-->

Resensi Toggle

The Life Death of Yukio Mishima | Henry Scott (1974)

Mishima 3HENRY SCOTT STOKES. THE LIFE DEATH OF YUKIO MISHIMA Ballantine Books, New York, 1974

PADA 25 November 1970, Yukio Mishima, novelis Jepang terkemuka, melakukan harakiri di Markas Besar Angkatan Darat yang terletak di jantung Kota Tokyo.

Padahal, ketika itu, Mishima, yang lahir di Kimitake, Hiraoka, 14 Januari 1925, memiliki segala impian yang didambakan seorang penulis: kemasyhuran internasional, pujian untuk karya-karyanya, kekayaan, istri, dan anak.

Di samping itu, banyak orang yang mengunggulkan Mishima, yang juga aktif dalam kegiatan teater dan film, bakal mendapat Hadiah Nobel untuk kesusastraan. Bunuh dirinya bukan merupakan suatu tindakan yang diakibatkan oleh tragedi yang menimpa dirinya. Tapi lebih merupakan suatu kejadian yang disaksikan oleh orang banyak dan diatur sedemikian rupa-rapinya. Apakah bunuh diri Mishima merupakan suatu tindakan yang dilatarbelakangi politik? Atau sekadar suatu permainan cinta erotis dengan maut?

Tak ada satu motivasi yang dapat menerangkannya dengan gamblang tindakan Mishima yang begitu terobsesi dengan harakiri, suatu upacara tradisional bunuh diri Jepang. Kritikus sastra dan ahli kesusastraan Jepang, Henry Scott Stokes, yang kenal Mishima secara pribadi, mencoba menerangkan hal-hal di balik tindakan harakiri novelis besar itu, dalam bukunya, The Life Death of Yukio Mishima.

Sebelum Fundoshi Penuh Darah

PAGI itu, 25 November 1970, Yukio Mishima bangun pagi sekali. Ia mencukur mukanya dengan perlahan dan sangat hati-hati. Muka itu adalah muka kematiannya. Karena itu, tak boleh ada luka atau guratan sekecil apa pun. Setelah itu ia mandi dan mengenakan fundoshi putih.

Kemudian dipakainya seragam Tatenoka – organisasi tentara swasta yang dibentuk dan dipimpinya sendiri. Sesudah semuanya rapi, Mishima memeriksa barang-barang yang akan dibawanya hari itu: sebuah tas berwarna cokelat, yang berisi sebuah pedang pendek, setumpuk kertas, dan keperluan lain-lain.

Selain itu, dibawanya juga sebuah samurai panjang dan sarungnya. Di meja ruang duduk diletakkannya sebuah amplop tebal berisi bagian terakhir novel panjangnya, Laut Kesuburan, yang telah dikerjakannya selama enam tahun.

Amplop tebal itu ditujukannya kepada penerbit Sinchosha, yang akan menerbitkan novel tersebut. Pukul sepuluh Mishima menelepon beberapa wartawan kenalan baiknya. Ia minta mereka datang menyaksikan “pertunjukan” yang akan dihidangkannya hari itu.

Tapi Mishima tak menerangkan “tontonan” yang akan disuguhkannya kepada para wartawan tersebut. Tak lama kemudian seorang anggota Tatenokai datang. Ia adalah Chibi-Koga, seorang pemuda bertubuh pendek, berhidung mancung. Mishima menyambut pemuda itu di muka pintu. Dengan tergesa-gesa diberikannya tiga pucuk surat kepada anak itu. Surat-surat itu ditujukannya untuk Chibi-Koga dan dua pemuda lainnya – Fru-Koa dan Oawa.

Yang disebut terakhir adalah seorang pemuda berparas pucat, yang biasa jadi pembawa panji Tatenokai. “Bawalah ini ke mobil,” kata Mishima, menyuruh Chibi-Koga membawa perlengkapan yang telah disiapkannya. “Saya akan segera di sana, dan bacalah baik-baik surat itu sekarang juga.”

Lalu Mishima menyelipkan pedang kecil yang telah disiapkannya di pinggangnya. Sementara itu, penghuni yang tinggal di sebelah rumahnya, seorang laki-laki tua dengan rambut penuh uban, melihat kesibukan Mishima menggumam dengan nada tak setuju, “Ah, dia mau mengadakan acara parade lagi.” Laki-laki itu adalah Azusa Hiraoka, ayah Mishima.

Tak lama kemudian rombongan Tatenokai datang dengan mengendarai sedan Toyota Corolla berwarna putih. Mishima segera masuk ke dalamnya, dan duduk dekat – Chibi-Koga, yang bertindak sebagai pengemudi. Di dalam mobil itu sudah ada FuruKoga, Ogawa, dan Masakatsu Morita. Morita adalah komandan Tatenokai, dan sahabat karib Mishima.

“Apakah kalian sudah membaca surat-surat itu?” tanya Mishima kepada ketiga pemuda yang dikiriminya surat tadi. “Kalian mengerti? Kalian tak boleh bunuh diri. Itu saja.”

Mishima dan Morita akan segera melakukan harakiri. Tiga anggota Tatenokai lainnya mesti hidup terus. Itulah jalan yang akan ditempuh oleh Mishima, seperti yang dikatakan dalam uratnya yang terakhir. Mereka akan menjunjung tinggi slogan yang diagungkan Tatenokai: Hokoku Nippon – Rekonstruksi Kemaharajaan Jepang, slogan semasa Perang Dunia II.

“Mari kita berangkat,” perintah Mishima kepada Chibi-Koga.

Beberapa menit sebelum pukul 11.00, mobil yang dikendarai Mishima dan keempat pengikutnya tiba di pangkalan Ichigaya, yang berada di bawah kekuasaan Jietai (Pasukan Bela Diri Jepang). Letaknya di pusat Kota Tokyo. Penjaga pintu gerbang melihat mereka dan membiarkannya lewat. Kemudian, penjaga itu memberi tahu markas besar militer wilayah timur di Ichigaya bahwa Mishima dan rombongannya telah tiba. Chibi-Koga membawa mobil yang dikemudikannya ke bukit-bukit kecil di markasJietai. Lalu diparkirnya di pinggir lapangan parade besar.

Kelima pemuda itu turun, dan Mishima memimpin mereka sambil menjinjing tasnya. Mayor Sawamoto, ajudan Komandan Pangkalan, Jenderal Kanetoshi Mashita, mempersilakan mereka masuk. Ia menyuruh Mishima dan keempat pengikutnya menunggu di ruang tamu, lalu masuk ke Ruang 201–ruang kerja Jenderal Mashita.

Tak lama kemudian rmbongan Tatenokai itu dipersilakannya masuk. Sawamoto mempersilakan mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Jenderal Mashita, 57 tahun, muncul dari ruang kerjanya. Mishima maju menyambut Komandan Pangkalan itu. Perwira tinggi yang sudah ubanan itu adalah veteran Perang Pasifik. “Saya membawa anggota Tatenokai kepada Anda untuk berkenalan,” kata Mishima.

Lalu ia pun memperkenalkan mereka satu per satu kepada sang jenderal. Atas anjuran Mayor Sawamoto, mereka duduk berkumpul di tengah ruangan.

Dikatakan Mishima bahwa keempatnya adalah anggota terkemuka pasukannya, dan dilaporkannya pula mereka mengenakan seragam Tatenokai, yang berwarna kuning dan hijau, lantaran hari itu mereka akan mengadakan upacara bulanan. Sang jenderal hanya mengangguk-angguk tanpa memperlihatkan kesan tertarik. Sebelum duduk, Mishima melepaskan pedang yang dibawanya dari pinggangnya. Pedang itu diletakkannya di kursi, sehingga Mashita mau tak mau mesti melihatnya.

“Coba bilang, apa gunanya Anda membawa-bawa pedang itu,” tanyanya menyelidik. “Apakah penjaga memperbolehkan Anda masuk dengan membawa pedang itu?”

Dikatakan Mishima bahwa pedang itu adalah pedang militer kuno. Kemudian diperlihatkannya surat kekunan pedang tersebut kepada Mashita. Menurut surat itu pedang yang dibawa Mishima dibuat pada abad ke-17.

Tiba-tiba Mishima mencabut pedang itu dan sarungnya, dan berkata kepada Chibi-Koga, “Sapu tangan!”

Kata itu adalah kode buat Chibi-Koga. Instruksinya agar Chlbi-Koga membekap mulut Jenderal itu dengan tennugui sejenis handuk. Tapi Mashita keburu berdiri. Ia pergi ke mejanya dan mengambil beberapa serbet kertas untuk menyeka pedang tersebut. Chibi-Koga memberikan handuk yang telah disiapkannya kepada Mishima, lalu duduk lagi di kursinya.

Mashita mengayun-ayunkan pedang itu. Ia memuji keindahan pedang kuno tersebut, dan kemudian memberikannya kembali kepada Mishima. Mishima memberi perintah pada Chibi-Koga dengan matanya. Chibi-Koga segera berdiri di belakang sang Jenderal, lalu mencekiknya dengan cara yang kaku. Semua itu merupakan isyarat bagi yang lain untuk bertindak.

Keempat anak buah Mishima masing-masing mengeluarkan seutas tali dari saku mereka. Lalu mereka mengikat kaki dan tangan Mashita, dan mendudukkannya di kursi. Pada mulanya, Jenderal Mashita menyangka bahwa yang dilakukan orang-orang itu adalah latihan komando. Ketika anggota-anggota Tatenokai menarik meja tulis untuk mengganjal pintu masuk, Mashita segera mengerti bahwa Mishima dan pengikutnya tidak main-main.

Ternyata, mereka tak mengetahui bahwa ada lubang pengintip ke ruangan Mashita, sehingga orang-orang di luar bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam. Apa yang dilakukan kelima penyerbu itu langsung saja diketahui.

Tapi mereka telah menyandera Jenderal Mashita. Sekitar lima orang tentara mendobrak pintu. Tapi mereka kelihatan ragu-ragu, lantaran tak seorang pun di antara penyerbu yang memegang senjata. Lalu Mishima mengancam dengan pedangnya, sementara di belakangnya Chibi-Koga berdiri tegak dengan memegang pedang pendek.

“Keluar!” bentak Mishima kepada anak buah Mashita.

Salah seorang dari anak buah Mashita yang menyerbu masuk, Kolonel Hara, memegang sebuah pedang kayu. Ia pun tak berani maju, takut Mishima membunuh Mashita. Tapi kemudian anak-anak buah Mashita merangsek maju, sehingga Mishima terpaksa mengayun-ayunkan pedangnya untuk mengusir mereka.

Tiga orang kolonel terluka tangan dan punggungnya. Para pengurung akhirnya mundur karena ancaman Mishima yang mengayun-ayunkan pedangnya yang berlumuran darah itu. Ia menuntut agar semua penghuni pangkalan berkumpul di lapangan parade untuk mendengarkan pidatonya.

Wakil Komandan Pangkalan kemudian minta bantuan polisi untuk menangkap Mishima dan keempat anak buahnya. Mishima kemudian menenangkan diri di dalam ruangan Mashita.

Ia bersama keempat pengikutnya mengenakan hachimaki (ikat kepala) yang berhiaskan matahari terbit dan ditulisi kalimat Shichiso Hokoku – berbakti kepada bangsa dengan tujuh nyawa.

Kata-kata itu adalah slogan kaum Samurai pada Abad Petengahan. Pukul 11.38 terdengarlah raungan sirene mobil-mobil polisi. Polisi-polisi itu mengurung ruangan penyanderaan. Dari kaca-kaca jendela yang pecah, juru potret polisi beraksi mengambil gambar.

Pada pikiran mereka, Mishima dan orangorangnya telah terkurung, dan foto-foto itu akan berguna di pengadilan nanti. Mishima dan Morita kelihatan jelas dari !ensa kamera juru potret polisi itu. Beberapa saat sebelum tengah hari, Morita yang berbadan gempal itu muncul di beranda. Ia diikuti oleh Ogawa. Keduanya memancangkan berdera putih panjang bertuliskan syarat-syarat untuk keselamatan Jenderal mashita.

Salah satu dari tuntutan mereka agar pidato Mishima didengarkan dengan tenang. Kemudian keduanya menjatuhkan selebaran berisi gekibun – manifesto terakhir Mishima, yang ditulis mengikut bunyi pernyataan para pelaku kudeta militer pada 1930-an.

Bunyi manifesto itu: “Marilah kita kembalikan Jepang ke bentuk yang murninya dan biarkan kami mati. Apakah kalian akan menghargai hidup dan membiarkan semangat kebangsaan mati? Kami akan menunjukkan suatu nilai tinggi yang jauh lebih mulia ketimbang penghormatan pada kehidupan. Bukan kebebasan. Bukan demokrasi. Hanya Nippon, Nippon, tanah air sejarah dan tradisi. Jepang yang kita cintai.”

Para prajurit di lapangan upacara itu memungut selebaran tersebut. Sebagian melipatnya, dan memasukkannya ke dalam saku. Tapi ada juga yang langsung membacanya. Mereka masih muda-muda, tak punya pengalaman perang dan tak mengerti kelakuan Mishima hari itu. Selama tak kurang dari 25 tahun Jepang berada dalam kedamaian. Hanya golongan kiri yang menentang aliansi dengan Amerika, faktor paling penting dalam politik luar negeri Jepang. Tak terpikirkan oleh mereka bahwa itu akan diserang oleh golongan kanan. Mereka banyak yang tahu adanya Tatenokai, tapi tak tahu maksud organisasi itu. Mereka pun tak mengerti mengapa Mishima – seorang penulis novel terkenal – melibatkan diri ke dalam kegiatan semacam itu.

Kebingungan mereka bertambah lagi dengan digotongnya tiga perwira yang luka parah ke luar gedung. Mengapa Mishima menyerang perwira-perwira mereka?

Ketika “Kekasih” Menebas “Kekasih”

TEPAT jam 12.00, Mishima muncul di atap gedung, dan naik ke dinding pembatas. Ia mengenakan kaus tangan putih, sehingga noda-noda darah yang tertinggal di sana terlihat Jelas.

“Sungguh sesuatu yang menyedihkan,” kata Mishima memulai pidatonya, “kalau saya harus berbicara kepada para anggota Jietai dalam keadaan seperti ini. Saya pikir Jietai merupakan harapan terakhir untuk Jepang atau jiwa Jepang.”

Sebagian besar mereka yang berkerumun di halaman gedung itu tak mendengar pidatonya, karena raungan helikopter milier yang datang untuk pengamanan. Mishima mengeraskan lagi suaranya. Dari bawah terdengar sumpah-serapah kotor dan teriakan, “Sontoloyo lu, berhenti ngomong.” “Kami tak setuju dengan kau.”

Tapi Mishima mengoceh terus.

“Bangsa kita tak memiliki lagi landasan semangat. Karena itu, kalian tak setuju dengan saya. Kalian tak mengerti Jepang. Jietai mesti membereskan segala-galanya.”

Mishima terus berkhotbah tentang semangat nasionalisme tentang tentara yang harus berperan aktif dalam politik dan mengubah konstitusi Jepang.

“Pada bulan Oktober tahun lalu telah terjadi suatu demonstrasi antiperang. Pemerintah Jiminto (Partai Liberal Domokrasi) mengerahkan polisi untuk membubarkannya. Hanya polisi yang turun tangan dan tentara diam-diam di tansi. Konstitusi kita telah beku, dan tak ada kesempatan buat kita untuk mengubahnya. Apakah kalian akan diam saja?” kata Mishima penuh retorika.

Massa melontarkan lagi umpatan-umpatan dan sorakan menertawakan, tapi Mishima tak peduli.

Ia meneruskan pidatonya, “Kita harus mempertahankan Jepang. Lindungilah Jepang, tradisi kita, kebudayaan kita, sejarah kita, dan kaisar kita! Hari ini, seorang laki-laki mengajak kalian. Dan, saya mempertaruhkan nyawa untuk itu. Apakah kalian mendengar dan mengerti saya? Kalau kalian tak bangkit bersama kami, Jietai pun takkan bangkit, konstitusi takkan diubah. Dan, kalian tak lebih dari serdaduserdadu bayaran orang Amerika. Atau paling banter serdadu Amerika.”

Tak lama kemudian Morita datang mendekati Mishima. Mereka lalu meneriakkan, “Hidup Kaisar. Hidup Kaisar. Hidup Kaisar.”

Dari bawah terdengar teriakan, “Tembak saja mereka, tembak.” Mishima kembali ke teras atap. Kemudian ia masuk ke ruangan, dan diikuti oleh Morita. Mishima masuk kembali ke ruang kerja Jenderal Mashita.

“Mereka tak bisa mendengar aku dengan baik,” katanya kepada para pengikutnya. Tak lama kemudian Morita pun masuk. Mishima mulai membuka kancing-kancing seragamnya. Ia berada di bagian kamar yang tak bisa dilihat dari koridor ataupun dari kaca jendela yang pecah. Sumpal mulut Mashita telah dibuka. Ia memperhatikan Mishima membuka pakaiannya. Ia telanjang sampai ke pinggang, dan ternyata tak mengenakan baju dalam.

“Hentikan,” kata Mashita. “Itu tak ada gunanya.”

Mishima menjawab, “Saya bertekad untuk melakukan ini. Anda tak boleh mengikuti jalan saya. Anda tak bertanggung jawab atas perbuatan saya.”

“Hentikan!” hardik Mashita.

Mishima tak peduli. Ia membuka kedua belah sepatunya dan melemparkannya ke samping. Morita maju, dan mengambil pedang. Kemudian Mishima membuka jam tangannya, dan diberikannya kepada salah seorang pengikutnya.

Lalu, ia berlutut di permadani merah ruangan, kira-kira enam kaki dari kursi Mashita. Dilepaskannya celananya. Fundoshi putih yang dikenakannya kelihatan, Ia hampir telanjang dan dadanya yang kuat terlihat turun-naik oleh napasnya. Morita mengambil posisi di belakangnya sambil bersiap mengayunkan pedang.

Kemudian Mishima mengambil yoroidoshi – pedang pendek yang tajam kedua sisinya dengan ujung yang runcing. Pedang itu dipegangnya dengan tangan kanannya. Ogawa maju membawa mohitsu (kuas) dan selembar kertas. Semula Mishima akan menulis pesannya yang terakhir di kertas itu dengan darahnya.

“Tidak, aku tak memerlukannya,” katanya.

Mishima memijit-mijit satu titik di bagian perutnya sebelah kiri. Kemudian, bagian itu ditusuknya dengan pedang pendek yang dipegangnya. Morita mengangkat samurai tinggi-tinggi sambil memandang tengkuk Mishima. Keningnya basah kuyup oleh keringat. Ujung pedang itu bergoyang dan tangannya bergetar.

Mishima meneriakkan penghormatan terakhir kepada Kaisar, “Tenno Heika Banzai! Tenno Heika Banzai! Tenno Heika Banzai!”

Setelah itu, ia merendahkan kedua pundaknya dan mengeluarkan udara dari paru-parunya. Ia menarik napas dalam-dalam.

Kemudian, “Haa. . .how!” Didorongnya semua hawa dari tubuhnya dengan teriakan akhir yang keras dan liar.

Sejenak kemudian Mishima menusukkan pedang pendek yang telah disiapkannya ke perutnya kuat-kuat. Mengikuti tusukan itu mukanya tiba-tiba putih dan tangan kanannya mulai bergetar. Ditariknya pisau itu dari tubuhnya, lalu ia membuat sayatan-sayatan horisontal di perutnya. Darah mengucur dari sobekan itu membasahi fundoshi yang dikenakannya dengan warna merah. Kepala Mishima kemudian menunduk, sehingga tengkuknya terbuka. Morita sudah siap menurunkan samurai untuk memotong leher pemimpinnya.

“Jangan biarkan aku tersiksa terlalu lama,” pesan Mishima kepada Morita sebelum “upacara” itu.

Morita memegang pedang erat-erat, ketika muka Mishima jatuh ke lantai. Pedang diayun, tapi terlambat. Ayunan itu sangat kuat, tapi meleset ke karpet, jauh dari leher Mishima.

“Ulangi!” teriak seorang pengikut Mishima yang lain.

Morita membabatkan pedang panjangnya sekali, tapi masih meleset. Yang kena malah tubuh Mishima, dan meninggalkan bekas bacokan yang mengerikan.

“Sekali lagi,” ada lagi yang berteriak. Morita sudah tak bertenaga lagi. Furu-Koga maju. Ia punya pengalaman banyak dalam kendo–olah raga pedang Jepang.

“Berikan pedang itu padaku!” katanya pada Morita. Dengan sekali tebasan ia berhasil memisahkan kepala Mishima dari tubuhnya.

“Berdoalah untuk dia!” kata Mashita. Para pemuda itu berlutut sambil menangis tersedu-sedu.

Tapi “upacara” itu belum selesai. Morita menyobek jaket yang dipakainya. Seorang pengikut lain mengambil yoroidoshi dari tangan Mishima yang sudah tak bernyawa dan dengan tubuh digenangi darah. Diserahkannya pisau itu kepada Morita, yang kemudian berlutut setelah melepaskan celana panjangnya.

Diteriakkannya seruan Tenno Heika Banzai tiga kali, lalu ia menusukkan pedang pendek itu ke perutnya.

Tapi, ia tidak cukup kuat, sehingga sayatan di perutnya tidak dalam. Ia berteriak, “Sekarang!”

Furu-Koga berdiri di belakangnya, dan dengan sekali sabetan di leher, kepala Morita tercerai dari tubuhnya, dan jatuh di karpet. Darah mengalir.

Pemuda-pemuda itu berdoa lagi dan menangis tersedu-sedu. “Inilah yang terakhir!” kata Mashita.

“Anda tak perlu khawatir,” kata salah seorang dari ketiga pemua itu. “Tuan Mishima memerintahkan kami untuk tidak bunuh diri, dan menjaga keselamatan Anda.”

Tak lama kemudian polisi berhasil masuk, dan ketiga pengikut Mishima itu ditangkap.

Reaksi pertama orang atas tindakan Mishima itu adalah ketakpercayaan bercampur keraguan. Sejak berakhirnya Perang Dunia II tak pernah ada lagi ritus harakiri di Jepang. Pers Jepang juga setengah tak percaya pada mulanya. Ketika berita itu sampai ke meja redaksi koran terkemuka Mainichi Shimbun, redaktur kota memerintahkan reporternya untuk mengeceknya sekali lagi. Redaktur itu sudah membuat sebuah kepala berita berbunyi, Mishima yang luka-luka dilarikan ke rumah sakit.

Ketika reportase pertama tentang “Insiden Mishima” ditayangkan, ayah Mishima, Azusa Hiraoke, sedang asyik mengisap cerutunya sambil menonton televisi di rumahnya. Ia tengah berpikir untuk menemui kepala polisi, dan meminta maaf kelakuan anaknya. Kemudian muncul berita kedua bahwa Mishima telah melakukan kappuku (menyayat perut).

“Operasi yang modern pasti akan menyembuhkannya,” gumamnya.

Ketika berita ketiga yang menyebut kaishaku (dipenggal) dibacakan penyiar televisi, itu juga tak merupakan kejutan baginya. Karena, “otakku tak mau menerima berita dan kenyataan itu,” kata Hiraoke.

Komentar resmi pertama tentang kematian Mishima datang dari Perdana Menteri Eisaku Sato.

“Dia pasti sudah kerasukan kichigai,” katanya kepada wartawan. Kata itu berarti kurang lebih sinting.

Apa sebetulnya yang menjadi penyebab mereka melakukan harakiri? Jawabnya tak sesederhana seperti yang dikatakan oleh Perdana Menteri Sato. Mengapa Mishima menghalalkan perbuatan itu bagi dirinya sendiri?

Barangkali tokoh-tokoh dalam novel-novelnya bisa bercerita.

Dalam Keruntuhan Seorang Malaikat, tokoh utamanya, Honda, menyesali dirinya lantaran ia “tak kuasa menghentikan waktu”. Karena itu, ia tak menikmati “kecantikan fisik yang lestari”. Ini merupakan suatu hak prerogatif bagi mereka yang mampu “memotong waktu”.

Berlainan dengan Honda, Mishima tak punya minat untuk melepaskan “saat-saat yang penuh keagungan” — saat kecantikan fisik sedang berada di puncak kehidupannya. Kalau apa yang dikatakan dalam Keruntuhan Seorang Malaikat itu benar, bunuh dirinya hanyalah sebuah upaya untuk menghentikan waktu.

“Kecantikan fisik yang lestari” dengan demikian merupakan “hak istimewa” yang dimilikinya. Ini merupakan penjelasan berbau kesusastraan tentang banyak gagasan yang selalu menjadi obsesi hidupnya.

Tapi, tampaknya, itu pun terlalu sederhana apabila kita ingat bahwa Mishima sangat gandrung dengan kedudukan sebagai pemegang peranan. Dalam novel yang disebutkan di atas tersirat bagaimana Honda menikmati pula “saat-saat penuh kemenangan” mempunyai keturunan.

Kalau saja polisi dan tentara di hari nahas November itu bertindak efektif, dan berhasil menggagalkan “pertunjukan” Mishima, sang novelis bisa saja kehilangan “saat-saat penuh kemenangan” tersebut. Kalau itu terjadi, barangkali ia akan menjadi seorang Honda yang tak berhasil “menghentikan waktu”. Walau tokoh utama dalam novel itu – seperti juga Mishima telah dengan rinci melakukan “gladi resik” untuk upacara kematiannya.

Keputusan dari Sauna Misty

BANYAK pengarang, yang sezaman dengan Mishima tak bisa menerima penjelasan sederhana tentang apa yang terjadi. Sikap mereka tetap demkian walaupun bagian terakhir dari novel Mishima yang membawa banyak orang sampai pada kesimpulan tersebut.

Buku Mishima itu diterbitkan tak lama setelah si pengarang mati. Dalam terbitan musim semi 1971, majalah Japan Quarterly menurunkan tulisan Junro Fukashiro yang berjudul Post Mortem.

Tulisan itu menerangkan beberapa teori di balik tindakan bunuh diri Mishima. Fukashiro mengetengahkan beberapa motif, antara lain kegilaan yang tak perlu lagi dijelaskan. Ada lagi “teori estetis” yang beragumentasi bahwa kecantikan yang begitu didambakan dalam karya sastranya hanya mungkin diakhiri dengan kematiannya yang sangat dramatis.

Kemudian ada juga teori tentang “bakat yang sudah tak berkembang lagi”. Teori itu menyatakan bahwa Mishima, yang telah bekerja keras dalam kesusastraan selama 30 tahun, merasa tak bisa menciptakan lagi karya-karya yang monumental. Ia menjadi putus asa, dan itu membawanya ke bunuh diri.

Teori “cinta-bunuh diri” mengatakan Mishima sebenarnya seorang homo yang melakukan shinju (bunuh diri ganda) demi cintanya kepada Morita. Itu dilakukannya sesuai dengan pengejarannya atas erotisme yang paling maksimal.

Terakhir ada Teori “patriotisme” yang berpegang pada dalil bahwa sebenarnya Mishima ingin menggerakkan tentara agar melakukan kudeta. Itu, katanya, akan merealisasikan impiannya agar Jepang menjadi suatu negara bersatu di bawah Kaisar. Persis seperti keadaan sebelum Perang Dunia II.

Walau kita dapat menerima pendapat bahwa Mishima telah memilih “saat-saat yang penuh kemenangan” bagi dirinya, kita mesti menghubungkan kenyataan itu dengan narsisme dan soal homoseksualitas novelis besar tersebut. Kudeta masalah itu adalah aspek kompleks tokoh ini. Banyak yang percaya bahwa homoseksualitas merupakan kunci untuk menerangkan bunuh diri Mishima.

Ada spekulasi bahwa antara Yukio Mishima dan Masakatsu Morita “ada main”. Dan keduanya telah melakukan bunuh diri bagaikan dua orang yang saring mengasihi. Bukti terhadap perkiraan itu cukup kuat. Mishima dan Morita telah merencanakan show itu dengan masak-masak. Mereka membawa tiga anggota Tatenokai lain, dan keduanya memutuskan itu ketika bersama-sama mandi di panti sauna Misty pada 3 November 1970.

Setelah kejadian bunuh diri itu, dua orang yang kenal betul dengan Mishima memberi keterangan yang meyakinkan mengenai novelis tersebut. Salah seorang dari mereka yang mengenal Mishima itu adalah perwira polisi yang telah menyelidiki dosir Mishima. Dari keterangan-keterangan yang telah dibacanya ia yakin Mishima dan Morita adalah sepasang kekasih. Tapi yang tahu betul tentang itu tentu saja kedua orang yang sudah mati tersebut.

Informan lain adalah seorang wanita yang kenal Mishima secara pribadi. Ia seorang politikus terkemuka di Jepang, dan mengerti betul tentang seni. Menurut wanita itu, Mishima pernah mengajaknya kawin, dan mereka berkirim-kiriman surat dengan sangat intens. Saksi wanita itu yakin Mishima cinta betul kepada Morita. Menurut dia, Morita sangat berpengaruh terhadap Mishima. Ia yakin, tanpa pengaruh Morita, Mishima takkan bunuh diri dan kehilangan “saat-saat yang penuh keagungan” yang dicarinya itu.

Hal-hal yang menarik kedua orang itu kebetulan cocok memang. Adalah Morita yang pertama kali menyarankan agar Tatenokai melakukan kudeta. Dosir organisasi itu, yang ada di tangan polisi, memperkuat dugaan tersebut. Jadi, “Tragedi Mishima” mula-mula berasal dari buah pikiran Morita, walaupun pada mulanya Mishima menolak gagasan itu. Mishima baru menyetujui gagasan bunuh diri tersebut beberapa bulan kemudian, karena itu cocok betul dengan bagian akhir dari novelnya.

Mishima, pada waktu itu, baru saja menyelesaikan novel Lautan Kesuburan. Dengan kata lain, Morita masuk ke dalam suatu drama yang sudah dipersiapkan, dan tak sengaja mengutik mekanisme yag memang sudah lama ada.

“Eros” dan “darah” memang memiliki hubungan yang sangat erat dalam karya-karya sastra Mishima. Hal itu pasti merupakan impiannya untuk mencapai kombinasi ideal keduanya dalam kenyataan. Walau Mishima dan Morita telah dengan hati-hati sekali menghancurkan buku harian dan setiap korespondensi mengenai hubungan mereka, sudah dapat dipastikan bahwa kedua orang itu adalah sepasang kekasih.

Morita, pengikut setia dan pengagum yang penuh semangat, telah mendorong Mishima ke dalam suatu tindakan.

Tentang teori kegilaan? Ada kecenderungan menjelang kematian Mishima berada dalam tekanan psikologis yang sangat berat. Ia pada suatu makan malam bersama pernah membayangkan Jepang sedang diancam oleh seekor “ular hijau”. Selain itu, banyak foto yang memperlihatkan Mishima berpose sesuai dengan fantasinya. Salah satu dari foto-foto itu adalah adegan dirinya sebagai St. Sebastian, yang diikat kedua tangannya. Pada masa kanak-kanak, Mishima pernah mengalami orgasme hanya dengan memandang gambar itu.

Tapi harus pula diingat bahwa Mishima adalah seorang aktor baik di dunia nyata maupun dalam tonil.

Jadi, apa yang dipertunjukkan dalam adegan-adegan itu belum tentu hal-hal yang menjadi pikirannya. Kesaksian para ahli mengenai kondisi mental Mishima juga tidak banyak menolong.

Psikolog Dr. Kataguchi, yang pernah memeriksanya dengan ink-blot test pada 1962, tak banyak memberi keterangan yang lebih dari fakta bahwa Mishima seorang homoseks. Setelah kematian pasiennya, psikolog itu menulis sebuah artikel yang melukiskan Mishima sebagai paramoid, psikopat, dan schizophrenik.

Tapi itu bukan sumbangan besar untuk mengerti Mishima. Yang pasti, sepanjang hidupnya, Mishima selalu berusaha mengimbangi kelemahannya dengan tindakan-tindakan yang sangat beraneka ragam. Ia punya naluri sangat besar untuk membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang lemah. Dapat dibayangkan betapa berat beban mentalnya. Istrinya dan orang-orang yang dekat dengannya punya perasaan bahwa sesuatu akan terJadi pada Mishima.

Ada sebuah kejadian yang mencerminkan itu.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang bersikeras ingin bertemu dengannya. Ia menunggu berjam-jam di muka pintu – suatu bukti dalam tradisi Jepang, bahwa dirinya sangat berhasrat. Akhirnya, Mishima mengalah, dan mengizinkan pemuda itu masuk.

“Saya sibuk,” katanya tak sabar. “Karena itu, saya hanya mengizinkan Anda untuk hanya mengajukan satu pertanyaan.”

Sumber: TEMPO, Edisi 7 Mei 1988

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan