-->

Resensi Toggle

Merajut Makna | Putu Laxman (ed) | 2009

Oleh Subhan Ahmad

Merajut MaknaMerajut Makna: Penelitian Kualitatif Bidang Perpustakaan dan Informasi | Putu Laxman Pendit (editor), Ambar Yoganingrum, Evalien Suryanti, Kalarensi Naibaho, Laely Wahyuli, Laksmi, Ninis Agustini Damayanti | Cita Karyakarsa Mandiri | Jakarta, 2009

Di tengah ramai pemberitaan perihal PDS HB Jassin, muncul nama seorang akademisi ilmu perpustakaan dan informasi yakni Bu Ninis. “Seorang pustakawan selain bertanggung jawab atas pengelolaan koleksi juga harus bisa menjadi konsultan bagi pengunjung yang ingin mengakses koleksi,” ujar Bu Ninis.

Komentar tersebut mengingatkan saya untuk membaca kembali tulisan-tulisan tentang ilmu perpustakaan dan informasi, khususnya mengenai peralihan paradigma perpustakaan dari fokus koleksi ke pemakai. Kemudian muncul kebetulan-kebetulan yang mengarahkan saya untuk berpikir perihal bagaimana pustakawan (lebih) memahami pemustaka dan kebutuhannya.

Kebetulan-kebetulan itu antara lain: diskusi mengenai “Peran Sosial Pustakawan” di milis ICS, promosi buku terbitan “Cita Karyakarsa Mandiri” oleh Mbak Clara melalui halaman facebook “Griya Smart Kita”, serta membaca resensi buku “Seeking Meaning” yang ditulis oleh seorang Pustakawan bernama Mark Lindner.

Saya memaknai kebetulan-kebetulan tersebut di atas sebagai rambu-rambu agar saya kembali fokus membaca buku ilmu perpustakaan dan informasi agar tidak melenceng dari khittah sebagai Pustakawan.

Dan akhirnya, akhir Maret lalu saya memperoleh kiriman buku “Merajut Makna”. Saya berencana membuat serial resensi sesuai dengan setiap bab dalam buku itu. Sehingga, mudah-mudahan, akan ada sepuluh tulisan dalam serial catatan Mozaik Makna ini. Mudahan-mudahan. Semoga. Insyaallah.

Sebagai pembuka, saya hanya memuat salinan beberapa paragraf dari tulisan “Pengantar Editor”, khususnya halaman 9-10.

# # #

Selama beberapa dekade di awal kemunculan ilmu perpustakaan dan informasi, pendekatan kualitatif belum banyak ditengok orang. Paradigma yang berkembang ketika para ilmuwan memulai upaya penelitian bidang perpustakaan dan informasi adalah paradigma positivis yang dibawa dari ilmu alam atau dari ilmu sosial yang berorientasi pada sains. Sebelum penelitian kualitatif menjadi populer, bidang perpustakaan dan informasi memerlukan perubahan paradigma terlebih dahulu. Perubahan itu adalah perubahan dari objektivisme ke konstruktivisme.

Dalam perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi, perhatian kepada manusia ini sebenarnya sudah lama muncul, walau gaungnya seringkali kalah oleh perhatian pada kemajuan teknologi dalam pengertian teknik, alat, dan mekanisme. Kita dapat menyimak, misalnya, ulasan Sutton (1998), tentang kerisauan yang muncul di kalangan pustakawan karena para peneliti cenderung mengabaikan aspek manusiawi dalam kepustakawanan maupun ilmu perpustakaan dan informasi. Kerisauan ini sudah diungkapkan sejak 1970an. Bahkan dalam beberapa hal, seorang pustakawan senior di Amerika Serikat, Jesse Shera, di tahun 1950an sudah menyuarakan keraguan para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi tentang fokus penelitian mereka. Ia mengakui bahwa ada aspek subjektif selain hal-hal yang objektif dalam pengelolaan pengetahuan. Tetapi Shera tidak terlalu tegas menganjurkan peralihan paradigma dari positivis ke interpretivis dan konstruktivistis. Penulis lain, yaitu Curtis Wright (1979) lah yang dengan tegas mengatakan bahwa kepustakawanan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai ilmu pasti-alam dan ia dengan jelas menganjurkan alternatif interpretivisme sebagai pengganti positivisme dalam ilmu perpustakaan dan informasi.

Ilmu perpustakaan dan informasi hanya akan mengisolasi dirinya sendiri kalau mengandalkan metode ilmu pasti-alam dan positivisme belaka

Satu dekade setelah Wright mengemukakan kritiknya, Harris (1986) mengulangi kritik itu dan mengajukan argumentasi yang mengatakan bahwa ilmu perpustakaan dan informasi hanya akan mengisolasi dirinya sendiri kalau mengandalkan metode ilmu pasti-alam dan positivisme belaka. Ia mengkritik positivisme karena menyebabkan kepustakawanan kehilangan kontak dan sensitivitas terhadap masalah-masalah sosial. Bersama Harris, penulis-penulis lain, misalnya Grover dan Glazier (1985) dan Benediktsson (1984) mulai menggunakan prinsip-prinsip interpretivisme untuk mengkaji persoalan ilmu perpustakaan dan informasi. Metode kualitatif semakin populer setelah beberapa penulis menguraikan secara lebih populer setelah beberapa penulis menguraikan secara lebih rinci teknik dan prosedur kualitatif, seperti misalnya yang dilakukan Natoli (1989), Mellon (1990), dan Glazier dan Powell (1992).

Subhan Ahmad, pustakawan dan kontributor portal Indonesia Buku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan