-->

Lainnya Toggle

Surat Imajiner untuk Pram

WandiOleh Wandi Barboy Silaban
Mengenang 5 Tahun Wafatnya Pramoedya Ananta Toer

Surat untuk Pramoedya Ananta Toer nun jauh di sana – negeri  yang kau idamkan.

Lima tahun tak terasa sudah, Pram.  30 April 2006, di Karet–seperti Chairil Anwar–kau meninggalkan negeri  yang amat kau cintai sekaligus kau benci. Benci bukan pada tanah airnya, rakyatnya, dan tetek bengek lainnya, melainkan  pada penguasa negeri ini yang–sudah merdeka dari penjajahan–masih memiliki budaya yang sangat rendah dengan merampas milik bangsanya sendiri.

Pemerintah, sebagaimana terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, seharusnya melindungi segenap warganya. Bukan malah merampas dan membakar karya-karyamu, menyita rumahmu begitu saja, menghukummu tanpa proses pengadilan, belum lagi stigma negatif  dari masyarakat yang harus ditimpakan pada keluargamu. Ya, hanya keluarga dari seorang anak manusia Indonesia: Pramoedya Ananta Toer.

Lima tahun sejak kepergianmu meninggalkan dunia ini, para penguasa bukannya insaf, malah kian bersinar dengan harta dan tahta berlimpah-limpah yang entah dari mana. Rakyat? Ah, jangan tanyakan soal rakyat, Pram. Sejak dulu, negeri ini memang hanya milik segelintir elite  yang berkuasa. Rakyat di negeri ini tetap saja dalam belenggu para penguasa dan belum juga beranjak dari penderitaan yang membelukar.

Belum genap sebulan sejak engkau pergi, tepatnya pada 27 Mei 2006, gempa bumi meluluhlantakkan Yogyakarta–Bantul khususnya–dan kembali harus memakan korban anak manusia yang tidak sedikit setelah tsunami Aceh.  Seterusnya sampai sekarang, gempa seolah-olah sudah menjadi kebiasaan buruk di negeri  ini. Tak heran, karena keseringan gempa yang melanda ini, orang asing menilai negeri ini sebagai supermarket gempa. Bah! Apa pula maksud orang-orang asing itu dengan memasukkan unsur-unsur kapitalisme dalam bencana alam? Arus globalisasi begitu menderas dan mengumbang-ambingkan negeri ini sampai linglung.

Ya, Pram, negeri ini hampir mampus karena tidak memiliki apa yang sering didengungkan Bung Karno dulu sebagai pembangunan karakter bangsa (nation character building)!!!

Pram, kau ingat tentang anak ruhanimu yang kau kerjakan bersama adikmu, Koesalah, dan juga Ediati Kamil itu? Ya, 4 jilid Kronik Revolusi Indonesia yang  kau susun dari kurun 1945-1949. Kau memang pengarsip yang tangguh dan gigih walau hanya seorang diri sekalipun. Mengapresiasi kegigihanmu dalam mengarsip dan mengliping itu, ada sekelompok orang-orang muda berusia kurang lebih 25 tahun di Yogyakarta mengikuti  jejak langkahmu dalam menyusun kronik ini. Orang-orang muda itu tergabung pada sebuah lembaga independen bernama I:boekoe(Indonesia Buku) yang sarat dengan nuansa idealisme dalam menerbitkan sebuah buku. Anak ruhani, katamu.

Sejarawan Onghokham pada sampul  muka Kronik Revolusi Indonesia itu menuliskan, “Ini suatu pekerjaan yang maha hebat, memerlukan energi, usaha, biaya, dll .., yang hebat.”   Dan anak-anak muda I:boekoe itu memang berniat menyusunnya mulai dari kurun 1908 sampai pada 20 Mei 2008. Periode 1945-1949 yang kau susun itu sengaja tak mereka bikin sebagai penghargaan untuk dirimu yang telah menulis Kronik Revolusi  Indonesia. Ya, saat itu memang  berbarengan dengan momentum seratus tahun kebangkitan nasional.

Kurang lebih 40 penulis muda itu “digembleng” dalam I:boekoe untuk menyusun peristiwa penting dan renik–renik lainnya setiap hari dari koran, majalah, arsip, dan lain sebagainya dalam setahun. Ya, setahun!  Mulai 1 Januari sampai 31 Desember.  Satu orang sanggup merampungkan setahun kroniknya dalam rentangan waktu 2-3 bulan, bahkan ada yang hanya membutuhkan waktu sebulan!

Karena dikejar oleh target, terus ada penambahan. Ada  yang dua, tiga, bahkan sampai lima tahun ada penyusunan kronik  yang dilakukan oleh satu orang! Kegigihan yang menjulang-julang  dengan semangat membaja itu mereka pelajari darimu, Pram.

Dan puncaknya-tepat pada seabad kebangkitan nasional-para penulis muda itu memandang hasil karyanya dengan berbinar-binar karena buku “gila-gilaan” itu akhirnya diluncurkan juga walau dengan berbagai kelemahan di sana-sini.  Buku-buku itu kalau ditumpukkan dari periode 1908-2008, dan dengan ketebalan buku rata-rata di atas 500 halaman, mencapai tinggi kira-kira 1.7 m. Lahirlah anak ruhani Kronik Kebangkitan Indonesia. Sejarawan Anhar Gonggong bahkan menyebut mereka ‘orang-orang gila’ karena hanya orang gila yang bisa mengerjakan hal–hal yang gila.

Begitulah, Pram. Ya, segalanya demi menghikmati jalan sunyi yang kau tempuh.  Para penulis muda itu turut bersamamu, Pram. Mereka meniru bagaimana berasketisme dalam laku kepenulisan sebagaimana engkau, Pram.

Tapi, sayang hal itu tidak bertahan lama. Arus globalisasi yang menghempas dan melindas negeri ini diterima bulat-bulat tanpa filtrasi. Akibatnya, krisis keuangan global melanda dunia pada akhir 2008, dan ini turut menghantam mereka  sampai babak-belur.  Tak bisa bertahan dengan ranah sejarah, mereka pun berubah haluan kepada ranah lainnya di mana mereka bisa “hidup dan menghidupi” I:boekoe-nya. Kini, para penulis muda  yang sudah “digembleng” dari I:boekoe itu mencari penghidupannya masing-masing. Dengan segenap kemampuan yang didapatnya, mereka berserakan di selingkupan penerbit buku Yogyakarta.

Ada yang melanjutkan pendidikan tingginya, menjadi pengajar, tapi juga ada yang mengais-ngais hasil keringatnya itu dengan mengandalkan kemampuan menulis murni seperti engkau, Pram. Tentu saja dalam artiannya yang sederhana, menulis tok.

Mereka menulis berdasarkan kemampuannya sendiri dengan hasil yang sudah tentu bolak-balik ditolak oleh pihak penerbit buku. Tapi, orang-orang yang seperti ini terus berjuang, pantang menyerah kepada keadaan, sebagaimana yang selalu kau tuliskan pada anak-anak ruhanimu.

Sebab itu, mereka tidak berharap mengimbangi nama besar seorang Pramoedya Ananta Toer. Bukan rendah diri tapi sadar diri! Yang terpenting mereka mampu menulis sekarang. Cukup sudah. Selanjutnya, hanyalah: latih dan dilatih terus-menerus!

Alumni I:boekoe pada masa itu, sekarang sudah banyak“bersahabat” dengan pasar karena memang sesuai dengan suasana zaman. Tapi katanya ini merusak idealisme murni. Alumni I: boekoe masa kronik  tidak lagi murni sebagaimana engkau begitu murni menuliskan kemanusiaan pada anak-anak ruhanimu.

Dan salah seorang alumni di antara mereka  yang  tidak murni itu adalah saya, Pram.

Ya, diri inilah!

Biar aku ceritai kau lewat surat-menyurat imajiner ini, Pram. Terbayanglah saat kau mengajarkan surat menyurat kepada putra-putrimu dalam anak-ruhanimu yang lain Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Aku terhanyut saat membacai buku itu, karena begitu dekatnya kau dan putra-putrimu lewat surat-menyurat itu. Begitu mengharukan surat antara orang tua dan anak itu.

Barangkali surat ini sentimental, tak apalah. Aku hanya ingin menumpahkan segala rasa dan pikiran mengenang kepergianmu tepat 5 tahun lalu itu. Hanya ratusan pelayat yang hadir, tak banyak untuk ukuran seorang pujangga besar milik Indonesia yang sudah diakui dunia.

Meskipun begitu, dari ratusan para pelayat itu, tentu semuanya memiliki pandangannya masing-masing dalam mengenangkan seorang Pramoedya Ananta Toer. Dan tentu saja mereka pramis-pramis yang siap melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang tak berperikemanusiaan.

Kembali pada diri ini.  Ya, selepas digembleng dalam I:boekoe itu, saya hampir putus asa menyikapi pekerjaan yang belum lagi ada juntrungannya. Saya hanya seorang diri di tanah rantau ini. Kalau tak ada pergerakan yang nyata dari dalam diri ini maka hancurlah badan!  Pada anak ruhani Rumah Kaca, tertulis,  … “gairah kerja adalah pertanda daya hidup; selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut…”.

Ya, sampai pada akhirnya segala upaya dalam diri itu mendapatkan setitik terang lewat informasi pada Harian Kedaulatan Rakyat. Ya, penerbit Solomon yang beralamat di Malioboro itu, membutuhkan seorang creative writer sekaligus editor. Tanpa pikir panjang, saya langsung membikin surat lamarannya. Tapi, sudah setahun di sini belum lagi ada idealisme murni yang bisa dituangkan. Solomon–sebagaimana namanya–ternyata bukan seperti raja Salomo atau raja Sulaiman yang mewariskan amsal-amsal kebijaksanaannya kepada sekaliannya. Pada penerbit Solomon bisnis (buku) adalah segalanya. Ya, berorientasi pasar total. Akibatnya, tak lagi ada semangat kemurnian pikiran karena dibelenggu oleh pasar yang kian hari kian menguat! Buku-bukunya kurang “dihargai” para penikmat dan pecinta buku karena kesenangannya menggarap kontroversi-kontroversi seputar kajian Yahudi dan China. Lama-kelamaan tak lagi ada yang meliriknya. Sepi. Ya, bunga mawar yang harum akan tetap harum meskipun ditutup-tutupi!

Dan saya Pram, rasa-rasanya semakin tergerus dan terseret saja oleh penerbit buku macam ini. Masih mau pula bergantung di bawah ketiak orang lain. Belum bisa mandiri! Berdikari, begitu konsepnya Bung Karno. Maaf, segalanya hanya karena keadaan, Pram. Tapi, mulai saat dituliskannya catatan ini semua harus berubah, Pram. Sebagaimana ada termaktub: Bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum atau orang jika kaum atau orang itu tidak ingin mengubah nasibnya sendiri. Demikianlah, Pram.

Saya akhiri sampai disini saja surat-menyurat ini. Tabik.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan