-->

Tokoh Toggle

Mengobrol di Teras Robertus Robet

img004Di rumah sosiolog, penulis, dan aktivis Robertus Robet, deretan buku menjadi penghuni setia. Teras rumah dan ruang keluarga menjadi arena diskusi.  Tiga pasang kursi kayu dan sebuah kursi malas ada di sudut teras. Meja bundar mungil tertata di bagian depan teras rumah. Di depan teras tampak rerumpunan bambu. Serasa tak bosan berlama-lama mengobrol di teras rumah Robertus Robet (39), sosiolog Universitas Negeri Jakarta itu.  ”Pernah ada teman datang, bertamu dan duduk mengobrol hingga pukul 02.00 dini hari di teras rumah,” tutur Robet.

Itu mengapa Robet kerap begadang hingga dini hari. Malam di rumah menjadi satu-satunya kesempatan baginya untuk menulis dan membaca. Ia bisa membaca di mana saja di rumah. Namun, untuk menulis, ia biasa mengerjakannya di perpustakaan pribadi di lantai dua

Bukan hanya tempat tinggal, rumah di kawasan Jalan Tole Iskandar, Kota Depok, itu juga merupakan poros kerja intelektual Robet. Istri Robet, Atnike Nova Sigiro, tahu betul rutinitas suaminya, berlama-lama mengobrol, dan tidur larut malam untuk menulis dan membaca buku. ”Robet memang kerap tidur lewat tengah malam. Saya tidak akan menunggunya selesai begadang,” kata Atnike tertawa.

Berdiskusi, menulis, dan membaca buku adalah aktivitas utama Wakil Ketua Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia periode 1996-2003 itu. Hampir setiap hari ia ke kampus Universitas Negeri Jakarta di Rawamangun untuk mengajar. Sepanjang siang dan sore ia biasanya sibuk dengan aktivitas di Jakarta, termasuk mendiskusikan banyak hal dengan berbagai kalangan.

”Tidak ada waktu lagi untuk menulis dan membaca, kecuali jika saya pulang ke rumah,” ujar Robet, alumnus pascasarjana bidang teori politik Birmingham University, Inggris, itu.

Perpustakaan Itu mengapa Robet kerap begadang hingga dini hari. Malam di rumah menjadi satu-satunya kesempatan baginya untuk menulis dan membaca. Ia bisa membaca di mana saja di rumah. Namun, untuk menulis, ia biasa mengerjakannya di perpustakaan pribadi di lantai dua rumahnya.

Perpustakaan dibangun di lantai dua rumah tipe 45 itu. Pada awalnya, perpustakaan itu direncanakan sebagai ruang menginap tamu. Di kedua sisi dinding ruang perpustakaan itu terdapat rak buku bersusun lima yang penuh buku referensi kerja. Beberapa buku malah terserak karena tak kebagian tempat.

Tak banyak perabotan lain di ruang itu. Hanya meja tempat menulis dengan laptopnya serta perangkat stereo yang biasa menemani kerja Robet dengan alunan musik rock, artrock, atau jazz. Koneksi internet wi-fi melengkapi fasilitas kerja Robet di rumah mungilnya itu.

”Kalau saya menulis artikel, bisa 20-30 buku turun dari rak, dan saya bisa mengetik sampai pagi hari. Biasanya beberapa kali saya harus berhenti, berpikir ulang sambil menikmati rokok,” ujar Robet.

Perpustakaan itu sebenarnya hanya memuat sebagian kecil koleksi bukunya. ”Buku yang lain tercecer entah di mana. Sejak mahasiswa, saya sudah mengoleksi banyak buku ’kiri’ yang dilarang oleh pemerintah Orde Baru, termasuk sejumlah buku karangan Karl Marx. Karena takut ditangkap, saya banyak menitipkan buku saya kepada teman-teman.”

Setelah menikah pada 2001, Robet tinggal di rumah petak di kawasan Margonda, Depok. Baru pada 2003 ia membeli rumah yang ditinggalinya sekarang ini.

”Sebelum saya memiliki rumah ini, semua buku tercecer di mana-mana. Yang sekarang ada adalah koleksi yang saya kumpulkan sejak tahun 2003,” kata Robet yang juga pernah bekerja untuk Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998 dan Tim Pencari Fakta Kekerasan Pasca-jajak Pendapat di Timor Lorosae itu.

Dapur Sebuah tangga beton menghubungkan perpustakaan Robet dengan ruang makan yang menyatu dengan dapur. Di kelokan tangga, terpampang sebuah lukisan sobat karib Robet, Tommy F Awuy. Di sisi dinding lainnya terpasang poster Che Guevara yang tengah duduk meminum cerutu menemani lukisan Awuy.

Meja makan persegi panjang dengan empat kursi yang ada di dapur itu menjadi tempat berbincang yang nyaman bagi Robet dan Atnike. ”Di sinilah kami biasa menyelesaikan seluruh urusan keluarga,” kata Robet terkekeh.

Dapur mungil itu sejuk meski tak berpendingin ruangan. Itu karena terdapat lubang angin besar di atas tangga menuju perpustakaan. Di seberang lubang angin terdapat dinding penangkap angin untuk mendistribusikan udara ke arah dapur. ”Dengan pengaturan itu, udara di dapur tetap terasa segar,” kata Atnike yang sehari-hari bekerja di Asian Forum for Human Rights and Development di Menteng.

Sebuah pintu dan sekat kaca bening memisahkan dapur sekaligus ruang makan itu dengan ruang keluarga tempat Robet dan Atnike menonton televisi dan bermain bersama buah hati mereka, Ian Vidya Pasada (1). Ruang keluarga itu juga kerap menjadi ruang diskusi antara Robet dan tamunya.

”Pernah seorang teman menyindir, ’Robet, rumahmu strategis, mau ke dapur dekat, mau ke kamar tidur dekat, mau nonton televisi dekat.’ Ia menyindir rumah kecil saya,” ujar Robet terbahak.

*)Kompas, 3 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan