-->

Lainnya Toggle

Buku Mercusuar Peradaban

madunOleh Muhammadun AS

Buku merupakan prasyarat utama peradaban menggapai kemajuan dan kejayaan. Dari buku, akan lahir berbagai pemikiran cerdas nan cemerlang yang mampu menyingkap tabir alam semesta ciptaan Tuhan. Buku hadir bukan sekadar ditulis, dijual, dibeli, dan dibaca. Buku menghadirkan titik-titik pusar hidup yang dapat dijadikan starting point membuka perubahan. Berubah dari kegelapan menuju kecemerlangan. Dari miskin konsep menuju kaya konsep.
Dari sini, dapat dianalisis bahwa kedatangan Muhammad di Jazirah Arab oleh Allah pertama-pertama dibekali dengan buku berupa Alquran, yang perintah pertamanya adalah membaca (iqra’). Dari Alquran inilah Nabi sukses memahat Jazirah Arab sebagai monumen berdirinya negara demokrasi paling bersejarah di dunia.

Tidak salah kalau Robert N Bellah, sosiolog terkemuka AS, memandang kesuksesan Muhammad sebagai paling sempurna. Karena lewat petunjuk Alquran, Muhammad mampu membangun fondasi lahirnya demokrasi di Madinah yang oleh Bellah dikatakan sebagai negara modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran sosiologis-geografis Madinah waktu itu. Karena tatanan infrastruktur dan suprastruktur Timur Tengah waktu itu belum mampu menopang modernitas Madinah yang dibangun Muhammad.

Tidak ragu lagi, buku bagi Azyumardi Azra (2004) merupakan salah satu sumber terpenting dalam pembentukan pandangan dunia (world-view), cara berpikir, karakter, dan tingkah laku sehari-hari. Karena dengan buku, manusia akan mendapatkan inspirasi mahadahsyat yang menjejali pikiran dan karakternya sehingga mampu menggenggam dunia. Dengan buku, kita akan menjelajah seluruh ruang kehidupan sampai yang paling misterius sekalipun.

Tidak salah kalau dalam beberapa abad yang silam, bagaimana usaha serius dari Julius Caesar di Zaman Kekaisaran Romawi dahulu untuk mengoleksi seluruh papirus dan perkamen dari seluruh negara taklukannya, seperti Mesir, Yunani, dan lain-lain, untuk perpustakaan pribadinya. Konon tertulis di dalam catatan sejarah, Julius Caesar juga mengerahkan sejumlah pasukannya untuk merebut dan memboyong 40 ribu gulungan papirus dari perpustakaan Alexandria, yang saat itu tergolong terbesar di dunia.

Hal senada juga dilakukan Harun al-Rasid dan putranya al-Makmun. Khalifah Bani Abbasyiah ini membuat perpustakaan baitul hikmah sebagai ajang membaca, diskusi, bedah buku, menerjemahkan buku, penelitian, dan ihwal pengembangan keilmuan lainnya. Kedua pemimpin Islam itu menerjemahkan buku-buku besar dari Yunani, Persia, dan Romawi.

Peradaban Abbasyiah yang maju luar biasa, menjadi tolok ukur peradaban dunia pada zamannya. Dan, dari sinar peradaban itulah, Eropa mendapatkan cahaya pencerahan abad ke-17. Sebelumnya, Eropa adalah bangsa barbarian yang bangga karena ketidakmampuannya membaca. Kini, Eropa ganti menjadi mencusuar peradaban dunia.

Begitu hebatnya makna buku dalam menggenggam dunia, maka sebuah keniscayaan bagi kita untuk terus bergelayut dengan buku.  Adalah Richard Booth, salah seorang warga Wales, Inggris, yang pertama kali memiliki gagasan sebuah kota buku. Tahun 1961, ia mendirikan kota buku di Wales dengan nama Hay on-Wey. Lokasi itu berada di tepi sungai Wey yang dikelilingi deretan pegunungan nan indah Black Contains. Dengan dominasi lingkungan Istana Hay yang anggun, Booktown Hay on-Wey mampu menyajikan sebuah model percontohan pengembangan pedesaan dan pariwisata.

Berkat gagasan tadi, sekarang di kota itu terdapat 40 toko buku yang menawarkan koleksi buku-buku kuno dan terbaru atau buku-buku terkenal di dunia. Sehingga masyarakat pecinta buku bisa memperoleh buku-buku sesuai yang diinginkan. Dampak paling dirasakan adalah keberadaan kota buku mampu menumbuhkembangkan penerbitan di sana.

Sampai tahun 1997, setelah Booktown Hay on-Wey berdiri, model desa buku pun berkembang di berbagai negara. Sejak itu hingga kini tercatat 19 desa buku berdiri di Eropa dan Asia dengan spesifikasi berbeda sesuai kondisi negara-negara bersangkutan. Malaysia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki desa buku, yakni Kampung Buku Langkawi yang diresmikan Dr Mahatir Mohammad, dengan koleksi hampir setengah juta buku.

Sebagai mercusuar peradaban, buku menjadi agen penting tumbuhnya kesadaran kritis berbangsa. Indonesia sampai kini belum memberikan perhatian penuh terhadap pengembangan buku. Masyarakat Indonesia masih “bangga” dengan ketidakmampuannya membaca.

Terbukti jumlah orang buta huruf di Indonesia masih banyak. Kalau di kota besar, kita bisa menjumpai beragam perpustakaan. Tetapi di desa? Kok perpustakaan, toko buku saja masih sangat minim. Masyarakat lebih dikejar gaya hidup budaya pop. Laju budaya pop begitu bergemuruh, sedangkan laju buku terhambat, pampat di jalan.

Kalau bangsa ini ingin masyarakat desanya menjadi berperadaban, proyek pembuatan perpustakaan bukan sekadar di wilayah kabupaten. Tetapi juga, sampai di pedesaan. Pemerintah pusat perlu membuat kebijakan agar seluruh pemerintahan desa membuat perpustakaan umum warga. Di sanalah nanti akan terjadi transmisi keilmuan yang merata. Nalar kritis akan terbangun.

Tetapi, juga tidak hanya itu, karena kemampuannya pemerintah dalam menyediakan buku juga terbatas. Bagi kaum terpelajar, khususnya intelektual yang telah banyak “makan” buku, seharusnya juga berinisiatif mendirikan rumah baca bagi tetangganya, minimal. Apalagi, kalau si kaum terpelajar langsung terjun memelopori semangat membaca warga. Di situlah akan tercipta masyarakat kritis dan kreatif baru yang dapat mengubah sejarah peradaban dunia.
Muhammadun AS, Pengrajin Buku, Peneliti Cepdes Jakarta
Sumber: Republika, 19 Mei 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan