-->

Lainnya Toggle

Berbagi Buku: Tradisi Baru Kota Pelajar

Perpustakaan Kota JogjaOleh: Afia Rosdiana

Tradisi memberi dan berbagi sudah sejak lama ada dan berakar dalam masyarakat Indonesia, baik yang dilakukan secara turun-temurun maupun yang modern. Berbagi ketupat dan parcel  lebaran, tradisi nanggok yaitu memberi uang kepada para tamu saat lebaran di Kalimantan Barat, memberi angpao saat hari raya imlek, memberi kado ulang tahun, bahkan di kalangan  petani juga ada kebiasaan berbagi hasil panen kepada para tetanganya. Tradisi berbagi dapat tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat selain karena kebiasaan juga sebagian dilandasi oleh keyakinan secara relijius bahwa memberi akan mendatangkan keberkahan, sehingga tidak berlebihan jika memberi seringkali mendatangkan suatu keajaiban (meminjam istilahnya Ustadz Yusuf Mansyur: ”The Miracle of Shodaqoh”).

Di kalangan kaum terpelajar, mulai berkembang kebiasaan memberi hadiah ulang tahun, perkawinan, bahkan bawaan saat menengok teman yang sakit dengan sebuah buku. Kebiasaan ini  setidaknya merupakan “kampanye mandiri” dalam menggugah budaya baca masyarakat, bahkan bisa saja menjadi suatu tradisi kaum terpelajar yang memberi gengsi tersendiri. Tradisi berbagi buku jika dikembangkan tentu membawa dampak yang sangat positip baik untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat maupun “penghematan” sumber daya alam untuk memproduksi buku.

Sebagaimana kita maklumi, buku dinegeri ini masihlah sangat penting peranannya dalam memberantas kebodohan dan merupakan bahan utama dalam dunia pendidikan. Meskipun di tengah-tengah kemajuan teknologi digital, namun buku belumlah dapat dilepaskan dari kehidupan karena berbagai keterbatasan akses sebagian masyarakat akan teknologi informasi dan computer (ITC), pun kekhasan buku tidaklah dapat tergantikan keseluruhannya. Dengan demikian, maka kebutuhan buku semakin hari semakin besar seiring dengan kesadaran kebutuhan akan informasi dan kemajuan peradaban.

Disisi lain, sampai saat ini bahan baku kertas sebagian besar adalah kayu dan berbagai bahan kimia serta air yang tentu mempuyai dapak yang tidak kecil terhadap kelestarian lingkungan. Menurut para ahli, ada berbagai fakta bahwa untuk membuat 1 ton kertas setidaknya dibutuhkan 3 ton kayu dan puluhan ton bahan lainnya termasuk air, khabarnya untuk memproduksi 1 kg kertas saja dibutuhkan 324 liter air. Dalam memproduksi kertas baik proses kimiawi maupun mekanik, tentu dihasilkan limbah cair dan padat, serta supply bahan bakar yang luar biasa besar.Dengan fakta tersebut, maka tidak heran para pencinta lingkungan khawatir bahwa prouksi kertas yang sangat besar akan  berbenturan dengan kelestarian lingkungan. Lalu bagaimana jalan keluar agar kebutuhan akan buku sebagai upaya manusia untuk keluar dari kebodohan dan penyebaran pengetahuan dapat terpenuhi, disisi lain  kelestarian sumber daya dan alam dapat terjaga?

Meski baru dalam lingkup yang kecil, Bank Buku yang diprakarsai Walikota Yogyakarta Bapak Hery Zudianto yang telah diluncurkan pada bulan April 2010 di Perpustakaan Kota Yogyakarta membawa harapan baru suatu mekanisme mengoptimalkan pemanfaatan buku untuk masyarakat yang lebih luas. Bagaimana tidak membawa optimisme tersendiri, dalam waktu kurang dari setahun, telah berhasil dihimpun hampir sepuluh ribu buah buku dari “pendonor” dan secara simultan juga disalurkan kepada yang membutuhkan. Dengan mekanisme ala “bank” maka sumber daya pengelola bank buku-pun menjadi sangat ringan karena bank buku hanya merupakan wahana untuk penghimpun, dimana para penyumbang dengan antusias datang ke bank buku, demikian sebaliknya bagi yang membutuhkan juga datang sendiri untuk mengambil buku yang dibutuhkan.

Suatu pelajaran yang sangat penting dari Bank Buku Perpustakaan Kota Yogyakarta adalah telah tumbuh suatu tradisi baru di kalangan masyarakat untuk saling berbagi buku. Hal ini tentu tidak terlepas Yogyakarta yang dikenal sebagai kota Pendidikan, dimana secara fisik terdapat banyak sarana dan prasarana pendidikan,  dan secara non fisik adalah budaya masyarakat yang ditandai dengan kentalnya atmosfir akademis.  Budaya baca yang tinggi tentu merupakan bagian integral yang  tak dapat dipisahkan, bahkan harus beriringan dengan pengembangan budaya akademis.

Bagi masyarakat Yogyakarta yang multikultur, budaya baca tentu dapat menjadi jembatan dan media untuk saling berinteraksi sehingga melahirkan kesepahaman antar berbagai entitas dan budaya yang ada dalam masyarakat. Hal ini dapat tercapai dengan meningkatnya literasi di kalangan masyarakat, yang tentu memerlukan dukungan bahan bacaan yang memadahi pula. Dengan  adanya bank buku yang secara teknis menjembatani “perputaran buku” antar masyarakat dari para pendonor kepada recipient, maka secara nyata pula telah mengurangi produksi fisik buku yang pada gilirannya akan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. Semoga tradisi berbagi buku melalui bank buku dapat terus bergulir dan merambah ke tempat lain. Semoga dari Yogyakarta telah lahir tradisi baru untuk Indonesia yang lebih maju.

Sumber: Website Perpustakaan Kota Yogyakarta

*) Afia Rosdiana, Kasie Pengelolaan Perpustakaan pada Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta

**) Artikel ini pernah dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan