-->

Lainnya Toggle

Mati Teraniaya ala Kredit

djokpitOleh : Djoko Pitono

“Utang dan piutang singkirkanlah!

Berkat piutang kerap hilang uang dan teman.

Dan utang pun membunuh sikap berhemat”

Shakespeare, Hamlet, babak I Adegan 3

Akibat utang kartu kredit, jiwa nasabah Citibank di Jakarta melayang di tangan para debt collector. Begitu ramai diberitakan berbagai media cetak dan elektronik pekan ini.

Nasabah yang melayang itu, Irzen Octa, kabarnya terheran-heran dan menanyakan utangnya yang 68 juta (atay 48 juta) membengkak menjadi 100 juta. Dia tidak mau membayar sebesar itu. Bagaimana bank bisa pnya ruang khusus interogasi seperti kantor kejaksaan, polisi, atau markas militer? Orang-orang pun heran mengapa Bank Indonesia hanya mengimbau dan tidak melarang bank-bank menggunakan jasa debt collector, yang disebut mantan ketua MPR Hidayat Nur Wahid sebagai ‘mafia’?

Tidak ada yang mengherankan sebenarnya. Dunia Kartu Kredit atau Credit Card dimana-mana nyaris tak berbeda dengan dunia utang piutang dengan cara lain. Kata credit sendiri berasal dari bahasa latin, credire yang berarti ‘kepercayaan’. jadi orang yang mendapat kredit alias utang sama artinya mendapat kepercayaan. Semakin besar nasabah mendapatkan utang berarti dia makin dipercaya. Dia bahkan dipuji-puji. Soal kemudian dia tidak bisa membayar dan mengalami nasib seperti Irzen Octa akibat kekerasan, itu soal lain.

Nasabah klimpungan karena utangnya bengkak akibat bunga(riba) yang berbunga? Tidak ada jugayang aneh. Ketik di Google “keluhan kartu kredit” maka tak terhitung korban ‘kartu sakti’ itu. Tidak hanya terkait city bank, tapi juga bank-bank lain. Pada dasarnya, lembaga-lembaga penerbit kartu kredit memaang sama dengan rentenir-rentenir klasik alias tradisional sejak jaman baheula.

sejarah utang piutang terkait rentenir telah berusia ribuan tahun. wayne A.M Visser Alistair McIntosh dalam tulisannya, a short Review of the Historycal Crituque of Usury, (1998) mengatakan, selama ribuan tahun itu pula praktik-praktik riba dikecam dan dicerca. Dokumen-dokumen kuno keagamaan Hindu dan Budha menunjukkan cercaan terhadap praktik riba, demikian pula dalam Judaisme, Kristen, Islam, dan juga pemikiran Filsafat  Barat kuno.

Dalam kepercayaan Judaisme, orang-orang yahudi juga dilarang keras melakukan renten (riba) alias neshek (iharafiahnya ‘gigitan’). Sejumlah ayat dalam Perjanjian Lama menunjukkan hal itu. Penulis artikel tentang Finance di Universal Jewish Encyclopedia menjelaskan perbedaan itu dengan menunjuk bahwa ayat dalam Exodus-yang melarang riba- dikeluarkan sebelum orang-orang Yahudi terusir dari negerinya, sementara ayat dalam Deuteronomy setela h mereka hidup dalam pengasingan. Sebelum terusir, orang-orang yahudi umumnya dikatakan hidup dari bertani, sedangkan saat dalam pengasingan mereka berdagang dan menjadi rentenir.

Dalam praktik rentenir, semua bangsa tampaknya melakukan. Mulai Barta hingga Timur, dari utara sampai ke selatan, dari Eropa, Asia, hingga Amerika, banyak yang melakukan. Mereka beragam agama dan kepercayaan, apakah Kristen, Yahudi, Islam, atau Buddha, dan lainnya. Di Indonesia, tidak sedikit orang Jawa, Sunda, Tionghoa, atau Batak yang hidup dari rente. Tetapi rentenir-rentenir ‘paling jago atau paling top’ adalah orang-orang yahudi.

Universal Jewish Encyclopedia menyebutkan bahwa menjelang abad ke-10, meminjam uang (dengan riba tentunya) menjadi pekerjaan utama orang-orang Yahudi di Eropa. Seluruh penjuru Eropa dilukiskan telah berutang kepada orang-orang Yahudi. Kehebatan itu, antara lain, terlukis pula dalam sebuah drama karya William Shakespeare, The Merchant of Venice yang muncul pada abad ke-16. rentenir Yahudi, Shylock, dilukiskan Shakespeare sebagai tokoh yang keji.

Ada pendapat, bunga bank bukanlah riba yang diharamkan hukumnya dalam agama. Tetapi, haram atau tidak, berjuta-juta orang sengsara terjebak dalam perangkap utang. Erza Pound, penyair terkemuka Amerika, bahkan menilai sistem bank sentral itu lah yang membuat budaya utang makin berkembang subur. para banker itu pula yang menyengsarakan rakyat di dunia, termasuk Amerika. Rakyat Amerika sebenarnya tidak merdeka karena mereka terbelit leh utang. “Tidak ada kemerdekaan tanpa kekerasan ekonomi,” kata Pound.

Pernyataan-pernyataan Pound mungkin sudah ketinggalan zaman. Namun referensi baru menunjukkan bahwa rakyat Amerika umumnya kini terbelit utang yang sangat besar alias bangkrut. Buku The Parable of The Pipeline karya Burke Hedges, misalnya menyebutkan bahwa utang rumah tangga di AS meningkat berlipat-lipat dalam 20 tahun terakhir. Dan menurut Wikipedia, jumlah utang kartu kredit yang macet di AS (2008) hampir 1.000 milliar dollar.

Tetapi, memang tidak adil hanya menyalahkan bank atau rentenir. Mereka yang suka utang dan mencoba mencari utang juga harus tahu diri dan berhati-hati agar terhindar dari kekerasan dan kesengsaraan.

Benjamin Franklin, misalnya, bertutur lebih baik tidur tanpa makan malam dari pada bangun tidur utang naik. Ralp Waldo Emerson juga punya peringatan, a man in debt is so far a slave. Orang yang berutang adalah budak.

Thomas jeferson, dalam sepucuk suratnya kepada putrinya, suatu hari menulis:”Yakinlah bahwa lebih menyakitkan bila kita punya utang daripada melakukan (sesuatu) tanpa barang apapun yang mungkin kita inginkan”.

*) Jurnalis dan editor buku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan