-->

Lainnya Toggle

Sekali lagi tentang Rosihan (Obituari)

Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

AntonRosihan Anwar adalah satu-satunya wartawan yang mengerti sejarah pergantian kekuasaan dari dalam. Saat Amir Sjarifudin menyerah terhadap mosi tidak percaya yang dikobarkan Masjumi 1947, Amir berkata dalam satu rapat mendadak pada Soebadio : “Ik leg mijn ambt neer. Saya sudah kalah, Badio..wordt jij maar Perdana Menteri. Daar is the plane, ga jij maar Jakarta om meet de Belanda te spreken… (Saya letakkan jabatan saya, saya sudah kalah Badio, kau saja jadi Perdana Menteri.Di sana ada pesawat terbang, kau pergilah ke Jakarta untuk berunding dengan Belanda).

Tapi Hatta menolak saat, Hatta membaca permintaan Amir untuk mengangkat Soebadio. Kata Hatta : Soebadio is the Jong (Soebadio masih amat muda).

Seumur-umur Soebadio tidak pernah menjadi pejabat negara, ia malah berulangkali masuk penjara. Di awal kehancuran Suharto, Subadio-lah yang menulis catatan “Dasamuka” untuk mengeritik Suharto. Rosihan menjadi saksi semuanya ini.

Sukarno adalah orang yang sangat sayang pada Rosihan, waktu ada krisis politik dimana wartawan-wartawan intelektual menyerang Sukarno awal tahun 60-an, Sukarno berkata lemah pada ajudannya :”Kenapa Rosihan ikut-ikutan?”

Rosihan adalah saksi sejarah pergantian kekuasaan di negeri ini dari jarak paling dekatnya, di tahun 1947 ia menjadi petugas pendamping delegasi Amerika Serikat, ia jadi tukang bawa handuk, sabun dan keperluan pribadi orang Amerika Serikat sekaligus bertugas sebagai wartawan. Rosihan bersahabat dengan Kahin, ia selalu berkunjung ke rumah Kahin bila ia berpergian ke Amerika Serikat.

Rosihan bisa jadi merasa dirinya lebih pintar dari Pramoedya Ananta Toer, karena pendidikan Rosihan lebih tinggi dan Rosihan lebih pandai soal bahasa. Tapi Rosihan selalu minder dengan oplah buku karangannya yang tidak selaris Pram.

Suatu saat di tahun 1973 saat Rosihan mendampingi Jenderal Mitro gendut ke Pulau Buru dan bertemu dengan Pram, Rosihan ditanya Pram :”Apa yang kamu kerjakan sekarang?” jawab Rosihan “Aku sedang mengerjakan tulisan tentang bajak laut di Makassar, tapi kau tau sendirilah karena bukan kau yang mengarang buku-ku tak laku”.

Dibanding Pram, tulisan Rosihan memang lebih mudah dibaca dan runtut tapi harus diakui baris-baris kalimat Pram memiliki daya magic untuk sebuah rangkaian imajinasi, dan ini sulit dijelaskan.

Rosihan Anwar adalah seorang pembela sosialisme yang gigih, ia pengagum Karl Marx, dalam pandangannya : “Revolusi yang digerakkan kelas menengah akan terhindar dari kekerasan, sementara revolusi yang digerakkan kelas bawa akan menemukan takdir kekerasannya” Rosihan mencontoh apa yang dilakukan Sukarno dan Hatta adalah revolusi kelas menengah, begitu juga dengan Karl Marx yang diakuiinya bagian kelas menengah. Rosihan menunjuk Mao dan Stalin adalah revolusioner kelas bawah yang selalu memilih jalan kekerasan.

Soe Hok Gie pernah kesal sekali pada Rosihan saat mereka berdiskusi di rumah Maruli Silitonga untuk sebuah pertemuan rutin intelektual. Gie mencatat Rosihan sebagai orang tua yang sombong. Kesan ini memang melekat pada Rosihan sebagai orang pandai yang sering dicap agak tinggi hati.

Buku-buku Rosihan jarang yang laku, tapi yang laku justru buku yang ia tulis sejak tahun 80-an, tentang in memoriam. Ia menulis banyak tentang tokoh-tokoh yang pergi karena ia memang mengenal banyak tokoh di negeri ini.

Tanpa disadari itulah sumbangan luar biasa Rosihan pada negeri ini, pada generasi muda, setidaknya ketika ia menuliskan banyak tokoh tersebut generasi muda paham akan rangkaian gerak pendirian negeri ini, siapakah yang mengenal Dokter Sudarsono, tokoh yang membawa surat proklamasi ala Sjahrir diluar skenario Sukarno-Hatta ke Cirebon, siapa yang tau soal dokter Halim? siapa yang tau kisah Mayor Wibowo? Aboe Bakar Loebis (ABL)? RM Soetarto yang menjadi tandingan Usmar Ismail? atau kisah tentang Mahiddin? semuanya tergambar jelas dalam in memoriam Rosihan yang runtut itu. Atau siapa yang tau tentang sejarah renik-renik Indonesia, la Petite histoire kisah kecil dalam sejarah, kisah sepele di masa lalu, Rosihan mencatatkannya agar kita bisa belajar.

Bila Pram menuliskan sejarah dalam arus gelombang besar dengan genap segala epos hidupnya maka Rosihan menulis sejarah dalam suasana yang kalem, tenang dan jujur saja: amat manusiawi.

Sumber: Facebook Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto, 14 April 2011, Pukul 12:05

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan