-->

Tokoh Toggle

Teguh Esha:Pemberontak di Zaman Pers Kuning

Teguh EshaDIA ini Ali Topan, orang baek. Dia pernah kasi tulung besar sama gua… waktu toko gua mau dirampok orang jahat. Lu liat nih tangannya ada bekas bacokan golok. Dia tulungin gua tangkepin perampok sampe dianya kena bacok! Gua utang budi sama dia! Gua sudah angkat saudara sama dia!” kata Encik Hoa, juragan toko P&D Sinar Pembangunan, kepada Engko Ceng, pegawai baru, yang salah sangka terhadap tongkrongan Ali Topan di kusen tokonya.

Adegan di sebelah selatan kompleks pertokoan Melawai, Blok M, Jakarta, itu terjadi dalam novel Ali Topan Wartawan Jalanan (2000) karya Teguh Esha, yang pertama kali terbit pada 1978 bertajuk Ali Topan Detektif Partikelir. Ini sekuel Ali Topan Anak Jalanan, yang pertama kali dimuat di majalah Stop pada 1972 dan muncul sebagai novel pada 1977.

Teguh berhasil mengorbitkan Ali Topan menjadi tokoh yang sangat menonjol pada zamannya. “Novel ini kuat sekali dalam penggambaran watak tokoh utamanya, tapi bernada tunggal. Ali Topan lantas menjadi tokoh imajiner yang legendaris, seperti tokoh Batman atau Garth,” tulis Jakob Sumardjo dalam bukunya, Novel Populer Indonesia (1985). Dua nama terakhir itu adalah tokoh komik yang terkenal sebagai pembasmi kejahatan.

Hal lain yang mendukung meledaknya novel itu, kata sastrawan Yudhistira A.N.M. Massardi, Teguh melampirkan kamus kecil istilah “prokem”, yang menjadi cara baru bagi remaja untuk berekspresi. “Saat itu bahasa ‘prokem’ mewabah. Semua berlomba-lomba berbicara dalam bahasa itu,” kata pengarang novel Arjuna Mencari Cinta, yang juga populer pada era 1970-an, itu.

Menurut Jakob, ada kecenderungan protes sosial pada novel-novel populer yang ditulis pengarang lelaki pada 1970-an. “Pada novel Ashadi Siregar, Eddy D. Iskandar, Remy Sylado, Yudhistira, dan Teguh Esha, kita jumpai ‘pemberontakan’ anak-anak muda terhadap orang tua mereka yang tidak bertanggung jawab,” tulisnya.

Itulah yang terjadi pada Ali Topan. Ali digambarkan sebagai pemuda lulusan sekolah menengah atas yang menolak melanjutkan kuliahnya sesuai dengan kehendak orang tuanya. Dia berasal dari keluarga berantakan: ayahnya berselingkuh, ibunya jadi tante girang. Rumah, bagi Ali, bukanlah tempat tinggal yang nyaman. Poster “a house is not a home” menempel pada dinding kamarnya, yang mengoleksi kaset-kaset Koes Bersaudara, The Beatles, The Rolling Stones, serta kumpulan syair Bob Dylan dan buku-buku silat Cina. Dia pun meninggalkan rumah dan menggelandang di jalanan.

Omong-omong, dari mana Teguh mendapat nama tokohnya? “Waktu itu saya lagi jalan-jalan. Nama Ali waktu itu lagi ngetop. Ada Ali Sadikin, Muhammad Ali, Ali Said, Ali Moertopo. Tiba-tiba muncul nama Topan. Jadilah Ali Topan,” kata Teguh seraya tersenyum.

l l l

Teguh Esha, lengkapnya Teguh Slamet Hidayat Adrai, lahir di Banyuwangi, 8 Mei 1947, dan dibesarkan di kampung ayahnya di Bangil, Jawa Timur. Masa kecilnya diisi dengan membaca komik silat, komik wayang R.A. Kosasih, dan novel-novel detektif. “Kalau saya mengirim surat ke saudara saya di Jakarta, saya suka memakai nama samaran dari komik, seperti Beruang Merah,” kata Teguh di rumahnya di Bintaro, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Selepas kelas V sekolah dasar, dia pindah ke Jakarta atas permintaan kakak iparnya, Mohamad Saleh, diplomat dan bapak sutradara Rizal Mantovani. “Dia yang menyekolahkan saya dan saudara saya,” kata Teguh. Dia dan saudara-saudaranya tinggal di Jalan Jati, Petamburan. Setamat SMA IX, dia kuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Trisakti pada 1966, tapi hanya bertahan dua semester.

Suatu malam Pemimpin Redaksi Utusan Pemuda Dadi Honggowongso menginap di rumah mereka sambil membawa surat kabarnya. Teguh membaca cerita pendek di koran itu. “Cerpen jelek ini kok dimuat?” kata Teguh. Jelas saja Dadi gusar. “Eh, elu bisa bikin enggak?” kata Dadi.

Semalam suntuk Teguh menulis cerpennya. Setelah jadi, cerita itu dia serahkan kepada Dadi, yang ternyata memuatnya pada edisi Minggu. “Itu cerpen pertama saya. Judulnya lupa. Temanya tentang detektif. Pokoknya tokoh saya hitam-putih saja. Kalau penjahat, ya, dihajar,” kata Teguh.

Melihat hal itu, Djoko Prajitno dan Kadjat Adrai, dua kakaknya yang sudah jadi wartawan, mendorong Teguh jadi penulis. Teguh pun bekerja sebagai wartawan di Utusan Pemuda, yang terbit dua kali seminggu. Dia lantas memperdalam jurnalistik di Fakultas Publisistik Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), tapi tak tamat juga. “Novel pertama saya, Gairah, sebenarnya muncul di Utusan Pemuda. Sayang, tak terdokumentasikan,” tuturnya.

Di kampus itu dia bertemu dengan Deddy Armand, redaktur majalah Stop. Deddy lantas meminta Teguh menulis apa saja di majalahnya. Hal ini memacu Teguh menulis banyak cerita bersambung. “Saking produktifnya, saya punya lima-enam nama samaran, seperti Jonjon van Papagoyang dan Peranginanginan,” katanya. Cerita bersambung pertama Ali Topan Anak Jalanan juga terbit di Stop pada 14 Februari 1972.

Salah satu penuntun Teguh dalam karier kepenulisannya adalah Asbari Nurpatria Krisna, novelis dari angkatan yang lebih tua. Pengarang novel Ibu Guru Kami Cantik Sekali itu menilai karya Teguh sebagai sastra-jurnalistik, yang mengolah fakta menjadi fiksi. Menurut Teguh, Asbari menyarankan dia menjadi wartawan dulu sampai top, baru jadi sastrawan. Sebab, menurut Asbari, dengan kartu pers, Teguh bisa kenal dari pelacur sampai presiden, yang akan memperkaya karakter tokoh novelnya.

Teguh menuruti saran itu dan berkarier di jurnalistik. “Sastra waktu itu kerja sampingan saya sebagai wartawan,” katanya. Meski demikian, dia mampu menulis lumayan cepat. Satu novel, termasuk Ali Topan, dapat selesai dalam tempo dua bulan.

Bersama Djoko dan Kadjat, Teguh lantas menerbitkan majalah Sonata dengan Teguh duduk sebagai wakil pemimpin redaksi pada 1971-1973. Lalu Teguh menerbitkan majalah Le Laki, yang ia pimpin selama 1974-1977. “Saya bikin dengan modal dari anak Bea-Cukai yang bapaknya koruptor,” tutur Teguh.

Kantor majalah Le Laki berada di Kwitang. Teguh mengangkat dirinya sebagai pemimpin redaksi dan menunjuk Yudhistira A.N.M. Massardi sebagai wakilnya. Dia juga merekrut Noorca M. Massardi sebagai redaktur pelaksana dan Adhie M. Massardi sebagai reporter. Di majalah inilah Teguh menulis cerita bersambung Dewi Besser.

Menurut Jakob, Dewi Besser menelanjangi kehidupan para artis di Metropolitan dan bisnis majalah hiburan. Novel itu mengangkat Dewi Besser, gadis remaja yang hamil di luar nikah dan ditinggal kabur pacarnya, Toni. Ganesha alias Kupjang, wartawan asal Medan, mencoba membantu Dewi meminta pertanggungjawaban keluarga pacarnya, tapi gagal dan akhirnya anak di kandungan Dewi digugurkan.

Kupjang “memperalat” gadis bertubuh permai itu. Pose-pose Dewi yang berani diterbitkannya di majalah PG. Dalam beberapa hari, Dewi jadi termasyhur. Hal ini memicu kecemburuan para artis lain yang sudah terkenal. Ketika mereka bertemu dengan Dewi, pertengkaran pun pecah. Kupjang memotret Dewi yang menghajar para artis dan memuatnya di PG. Dia juga mengangkat asal-usul Dewi dan skandal keluarga Toni. Ayah Toni, seorang pejabat Bea-Cukai, berang. Tapi Kupjang malah berhasil memeras data ayah Toni dan membeberkannya di majalah. Habislah kehormatan keluarga Toni, nama Dewi pun terkenal di kalangan om-om senang. Salah satu kelebihan novel ini adalah munculnya sejumlah nama artis yang ceritanya mirip berita yang beredar di media, seperti Tanti Jusuf, Kristin, dan Yati Octavia.

Sebenarnya apa yang diangkat Teguh dalam fiksi merupakan cermin realitas pada masanya. Ali Topan, misalnya, menyoroti soal tante girang, istilah bagi ibu-ibu yang suka berselingkuh dengan para pemuda. Istilah ini populer berkat novel Motinggo Busye berjudul sama. Beberapa novelis masa itu juga menulis tentang tante girang, seperti Abdullah Harahap dan Ali Shahab. “Zaman itu musim bener tante girang,” kata Teguh.

Menurut Teguh, yang dulu rajin nongkrong di kawasan Blok M, para mahasiswa atau pemuda bergaya seperti mahasiswa banyak yang beredar di Melawai dan Bulungan. “Mereka lantas dijemput tante girang dan dibawa, biasanya ke Puncak,” kata pengarang yang pernah mendapat pengakuan dari mahasiswa dan tante girang itu.

Menurut Yudhistira, tante girang sebenarnya gejala sosial yang selalu muncul di tiap zaman. “Masa itu gejala ini dieksploitasi oleh novel-novel, sehingga bisa jadi ibu-ibu itu malah kemudian terilhami berbuat demikian,” katanya.

Gejala ini bagian dari euforia sesudah Orde Lama tumbang dan kekuasaan Orde Baru belum kokoh, yang diperkirakan Teguh pada 1968-1972. “Itu zaman pers kuning, yang isinya ramuan horor, porno, dan judi,” ujarnya.

Yudhistira mengakui merebaknya media semacam itu. “Majalah mingguannya porno semua. Gambar-gambarnya sensual,” katanya. Menurut dia, lahirnya media semacam itu akibat kejenuhan terhadap politik dan euforia kebebasan pers. Selain itu, lahir majalah remaja, seperti Gadis, yang mengangkat banyak remaja menjadi gadis sampul dan majalah Aktuil, yang menghidupkan musik pop serta dunia remaja. “Yang juga penting adalah munculnya penerbit Cypress, yang banyak menerbitkan novel-novel pop,” kata dia.

Cypress, kata Teguh, didirikan Ebet Winata, bekas pedagang lukisan, dan Tedi, bekas penerbit cerita stensilan. Penerbit itu pulalah yang meluncurkan novel Ali Topan Anak Jalanan, Ali Topan Wartawan Jalanan, dan Dewi Besser dengan judul Dewi Besser, Playgirl Salah Gaul (1978). Novel Yudhistira yang mereka terbitkan adalah Arjuna Mencari Cinta dan Arjuna Drop Out.

Novel-novel Eddy D. Iskandar juga diterbitkannya, seperti Cowok Komersil, Sok Nyentrik, Musim Bercinta, dan Brandal Tengil. Beberapa pengarang lain yang novelnya mereka terbitkan adalah Ashadi Siregar, Saut Poltak Tambunan, Mira W., Titiek W.S., Maria A. Sardjono, dan La Rose.

Penerbitan Ali Topan Anak Jalanan pada 1977 meledak. Dalam enam bulan novel itu naik cetak empat kali, tapi berapa jumlahnya Teguh tidak tahu. “Yang pasti, saya bisa bikin rumah di Puri Mutiara di perbatasan Kemang-Cipete dengan luas tanah 360 meter persegi dan dikasih Mercedes bekas, yang harganya sama dengan Honda Civic,” kata Teguh.

Popularitasnya makin didongkrak oleh munculnya film Ali Topan Anak Jalanan pada 1977 dengan bintang utama Junaedi Salat dan Yati Octavia. Setahun kemudian Teguh menulis lagu yang dinyanyikan Franky dan Jane Sahilatua dalam album Balada Ali Topan. Sampulnya memakai sketsa Ali Topan ciptaan komikus Jan Mintaraga. Pada tahun yang sama Teguh menerbitkan Ali Topan Detektif Partikelir dan pada 1979 muncul film Ali Topan Detektif Partikelir Turun ke Jalan dengan bintang Widi Santoso. Ali Topan Anak Jalanan juga pernah muncul sebagai sinetron sepanjang 26 episode pada 1986 dengan bintang Ari Sihasale.

Teguh menikah pada 1980 dengan Ratnaningdiah Indrawati Santoso Brotodihardjo, cucu Soeratin Sosrosoegondo, tokoh sepak bola nasional. Mereka dianugerahi tujuh anak. Yang terkecil duduk di kelas V SD dan yang tertua ahli desain grafis.

Menurut Teguh, novel Ali Topan sebenarnya tetralogi. Selain dua yang sudah terbit, ada Ali Topan Rock and Road, yang masih berbentuk tulisan tangan, serta Ali Topan Santri Jalanan, yang belum tamat dan baru sempat dimuat bersambung tujuh edisi di Panji Masyarakat pada 1984. “Habis sembuh ini mau saya garap dua novel itu,” kata Teguh, yang Senin pekan lalu baru pulang dari rumah sakit karena sakit diabetes.

Ali Topan, menurut Teguh, memiliki karakter dan spirit. “Kalau James Dean berontak tanpa alasan, Rebel without a Cause, Ali Topan berontak dengan alasan,” katanya. Ali Topan melawan segala ketidakadilan dan mempertanyakan segala yang dirasanya tak adil. “Dia berani bila benar dan takut bila salah,” kata Teguh.

Dalam pencariannya, akhirnya Ali Topan juga mempertanyakan masalah agama. Dia bertanya, misalnya, mengapa sesama orang beragama bisa gontok-gontokan. Kisah ini merupakan bagian akhir dari tetralogi Ali Topan. “Ali Topan Santri Jalanan adalah refleksi pencarian ketuhanan saya,” kata Teguh.

Kurniawan

*)Majalah Tempointeraktif, 11 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan