-->

Resensi Toggle

On Writing | Stephen King | 2005

biografi_on_writingOleh: ANTOK SEREAN

Judul: Stephen King On Writing
Penulis : Stephen King
Penerbit : Qanita
Terbitan : 2005
Halaman :416 hal

Setiap ke toko buku, nama Stephen King tidak masuk daftar belanja. Sebab saya tidak suka cerita thriller. Membeli dan membaca novelnya persis membuang garam ke laut. Tindakan sia-sia. Mending baca buku sastra. Sekaligus bisa memperkaya kemampuan menulis. Yah, ini persoalan selera.

Tetapi, saya tergerak membaca bukunya: On Writing. Ada tiga pertimbangan. Pertama, Diana AV Sasa—Direktur Dbuku Bibliopolis—berulangkali merekomendasikan sebagai bacaan wajib setiap penulis. Tentu, saran penggila buku seperti dia patut didengarkan. Kedua, ini bukan cerita thriller. Lebih ke biografi proses kreatif. Berhubung saya sedang “isi bensin”, maka buku ini saya baca maraton dengan buku Proses Kreatif Jilid 2. Ketiga, tidak resiko rugi. Toh, saya pinjam di perpustakaan. Kalau tidak suka tinggal dikembalikan.

Di luar dugaan, usai baca kata pengantar Remy Sylado, saya terseret ke dalam buku. Stephen King sukses menjerat saya. Prakata Pertama, Kedua, dan Ketiga persis korek api yang menyulut minat pembaca. Selanjutnya, saya terbakar Bagian Pertama (CV dan Apakah Menulis Itu), Bagian Kedua (Kotak Perkakas), Bagian Ketiga (Tentang Menulis), Bagian Keempat (Tentang Kehidupan: Sebuah Catatan Tambahan, Pintu Tertutup Pintu Terbuka, dan Kepustakaan). Seluruhnya terangkum dalam buku mungil 416 halaman. Covernya sempat bikin saya keder: hitam. Memang, saya agak takut cerita hantu, pembunuh berantai, atau penyiksaan. Selalu bikin kebelet pipis.

Ah, pepatah lama itu benar: Don’t Judge A Book from The Cover.

Membaca On Writing seperti bercakap dengan sahabat baik. Saya duduk manis, merokok, dan minum kopi, sambil mendengarkan Stephen King cerita ngalor-ngidul tentang kisah hidupnya. Baginya, bekal penulis sudah ada dalam diri penulis. Bekal itu tidak istimewa. Hanya bersinar bila diasah dan dipertajam. Tentu dengan banyak membaca dan menulis. Penulis tidak dibuat, tapi terbentuk. Proses pembentukaan itu sejalan dengan kehidupan yang dijalani penulis. Maka, On Writing bukan auto biografi, justru semacam curriculum vitae—upaya penulis terbentuk. Bisa dipahami kalau isinya bukan tips menulis, lebih ke cerita masa kecil—embrio hasrat menulis muncul—, bagaimana proses menulis berjalan, tantangan, dan sikapnya menakhlukkan tantangan itu, hingga menghasilkan puluhan karya seperti sekarang.

Kuncinya keteraturan. Di halaman 208 dia menulis: Jadwalku sendiri cukup jelas. Pagi hari adalah waktu untuk apa saja yang tampak baru—komposisi terbaru. Siang hari adalah untuk istirahat siang dan menulis surat. Sore hari untuk membaca, untuk keluarga, permainan Red Sox di televisi, dan memperbaiki tulisan-tulisan yang perlu segera diperbaiki. Pada dasarnya, pagi hari adalah waktu utamaku untuk menulis.

Saya tertohok di bagian Pintu Tertutup Pintu Terbuka. Pintu Tertutup adalah analogi Stephen King membangun dunianya sendiri. Dia memiliki ruang khusus, menutup pintu, dan berjibaku di dalamnya. Tak akan keluar sebelum menghasilkan 2000 kata sehari. Semacam peringatan: Don’t Disturb! Cara ini memungkinkannya melahirkan karya secara konsisten. Patut dicatat, dia menolak kompromi dan keluar hanya untuk hal yang benar-benar penting. Sedangkan Pintu Terbuka adalah tempat karya dibaca orang lain, dipuji dan dikritik. Dia tak akan menyerahkan karya sebelum proses editing usai. Beruntung, Tabby—istrinya—pribadi multifungsi: pengertian sebagai istri dan kritis sebagai pembaca.

Klimaks buku ini ada di halaman 365, Tentang Kehidupan: Sebuah Catatan Tambahan. Nyawanya nyaris pupus gara-gara ditabrak mobil van kala jalan-jalan sore. Kaki bawah patah, lutut kanan robek, pinggang kanan soak, punggung dibedah di delapan tempat, dan tiga puluh jahitan di kepala. Kata dokternya, hanya mukjizat yang bikin dia tetap hidup. Tentulah, hari-hari bergulir dengan terapi kesehatan yang membosankan.

Dahsyatnya, lima minggu setelah kecelakaan, dia kembali menulis. Istrinya tak mencegah, sebab bisa mematikan daya pikirnya. Sengaja memberi ruang nyaman untuk menulis,”Aku bisa menyiapkan sebuah meja untukmu di ruang belakang, di luar pantri. Ada banyak stop kontak di sana—kau bisa memasang komputermu, printer kecil, dan kipas angin.” Dalam keterbatasan, dia menghabiskan musim panas bersuhu 35C dengan menulis buku ini: On Writing. Hebat!

Desember tahun lalu, saya sempat guneman dengan maestro sastra Suparto Brata.

Saya    : “Pak, njenengan biasa nulis jam pinten?”

Beliau  : “Habis Subuh sampai pagi, Dik. Pokok’e gak gelem diganggu nek gak penting tenan.”

Dibandingkan Stephen King dan Suparto Brata, pastilah saya paling malas. Jam segitu enak-enaknya ngorok ngak-ngok kemulan sarung produksi iler. Bagaimana dengan kamu?

3 Comments

Muslih - 05. Apr, 2011 -

Heee, asik nih… jadi pengin baca bukunya. Bagus nih, resensi model Mas Antok… heemmm. Salut…

agus buchori - 06. Apr, 2011 -

pada dasarnya semuanya adalah kerja keras dan kerja keras

Antok - 06. Apr, 2011 -

Muslih, makasih banyak. Bukunya asik dibaca, terjemahannya enak, nggak mbulet 🙂

Salam

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan