-->

Kronik Toggle

Puisi untuk Rosihan Anwar

Sajak Sejarah Kecil Untuk Rosihan Anwar

Oleh: Rama Prabu

[#1. IN MEMORIAM ROSIHAN ANWAR]

gelatik itu terbang pagi ketika fajar membuka terali
membawa kabar dari senja putaran katakata

ada kicau yang dulu jadi cerita
tentang sejarah kecil orangorang tepi
tentang mereka yang mengobarkan api revolusi
menuntun jalan menegakan negeri

dan disini, seorang putra Anwar Maharaja Sutan
putra terkasih demang padang menuliskan risalah di bilah-bilah kayu
jadi pedoman para pemburu laku
bersiasat untuk menarik bendera ketiang merdeka
tegaknya kehormatan bangsa

walau hari ini bersama kicau gelatik dia pergi
ke barat dari rumah
raja kecil itu tetap menulis dalam air
walau musim berganti
katakatanya tetap akan abadi

karena dia menulis bahasa hati
sajak kecil hanya bisa mewakili
suara pengiring doa
kami orang-orang yang mencinta

Dari Solok Ke Kuningan [#2. IN MEMORIAM ROSIHAN ANWAR]

dari solok ke kuningan ada bentang sadiwara maya
ada tapak yang tak mungkin terpupus debu
ada jejak yang tak mungkin tertimbun waktu

kau menggali kisah-kisah zaman revolusi
mencatat halaman-halaman tragedi
merangkum prahara dan kerasnya terali besi
sebuah tirani

dan disana, kau tancapkan tonggak besar sebagai tugu
melintasi jarak orde berlalu
dihitungan kepala para penguasa
tertulisalah bintang seorang mahaputra

Bukitduri Menghitung Rezim Berganti [#3. IN MEMORIAM ROSIHAN ANWAR]

siapa disekap di bukitduri?
celana pangsi tanpa topi dan catatan diri
Rosihan bin Anwar Maharaja Sutan memperkenalkan diri

koran siapa di kursi pemimpin revolusi?
bacaan pedoman mengganjal duduk tuanku Soekarno di tahun enam satu
Rosihan bin Anwar Maharaja Sutan menegakan diri
koran itu siap berhenti

bintang mahaputera siapa tertinggal di meja ketua pembangunan?
bintang jatuh bersama pedoman tak mau patuh di tahun tujuh empat
Rosihan bin Anwar Maharaja Sutan kembali unjuk tangan
menantang rezim, mecatat riwayat kekejaman

karena kisah revolusi, proklamasi dan reformasi tak pernah henti
ihwal jurnalistik ibarat raja kecil menulis dalam air
maka selali lagi biarkan musim berganti
dedaun bunga tumbuh bersemi lagi
karena disana terpancak tiang merah kehidupan
yang tak lepas dari darah dan doa

kini dia telah pergi menetap di pusar bumi
sebagai pengiring jalan
terimalah laguku
tembang bukitduri menghitung rezim berganti
untukmu puan sejati siti zuraida pendamping hati
dan pejuang yang tak pernah lelah menegakan harga diri
sampai mati.

Bandung, 14 April  2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan