-->

Kronik Toggle

Museum Ali Hasjmy Butuh Bantuan

Banda Aceh -Hanya terlihat empat mahasiswa dari sebuah universitas di Banda Aceh yang tampak khusuk membolak-balik setumpuk buku dan berbagai dokumen lawas Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Jumat (01/04) pagi. Selebihnya, suasana museum itu sunyi.


Di hari-hari lain, tercatat sejumlah mahasiswa asal luar negeri, seperti dari Malaysia datang berkunjung. Mereka umumnya mempelajari sejarah hubungan Aceh masa lalu dengan negaranya. Sementara mahasiswa di Aceh umumnya menggandrungi sejarah Aceh masa silam.

Di dalam bangunan milik Ali Hasjmy, mantan gubernur Aceh (1957 – 1964), yang berdiri di atas lahan seluas seluas 3.000 meter persegi berderet rak-rak dengan aneka buku yang sudah udzur. “Beginilah kondisi museum, tidak banyak berubah dibandingkan dulu, saat awal-awal tsunami,” kata M Djailani, Kepala Tata Usaha Museum itu kepada Tempo.  

Bangunan di Jalan Sudirman, Geuce, Banda Aceh yang merupakan rumah peninggalan almarhum Ali Hasjmy itu sebetulnya tak sampai terhempas gelombang tsunami. Tapi gempa yang mendahuluinya sempat memporak-porandakan rak-rak di sana. Buku-buku pun berhamburan dan sebagian basah oleh genangan air laut yang masuk, meski cuma semata kaki.

Menurut Djaelani, bantuan yang dijanjikan berbagai pihak pasca tsunami nyatanya tak banyak yang diwujudkan. Cuma University Tokyo yang pernah mengirimkan mahasiswanya untuk membuat katalog pustaka. Juga salah satu lembaga di Jerman yang membantu digitalisasi manuskrip lama di museum tersebut. Dari Pemerintah Daerah Aceh, tahun lalu mengucurkan Rp 100 juta untuk perawatan manuskrip lama. Selebihnya, urusan museum menjadi kewajiban dari ahli waris Ali Hasjmy yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk merawat peninggalan sang ayah.  

Staf  museum, Azhar mengatakan merawat manuskrip lama perlu kerja keras dan ketelitian. Biasanya manuskrip lama dijaga dengan menyemprot cairan anti jamur setiap tiga bulan sekali. “Untuk mencegah kertas-kertas lapuk,” ujarnya.

Ia berharap ada perhatian oleh pemerintah maupun pihak lain untuk membantu perawatan benda-benda dan buku sejarah di sana. “Kita meminta semua pihak peduli pada sejarah, peduli pada merawat benda-benda lama,” kata Djailani menambahkan.  

Diresmikan pada 15 Januari 1991 oleh Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim, museum dan perpustakaan itu terbagi dalam empat ruangan; pertama adalah Khutubkhanah Tgk Chik Kutakarang yang berisi kitab-kitab dan buku dari berbagai disiplin ilmu baik agama, sastra dan sejarah, termasuk buku-buku dari awal abad ke 20.

Selanjutnya adalah ruangan Warisan Budaya Nenek Puteh yang berisikan benda budaya dari Aceh semisal pakaian adat Aceh, benda-benda keramik masa silam dan juga senjata-senjata khas Aceh. Di ruangan tersebut juga ada pedang milik Habib Mustafa, pahlawan Aceh yang meninggal saat melawan Belanda di Bakongan, Aceh Selatan, tahun 1926.  

Juga ada khasanah Ali Hasjmy yang memperkenalkan sosok beliau sepanjang hidupnya. Di sana tersimpan rapi dokumen-dokumen pribadi semasa sekolah maupun saat menjadi gubernur dan Menteri Dalam Negeri Indonesia (1964 – 1966). Ruangan yang terakhir adalah Tekonologi Tradisonal Aceh yang menyimpan hasil produksi kerajinan rakyat Aceh.

Adi Warsidi

*) Tempointeraktif, 3 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan