)

*)suarasurabaya.net 28 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan