-->

Kronik Toggle

Rosihan Anwar Menulis Sampai Akhir (Obituari)

PENDIRI “Kompas” Jakob Oetama selalu mengatakan bahwa wartawan itu dikenal dari karyanya. Wartawan yang baik itu tidak pernah boleh berhenti untuk menulis. Itulah yang salah satunya dicontohkan oleh wartawan senior Rosihan Anwar.

Di mata Jakob Oetama, Rosihan memang merupakan wartawan yang luar biasa. Ia bukan hanya tidak pernah berhenti berkarya, tetapi gigih dalam memperjuangkan karyanya. Ia tidak pernah bosan untuk mempertanyakan nasib tulisannya, apabila tidak kunjung dimuat oleh media yang ia kirimi tulisannya.

Tulisan yang dibuat oleh Rosihan bukanlah tulisan yang biasa. Ia selalu bisa memaknai fenomena yang sedang terjadi. Dengan pengalamannya yang segudang, Rosihan bisa menempatkan peristiwa di dalam konteks, sehingga kita bisa lebih mudah memahami persoalan yang sedang ia bahas.

Rosihan merupakan tipe wartawan pejuang. Ia sudah menjadi wartawan sejak sebelum Indonesia Merdeka. Ia mengikuti perjuangan kemerdekaan dan merekam sepak terjang yang dilakukan para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan banyak lagi.

Kelebihan Rosihan adalah kemampuan untuk merekam semua peristiwa yang ia alami. Rosihan tahu secara detil akan peristiwa yang ia ikuti ketika itu. Ia tahu misalnya pakaian apa yang dipergunakan Bung Tomo ketika ada pertemuan di Malang. Rosihan juga tahu warna sepatu yang dipakai ketika itu.

Oleh karena itu Jakob Oetama selalu menyebutkan Rosihan sebagai sebuah catatan sejarah. Meski hanya sejarah kecil yang ia alami, namun maknanya luar biasa. Rosihan Anwar adalah sebuah petite histoire, sebuah sejarah kecil.

Sejarah kecil itu hari Kamis pagi(14/4) telah kembali kepada-Nya. Rosihan Anwar meninggal pada usia 89 tahun setelah menjalani operasi by-pass pada jantungnya. Meski operasinya berjalan baik, namun takdir mengatakan lain.

Kepergian Rosihan Anwar merupakan kehilangan besar bagi dunia pers. Dunia pers kehilangan perpustakaan hidup. Rosihan sedikit di antara wartawan yang mengikuti perjalanan secara lengkap dari bangsa ini mulai dari sebelum kemerdekaan hingga era Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.

Pelaku pers sekarang ini pantas belajar dari apa yang pernah dilakukan Rosihan. Bahwa pers itu harus memiliki prinsip yang tegas dan tidak boleh ditawar-tawar. Idealisme harus dipegang penuh dan jangan pernah mau diperjualbelikan.

Rosihan memilih untuk membiarkan surat kabarnya “Pedoman” ditutup oleh pemerintah Orde Baru. Ia merasa yakin bahwa yang dilakukan oleh “Pedoman” merupakan bagian dari tanggung jawab pers untuk melakukan kontrol dan koreksi. Media harus bersuara agar kekuasaan tidak menjadi salah guna.

Terakhir Rosihan masih datang ke Dewan Pers untuk menyatakan dukungan terhadap penentangan akan adanya kriminalisasi terhadap pers. Rosihan secara tegas menentang kriminalisasi terhadap pers, karena pers tidak bekerja atas suka dan tidak suka, tetapi memperjuangkan kebenaran.

Untuk itu Rosihan seringkali mengingatkan kalangan pers untuk tidak boleh bersikap apriori. Semua kekritisan harus ditempatkan di dalam konteks untuk mendudukkan perkara. Pers harus mampu menangkap persoalan secara utuh dan setiap hari harus melakukan verifikasi atas informasi yang diperoleh di lapangan.

Pesan lain yang selalu diingatkan Rosihan adalah pers Indonesia itu adalah pers perjuangan. Oleh karena itu pers Indonesia harus membela kepentingan nasional. Pers Indonesia harus ikut mendorong kemajuan dari bangsa dan negara ini, tanpa harus menjadi alat propaganda pemerintah.

Rosihan Anwar tidak pernah bosan untuk mengingatkan kalangan pers bahwa mereka adalah komunikator untuk membangun harapan, communicator of hopes. Oleh karena itu, pers sebisa mungkin memberikan tempat bagi prestasi besar yang pernah diraih agar memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Rosihan Anwar memang sudah tiada, namun sikap dan pemikirannya akan selalu hidup dalam diri insan pers Indonesia. Mengapa? Karena Rosihan Anwar tidak pernah bosan untuk menyampaikan prinsip-prinsip jurnalistik yang ia yakini dan selalu ia bagikan kepada wartawan-wartawan muda.

Rosihan Anwar sungguh merupakan seorang wartawan sejati. Sampai akhir hayatnya ia terus memberikan kontribusi bagi kemajuan pers nasional dan itu tidak pernah lelah ia lakukan.

*) Metrotvnews, 14 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan