-->

Lainnya Toggle

Buku-Buku Orang Mati, Pindahan, dan Buangan

SigitOleh Sigit Susanto

Nasib orang mungkin lebih banyak ditentukan oleh lingkungannya. Lingkungan angon bebek, kita diajari cara angon bebek di sawah, dimana anak-anak bebek kecil perlu dituntun dengan penghalau bambu panjang nan runcing.

Konon awalnya ujung bambu itu selalu diikat beberapa bulu induk bebek, sehingga ketika tukang angon mengacungkan arah bambu, kontan barisan anak bebek mengikutinya. Aroma bulu induknya menyebar. Seolah-olah sang ibu ada di barisan paling depan dan bebek-bebek muda ini harus tunduk sang mami, hendak dibawa entah ke mana.

Jika ada anak bebek yang mbalelo, tak segan-segan tukang angon bebek menghalau bahkan kadang memukul pelan, sebagai bentuk straf bagi yang melanggar aturan.

Bukan salah bunda mengandung, jika anak-anak di Eropa begitu lahir cenger, dan beranjak dewasa, tak tahunya mereka bukan berada di lingkungan persawahan. Mereka tak pernah diajari cara membuat telur bebek asin yang harus dibalut abu bercampur garam.

Bukan salah mereka, jika tak tahu dimana buah kakao, walau cemilannya sejak TK sudah chocholate. Bisa dibuktikan, betapa turis-turis gaek dari Eropa di negeri sendiri mengagumi, pada daun putri malu alias bahasa latinnya, mimosa itu kalau disentuh menjadi mengatup alias tidur.

Anak-anak Eropa beruntung dalam segi yang lain. Lahir ceprot dan tumbuh nalarnya, ternyata lingkungannya berpagar perpustakaan, toko buku, dan toko buku bekas. Hidup mereka dikepung buku di segala arah. Saking banyaknya buku, sehingga tak perlu buku ditaruh menumpuk di rumah.

Saripati buku adalah jika usai dibaca, bukan menggunung. Nilai intelektual bukan harus diukur dengan banyaknya buku di ruang tamu, tapi telah dioper ke bunbunan yang setiap waktu meleleh, tergantung panas bumi.

Untuk apa memenjarakan buku di rumah yang ruangannya sempit.

Bagi warga yang bukunya usai dibaca, maka harus segera membagi kepada sesamanya. Ada nilai sosial menyeruak. Bagi warga yang akan pindah rumah atau apartemen, tak perlu repot-repot memikirkan semua bukunya.

Bagi pensiunan profesor yang menjelang ajal, jika kontrak hidup sudah menjemput, maka semua koleksi bukunya bisa dihibahkan.

Lalu ke mana?

Ada dua tempat di kota-kota Switzerland yang siap menampung buku bekas.

Pertama, Brockenhaus, yakni sebuah gudang kota yang hampir tiap kota punya. Di gudang ini menumpuk rongsokan sepatu ski, TV, lampu, sofa, lukisan, hingga jam tangan dan tentunya buku bekas. Di Brockenhaus ini semua barang milik warga yang dihibahkan, disortir kembali, jika buku layak baca dan bersih, maka akan dijual lagi dengan harga miring. Maka di gudang barang rongsokan itu tak heran, jika ada rak buku memuat banyak buku-buku aneka tema dan format.

Kedua, Bücher-Brochy ( http://www.buecher-brocky.ch/ ) sebuah usaha sederhana yang menerima hibah buku bekas. Bahkan usaha yang khusus menjual buku ini siapkan armada mobil untuk mengambil, jika sang calon penghibah bukunya cukup banyak. Jika bukunya hanya 1-2 kantong, diminta diantar sendiri.

Pengalaman mengunjungi Bücher-Brochy di kota Luzern, cikal bakalnya, kini telah punya cabang di 4 kota lain: Enge (Zurich), Aarau, Basel dan Bern. Ternyata jenis bukunya yang didominasi sastra, bervariasi. Kota Basel misalnya yang ada universitasnya, dimana prabu Nietzsche pertama dikalungi titel profesor di usia 25 tahun. Di Bücher-Brocky di Basel ini yang paling banyak kuangkut sebagai koleksi.

Rak-rak buku berderet dibagi sesuai jenis kelaminnya. Sastra; trivial, fantasi, unterhaltung, literatur. Di Bücher-Brocky harga cukup bersaudara, paperback seharga Rp 14.000 (Sfr.1.50), buku jenis hard cover seharga Rp 24.000 (Sfr.2.50), buku tebal dan besar rata-rata seharga Rp.55.000 (Sfr.4.50)

Yang memukau, setiap Bücher-Brocky rata-rata punya koleksi sejumlah 100.000 buku. Pantauanku di beberapa tempat berbeda, buku Karl May edisi kuno sering mejeng di depan kasir. Kadang geli juga di tengah rerimbunan ribuan buku itu terselib novel tetraloginya Pramoedya dalam bahasa Jerman. Ronggeng Dukuh Paruknya Pak Tohari kutemukan di sela-sela buku itu. Novelnya Senja di Jakarta Mochtar Lubis sering ngintip di rak itu. Sejak dua tahun ini sering kutemukan novel bersampul cokelat dengan bibir sensual, siapa lagi kalau tidak novel Saman dari Ayu Utami.

Begitulah, siapa dikepung bebek, akan tahu banyak tentang dunia bebek. Siapa dikepung buku, akan tahu banyak tentang dunia buku. Linus Suryadi bilang dalam proses kreatifnya, jika untuk menjadi penyair diharuskan banyak baca buku sejak kecil, ya aku tidak bisa jadi penyair, wong kecilku angon bebek. Begitulah kira-kira ucapannya.

Salam

Sigit Susanto, Angon buku dan membaca bebek. Tinggal di Swiss

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan