-->

Kronik Toggle

Rosihan Anwar di Mata Mereka

“Saya mengenal beliau sebagai salah satu tokoh nasional, beliau juga tokoh pers yang menjadi panutan bagi para pelaku jurnalis. Beliau merupakan wartawan lima zaman. Jejak langkahnya terekam dalam 21 judul buku hasil karyanya dengan ratusan artikel yang tersebar di hampir semua media nasional maupun asing. Hingga menjelang akhir hayatnya, beliau masih aktif mengirim artikel. Sebagai bangsa, kita jelas merasa kehilangan beliau. Rosihan Anwar adalah salah satu saksi detik-detik proklamasi Indonesia. Dia sangat hafal peristiwa sejarah nasional dan tokoh-tokoh di balik setiap peristiwa. Kemampuannya dalam memahami peristiwa sekaligus mendalaminya sangat langka dimiliki wartawan zaman sekarang.

(Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat)

“Sebagai wartawan, kekuatan beliau ada pada kata-katanya. Wartawan yang baik, sepengamatan saya, mempunyai kecenderungan memiliki gaya tulisan yang indah dan kaya akan kata-kata,Saya berguru kepada beliau”.

(Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas)

“Beliau adalah saksi sejarah Indonesia dan penuh dengan karya yang mendokumentasikan perjalanan bangsa ini. Karya ini sangat berguna bagi generasi yang akan datang. Saya kira kita semua menginginkan hidup yang penuh dengan karya dan produktif sampai akhir hayat. Luar biasa”.

(Boediono, Wakil Presiden)

“Ya saya sangat kehilangan, terutama semangat yang tidak pernah luntur untuk patriotisme, nasionalisme, dan silaturahimnya itu luar biasa. Saya menemukan foto yang masih asli, Rosihan Anwar berdampingan dengan Letkol Soeharto menghadap Panglima Besar Sudirman”.

(Andi Mapetahang Fatwa, Politisi)

“Beliau selalu mengembangkan pemikiran-pemikiran bahwa benteng-benteng kebebasan pers harus ditegakkan. Beliau juga selalu mengatakan, idealisme kewartawanan jangan sampai luntur oleh materi. Terakhir, ketika terbaring di RS Harapan Kita, beliau masih membicarakan soal idealismenya”.

(Harmoko, Mantan Menteri Penerangan)

“Beliau adalah sosok wartawan yang penuh idealisme. Ini saya kira sikap yang patut dicontoh. Beliau kritis, namun penyampaiannya selalu menyejukan. Orang yang dikritik pun menjadi bisa menerima kritikan tersebut”.

(Agung Laksono, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat)

“Sejak era Presiden Soekarno, era Presiden Soeharto sampai era reformasi, beliau tetap kritis, Tapi kami bersahabat dan saya ingat saat beliau terakhir kali hadir di Istana Negara untuk menyampaikan pandangan kritis, tapi penuh tanggung jawab dan didasarkan pada niat yang baik. Saya berharap muncul Rosihan Anwar-Rosihan Anwar baru dengan pemikiran segar untuk memberi masukan bagi media massa, budaya, sastra dan film”.

(Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI)

(IBOEKE, Berbagai sumber)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan