-->

Kronik Toggle

Menulislah Dengan Misi

Seringkali kita menuangkan pikiran dalam tulisan hanya sekedar ekspresi emosi yang tanpa misi. Padahal dari tulisan, banyak hal yang bisa dilakukan buat orang terdekat juga masyarakat. Kekuatan tulisan bisa jadi perubah tatanan sosial, seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir dimana dua rejim berkuasa di sana bisa tumbang hanya dipicu karena tulisan-tulisan di Facebook maupun Twitter.

”Menulislah dengan misi!” demikian SINTA YUDISIA Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur saat berdiskusi di ITS dalam Seminar Berkarya yang digelar BEM ITS, Sabtu (16/04).

Tulisan, kata SINTA, harus punya dampak buat masyarakat. Media-media jejaring sosial saat ini sudah membuat setiap orang mudah untuk mempublikasikan tulisan tanpa harus tergantung pada media cetak konvensional atau penerbitan.

Penulis novel The Road to The Empire memberikan contoh betapa kekuatan tulisan bisa begitu mempengaruhi pikiran banyak orang meskipun penulisnya sudah lama tiada. THEODORE HERZL misalnya, ide-idenya tentang zionisme yang tertuang di buku der Judenstaat tulisannya benar-benar menjadi inspirasi bagi berdirinya negara Israel. Begitu pula buku Das Kapital tulisan Karl Marx yang jadi panduan berdirinya negara-negara komunis di awal abad ke-20.

”Selama kita konsisten menulis dan dipublikasikan, tulisan-tulisan kita akan menciptakan pemikiran yang berkesinambungan karena selalu ada kritik terhadap tulisan kita. Inilah yang menciptakan pembaharuan dalam pemikiran kita,” papar SINTA.

Jika setiap orang sudah menulis dengan misi masing-masing, maka diharapkan budaya literasi bangsa ini bisa berkembang. Disayangkan SINTA, Indonesia punya budaya baca yang sangat rendah. Hanya satu dari seribu orang Indonesia punya kebiasaan membaca buku secara konsisten.

Padahal budaya literasilah yang menurut SINTA, menjadi pengatrol martabat sebuah bangsa. Dengan ilmu pengetahuan yang benar, akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan, kata SINTA. Untuk itulah, jelas dia lagi, beberapa bangsa yang sekarang dalam kondisi tertindas, mencoba bangkit dengan mengembangkan budaya literasinya.

Bangsa Palestina yang terkungkung di Jalur Gaza misalnya, seperti dalam pengamatan 5 hari SINTA, memilih memperbanyak perpustakaan dan melarang berdirinya tempat-tempat prostitusi agar lebih banyak warga Palestina yang menjadi lebih terbuka wawasannya dalam penindasan.

”Sayang sekali pemerintahan negara ini tidak punya kebijakan yang jelas soal meningkatkan angka literasi masyarakatnya,” keluh SINTA mengakhiri diskusinya.(edy)

*) Suarasurabaya, 16 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan