-->

Kronik Toggle

Perpustakaan Ali Sadikin Akan Dibangun di Bandung

Bandung – Yayasan Pusat Studi Sunda akan membangun perpustakaan khusus untuk menampung berbagai buku dan karya sastra sunda. Lokasinya di  Jalan Garut Nomor 2, Bandung . Jumlah koleksinya saat ini sudah lebih dari 13 ribu judul. “Pembangunan dimulai akhir tahun ini atau awal tahun depan,” kata Sekretaris Yayasan Hawe Setiawan kepada Tempo, Kamis (31/3).


Saat ini, bangunan di Jalan Garut itu masih berupa rumah tua. Di halamannya yang cukup luas, hanya ada pakaian yang sedang dijemur dan sepasang sandal di teras tangga saat Tempo menyambanginya siang itu. Dari celah lembaran papan seng yang nyaris menutup rapat seluruh pagar, terlihat tak ada orang.

Sejak tahun lalu, hunian bercat putih itu menjadi rumah buku. Semua ditumpuk dalam kardus karena bangunan itu akan dipugar menjadi gedung berlantai tiga untuk kantor yayasan dan perpustakaan.

Ali Sadikin merupakan gubernur DKI Jakarta yang paling fenomenal. Ia dikenal memliiki komitmen yang tinggi terhadap kebudayaan. Saat memimpin Jakarta pada akhir 1960-hingga awal 1970-an, Ali antara lain membangun Taman Ismail Marzuki dan memprakarsai pelestarian Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Koleksi buku doumentasi yayasan yang berdiri 2002  itu, menurut Hawe, paling banyak bertema sejarah dan kebudayaan Sunda. Lainnya tentang sastra, agama, dan pengetahuan umum dalam bahasa Sunda, Belanda, Inggris, serta hasil terjemahan naskah lama dari Leiden , Belanda.

Sebagian besar atau setengah dari koleksi buku disumbang para pendiri pusat studi, seperti Edi S Ekadjati, Ayat Rohaedi, dan Ajip Rosidi. Lainnya diperoleh dari donasi anggota dan masyarakat, negara Perancis dan Belanda.

Sebelumnya, aktivitas kajian dan diskusi pusat studi selama 4 tahun berlangsung di sebuah rumah di Jalan Kliningan II, Bandung , yang disewa Rp 26 juta per tahun. Adapun koleksi buku, kerap digunakan anggota pusat studi juga masyarakat umum. Karena belum mampu membuat perpustakaan dan memakai jasa pustakawan, sejumlah mahasiswa, peneliti, seniman, budayawan, pengarang, atau wartawan, hanya bisa membaca buku di tempat tanpa boleh meminjam dan dibawa pulang.

Menurut Direktur Kiblat Buku Utama Rachmat Taufik Hidayat, rumah di Jalan Garut itu dibeli Ajip Rosidi seharga Rp 2,75 miliar. Uang diperoleh Ajip setelah menjual lukisan karya Affandi. Karya maestro lukis Indonesia itu dijual di balai lelang, Christie di Singapura.

Biaya operasional tahunan pusat studi itu menurut beberapa sumber, paling banyak disumbang Ajip dari hasil usaha percetakan bukunya. Percetakan buku seperti Kiblat Buku Utama dulu juga didirikan Ajip dari hasil penjualan koleksi lukisannya. Sumber pendanaan lain berasal dari iuran anggota dan masyarakat. “Masih bisa cari-cari sendiri tanpa mengandalkan pemerintah,” ujarnya.

Kondisi pusat studi berbeda dengan PDS HB Jassin yang terancam tutup. Menurut Hawe, PDS sedari awal memang bergantung dari pendanaan pemerintah daerah. Sedangkan pusat studi sejak awal telah mandiri. Pendirian pusat studi adalah salah satu amanat hasil Konferensi Internasional Budaya Sunda pertama di Bandung yang digelar Yayasan Kebudayaan Rancage serta Toyota Foundation pada 2001.  

Kini untuk keperluan penyelamatan naskah kuno, kata Hawe, Pusat Studi Sunda meminta bantuan pemerintah. Tahun ini mereka mengajukan proposal dana Rp 700 juta ke pemerintah provinsi Jawa Barat. Naskah abad ke-16 berbahan daun lontar dan nipah di tangan masyarakat adat di Bayongbong, Garut, Jawa Barat, itu akan didokumentasikan karena kondisinya makin rusak. Dokumentasi naskah itu akan dilakukan dengan cara difoto, lalu dibaca oleh filolog atau ahli tulisan kuno, diterjemahkan, kemudian akan dibukukan.

ANWAR SISWADI

*) Tempointeraktif, 3 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan