-->

Lainnya Toggle

Rahasia Selma: Pandangan Anggota Sidang

rahasia-selma-book-coverSampul buku kumpulan cerpen Linda Cristanty yang diberi judul Rahasia Selma ini menjadi perhatian pertama anggota Sidang Dewan Pembaca yang kali ini terdiri atas Nisa Diani (blogger di Surabaya), An Ismanto (editor dan sastrawan di Yogyakarta), dan Gita Pratama (pustakawan dbuku bibliopolis di Surabaya). Panitera sidang yang bertugas kali ini adalah Diana AV Sasa.

Mula-mula soal sampul. Anggota sidang bersepakat bahwa sampul buku ini mirip dengan buku Lolita-nya Vladimir Nabakov.

Tentang gambar sampul ini, Nisa berpendapat: “Ketika saya mencoba mencari tahu sepasang gambar kaki anak-anak, berkaus kaki hijau bergambar bunga-bunga namun bersandal itu saya menemukan bahwa ada kemiripan konsep dengan cover buku berjudul Lolita karangan Vladimir Nabokov. Bedanya Lolita berkesan lebih menyedihkan dengan tampilan hitam-putih daripada Rahasia Selma yang berwarna lebih ‘ngejreng’ dalam kacamata saya. Cover ini saya katakan sesuai dengan kisah Rahasia Selma, yang menggambarkan rasa keingintahuan seorang gadis bernama Selma akan dunia luar, kemudian ia melakukan perjalanan sembunyi-sembunyi, hal ini dikarenakan rasa kesepian yang tengah dialami. Tapi apakah cover ini merepresentasi isi cerita-cerita lain di dalamnya? Saya rasa tidak.”

Gita menilai buku ini dengan sedikit lebih keras. “Saya menyebut buku ini adalah buku yang tidak percaya diri sedari kulit muka. Sampul depan buku ini mirip banget dengan figur gambar sampul Lolita-nya Vladimir Nabakov. Ternyata memang gambar itu diambil dari shutterstock. Tak ada yang salah dengan kesamaan konsep, toh sampul Linda menekankan perbedaan pada warna yang lebih jreng dan posisi berdiri kaki yang lebih mantap. Namun buat saya, malah terkesan tidak PD.”

Lebih lanjut Gita berpendapat: “Lihat saja apa yang ditulis sebagai endorsement pada sampul belakang. Meskipun bermaksud menceritakan sosok penulisnya, tapi paragraf-paragraf itu lebih banyak mengungkap tentang buku terdahulu dibanding buku ini sendiri. Bukankah pembaca berharap juga untuk mengetahui apa pendapat para pesohor yang telah membaca buku ini? Ibarat kata, kita pengen bilang begini ‘Ah, kalau Kuda Terbang Mario Ponto gak usah dikomentari disini lah..!”

Tentang sampul belakang ini, Nisa mengajukan pertanyaan, “Adakah sebuah alasan khusus dengan memajang endorser dari buku yang ditulis Linda sebelumnya pada buku ini? Kesemua yang diajukan adalah penyair dan lebih dikenal puisi-puisinya. Saya jadi mengaitkan apakah ada alasan khusus yang dipakai penerbit atau pun penulis dalam menarik para pembacanya untuk lebih menggiring pembaca puisi menikmati karya ini?”

Tentang cerpen-cerpen dalam buku ini, An Ismanto melihatnya sebagai sebuah kolase suasana. Berikut pendapat editor Seratus Buku Yang harus Dibaca sebelum Dikuburkan (2009) dan pernah beberapa saat di daring Melayu Online sebagai editor:

“Pengarang Linda jelas sedang berusaha memanfaatkan trik abadi dalam seni dan sastra: penciptaan tragedi untuk memicu katarsis. Barangkali pembaca pun akan terpancing: setelah menyelesaikan cerpen terakhir, ‘Babe’, sang pembaca, dengan tragedi-tragedi pada cerpen-cerpen sebelumnya masih terngiang dalam pikirannya, akan merenung panjang, bergidik, lantas menghela nafas lega: ‘Untunglah hanya dalam cerita rekaan’ (kita teringat pada kelegaan para penonton Brecht: ‘Untunglah kejadian itu hanya di panggung’). Barangkali memang itulah yang diharapkan oleh pengarang Linda.

“Komposisi total cerpen-cerpen Linda adalah ‘kolase suasana’ – bukan suasana – yang jika dipandang secara menyeluruh akan tampak sebagai satu set yang datar: tidak ada drama, tidak ada ketegangan. Narasi utama melangkah maju dengan tempo yang sangat lambat dan berakhir tanpa pemecahan masalah. Tersingkapnya pokok-masalah-dalam-cerita pun baru muncul setelah elaborasi yang terlalu panjang dan berlebihan atas berbagai pembayang. Tidak ada cerita. Hanya ‘kolase suasana’. Jadinya, cerpen-cerpen Linda lebih mirip dengan reportase jurnalistik karena memberikan porsi yang terlalu besar bagi ‘fakta’, yang dihadirkan untuk mendukung suatu ‘ide’, sementara porsi bagi eksplorasi perkakas literer yang lain (misalnya perkembangan kejiwaan atau perwatakan) sangat minimal.”

Nisa menambahkan pendapatnya: “Penulis memakai bahasa penuturan penggambaran yang kuat dalam tulisannya. Setidaknya setiap memulai cerita baru atau subbab baru penulis selalu menuliskan deskipsi gambaran detail suasana, tempat secara detail, namun saya juga menjadi memahami, tak demikian dengan deskripsi waktu.”

Lebih lanjut Nisa mengatakan bahwa cerita Linda menggambarkan kisah sederhana, sehari-hari dengan cara yang unik. Pemilihan kata-kata dalam kalimat-kalimatnya pun kaya. “Namun entah bagaimana, saya kurang ‘akrab’ dengan cerita-cerita itu. Layaknya cerita harian, cerita-cerita di sana menjadi milik ‘sendiri’. Sangat aneh rasanya ketika membaca ‘Pohon Kersen’ misalnya saya harus menemukan ‘kopi robusta’ dan ‘Ham Lam’ di tengah jajaran karakter ‘Mak Sol’ atau ‘Yu Ani’. Atau seperti membaca Rahasia Selma, ketika menemukan karakter Pak Suhana yang muncul dan kemudian muncul lagi nama Wilhelmus. Saya jadi kebingungan menentukan cerita ini mengambil setting di mana?” kata Nisa.

Rasa kurang ‘sreg’ yang dirasakan Nisa turut diamini oleh Gita. “Tema besar yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini  tak bergerak jauh dari seputar seks, trauma, dan obsesi. Tema yang buat saya melulu diangkat oleh banyak penulis perempuan penyuka sastra wangi. Setting cerita yang bayak berkiblat pada Barat, dengan munculnya istilah-istilah macam panekuk kentang, spageti, salmon steak, tumis brokoli, roti gandum, kalkun asin, plie u, Johannesburg, Amerika, FBI, CNN, Meulborne, membuat saya seperti membaca cerita yang demikian jauh dari keseharian sekitar saya. Barangkali ini berkait erat dengan hidup keseharain penulisnya,” gugat Gita.

Bagi An ismanto pembaca fiksi, se-avant garde apapun, pertama-tama tidak berurusan dengan pengarang Linda, melainkan dengan teks cerpen-cerpen Linda. Pembaca fiksi yang memulai membaca cerpen-cerpen itu dengan harapan akan berjumpa dengan “dunia-dalam-kata” yang dramatis, penuh ketegangan, dan emosi yang dinamis, kemungkinan besar akan berpikir ulang jika harus meneruskan membaca setelah cerpen pertama selesai.

“Tidak ada ‘cerpen suasana’ dalam buku kumpulan cerpen ini. Yang ada, dan melimpah, adalah ‘suasana-suasana’, yang hadir hanya sebagai sub-subnarasi, atau fragmen-fragmen, dari komposisi total setiap cerpen,” papar Ismanto.

Nisa yang merasa galau karena mesti mengeryitkan dahi ketika membaca buku ini mengungkapkan keresahannya: “Kegalauan saya adalah, meski cara penulisannya liris, kaya tema dan memiliki jalinan cerita yang kuat, saya selalu tidak paham dengan ending-ending dari tiap ceritanya. Apakah ini berkaitan dengan cerita catatan hati, saya tidak bisa menangkap maksudnya. Butuh pikiran yang tenang untuk paham satu persatu ceritanya, dan pembaca bukan seseorang yang selalu dalam keadaan serius dan penuh fokus saat membaca.”

Sementara Gita melihat sisi usaha Linda untuk menemukan keanekaragaman bentuk cerpen dengan sedikit jeli: “Penulis berusaha menjajal berbagai bentuk pola cerpen. Salah satunya dengan bermain-main pronomina (kata ganti). Mungkin agar terkesan njlimet dan sedikit butuh ‘mikir’ untuk paham ceritanya. Seperti Novel pemenang Nobel 2000, Gao Xingjiang, yang tebalnya sungguh aduhai, Gunung Jiwa, memakai ribuan pronomina (kata ganti: aku, kau, ia, dia, kami, kita, itu) sebagai tokoh. Nyaris nggak ada tokohnya (tokoh utama) yang bernama. Dalam beberapa cerpen Linda berhasil (‘Ingatan’) , tapi dalam cerpen lain ia tidak konsisten (‘Jazirah dari Utara’) sehingga mengganggu irama membaca.”

Dan Nisa pun memberikan pandangan akhirnya dalam sebuah kesimpulan: “Rahasia Selma tampaknya tidak cocok untuk pembaca cepat. Kehilangan satu paragraf saja maka hilanglah jalinan cerita. Cerita yang disuguhkan sarat dengan bahasa symbol yang lekat dengan tema kemanusiaan yang berat. Namun penyajian bahasa yang liris memungkinkan penikmat bahasa syair dapat menikmati karya ini.

Di sisi lain, Gita mencoba melihat hal menarik dari buku ini, “Yang saya suka dari kumcer ini adalah setting buku dan penulis. Bang Husni yang menyewa buku-buku komik dari kios buku di pasar dan meminjamkannya pada tokoh Aku untuk merayu agar bisa melakukan tindakan seksual (‘Pohon Kersen’). Dan tokoh Aku yang seorang penulis dalam cerpen ‘Babe’.”

Gita menyukai tulisan ini karena: “Kau malah menanyakan pekerjaanku, lalu kujawab aku penulis. Kamu langsung terbahak. Penulis sama sekali bukan pekerjaan, tapi hobi, kamu sungguh-sungguh mengecilkan derajat penulis. Kamu tidak tahu betapa berbahaya tulisan di mata penguasa. Di beberapa negara orang diancam hukuman mati gara-gara menulis, bahkan wartawan digantung atau dibunuh. Kadangkala hukuman untuk tulisan lebih berat ketimbang hukuman untuk pelempar granat atau pejabat korup”.

Menurut Gita, tulisan ini mewakili pembelaan atas pengakuan penulis sebagai sebuah profesi. (DS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan