-->

Kronik Toggle

Kisah si Bomber Buku

Terkejut dan tak percaya. Itulah rasa di dalam diri Zoel Fauzi Lubis, mantan produser tayangan infotainment ‘Otista’, begitu tahu Pepi Fernando disebut-sebut sebagai dalang bom buku dan bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Zoel tak habis pikir bagaimana ceritanya mantan rekan satu kantornya itu terlibat dalam aksi terorisme yang menggegerkan negeri ini. “Saya jelas terkejut,” ujar Zoel ketika dihubungi Republika, Ahad (24/4).

Saat sama-sama bekerja di ‘Otista’, Zoel tak pernah melihat sikap radikal di dalam diri Pepi. Bahkan, dia pun tak pernah melihat Pepi serius berdiskusi mengenai politik atau agama. Begitu pula dengan urusan bisnis. “Kalau ada anggapan Pepi melakukan aksi bom karena urusan bisnis dengan media internasional, saya kira dia tidak punya naluri ke arah sana,” jelasnya.

Pepi ditangkap di Aceh bersama dua orang lainnya berinisial J dan F beberapa hari lalu. Mereka dikatakan polisi berusaha melarikan diri ke Aceh. Selama sekitar setahun, Pepi bekerja menggarap tayangan ‘Otista’. Dia bekerja bersama Imam Firdaus, kamerawan televisi nasional, yang diduga ikut dalam jaringan bom tersebut.

Pepi pernah membuat film dokumenter mengenai tsunami Aceh. Dia diduga menjadi pemimpin dan sutradara rencana film dokumenter yang gambarnya akan diambil dari peristiwa ledakan di depan Gereja Christ Cathedral. Bom yang diletakkan di gorong-gorong saluran pipa gas direncanakan diledakkan pada perayaan Jumat Agung (22/4) pukul 09.00 WIB pekan lalu.

Menurut Zoel, Pepi tergolong sosok yang apatis dengan dunia yang serius. Karenanya, dia tidak mengerti motivasi dan apa latar yang membuat Pepi kemudian berubah menjadi seorang pelaku teror bom. “Saya tahu karena mereka tidak pernah menunjukkan adanya gejala akan menjadi teroris,” ujarnya.

Zoel mengungkapkan, Pepi merupakan orang yang kerap menenggak minuman beralkohol pada saat tak bekerja. Bahkan, lanjutnya, dalang teror bom ini pernah menyaksikan film biru di kantor. Dia mengetahui perilaku tersebut karena film porno itu terekam di dalam komputer kantor.

Hanya saja, Zoel mengakui Pepi dan Imam Firdaus kerap kerja bareng selama liputan untuk tayangan ‘Otista’. Kedua anak buahnya ini sangat akrab jika dibandingkan dengan teman-teman sekantor lainnya. Pepi kerap meminta Imam menjadi pendamping liputan. Pepi sebagai wartawan dan Imam sebagai kamerawannya. “Mungkin Pepi merasa cocok dengan Imam,” kata Zoel.

Saat bekerja, Pepi tak mau memilih rekan perempuan sebagai partner liputan. Namun, selang tiga tahun sejak ‘Otista’ tidak ditayangkan lagi di sebuah televisi nasional, Zoel tidak pernah mendengar kabar dari Pepi. Hubungan kerja mereka terputus begitu tayangan itu terhenti. Hingga kemudian, datang kabar mengenai dalang pelaku teror bom yang dilakukan Pepi.

Satu hal lagi yang membuat Zoel heran jika Pepi memang otak teror itu adalah Pepi tak mempunyai jaringan dengan media massa internasional. Apalagi, ramai dikabarkan Pepi akan menggunakan jaringan media itu untuk menyiarkan rekaman peristiwa ledakan bom yang diraciknya.

Selama bekerja di ‘Otista’, satu-satunya kerja sama yang dijalin dengan media negara lain adalah dengan salah satu perusahaan Malaysia. Kerja sama tersebut dalam rangka mewawancarai artis-artis India atau Bollywood. Hal ini karena rumah produksi tempat Zoel bekerja memiliki perjanjian dengan satu televisi nasional untuk menggarap wawancara dengan artis Bollywood.

Karena itu, Zoel mengatakan, sangat tak mungkin Pepi mengenal jaringan media massa internasional ketika bekerja untuk tayangan ‘Otista’. “Mungkin koneksi dengan media internasional setelah mereka tidak lagi bekerja di Otista,” tegas Zoel.

Istri Pepi menghilang
Setelah Pepi dinyatakan sebagai tersangka pelaku bom buku dan Gereja Christ Cathedral, Deny Carmanita, istri Pepi, tak bisa lagi ditemui di kantornya. Deny bekerja di Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jakarta dan kerap berkomunikasi dengan wartawan yang meliput di sana.

Kepala BNN Komjen Goris Merre termasuk salah seorang yang mendapatkan kiriman buku berisi bom. Terakhir, Republika menemui Deny pada saat jumpa pers pemusnahan narkoba di BNN beberapa waktu lalu.

Ketika itu, Deny sedang hamil tua. Kancing bagian bawah kemeja putih yang dikenakannya tidak mampu lagi mengaitkan belahan pakaian karena perutnya membesar. “Iya nih, sudah tidak muat lagi,” ungkapnya ketika itu, sambil memandang kancing yang dibiarkannya.

Kepada kami, dia tidak pernah membicarakan soal agama dan hal-hal yang menyangkut aksi teror. Deny hanya membicarakan seputar aktivitas BNN, tempatnya bekerja. Pernah dia mengenang masa ujian menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di BNN. “Tidak menyangka, akhirnya bisa menjadi PNS di sini,” ujarnya.

Penampilan Deny tergolong sederhana. Wanita berjilbab ini juga senang bercanda dengan wartawan. Tutur katanya tidak cepat dan cenderung hati-hati dalam berbicara. Sesekali dia tersenyum menunjukkan susunan giginya yang putih, seputih kulitnya. Jika berbicara serius, Deny kerap melotot sambil menggerak-gerakkan tangannya.

Staf Humas BNN Yesi Weningati mengatakan tak mengetahui apa-apa seputar Deny meskipun bekerja satu kantor. “Setahu saya, dia masih sempat masuk kerja seperti biasa pada Rabu (20/4) lalu,” ungkapnya. Menurutnya, Deny merupakan pegawai yang biasa-biasa saja, bekerja sesuai aturan, dan tidak neko-neko.

Kepala Humas BNN Komisaris Besar Sumirat Dwiyanto mengaku belum mengetahui salah satu karyawannya bersuamikan Pepi. “Saya masih mencari infonya,” tulis Sumirat dalam pesan singkatnya.

Sedangkan Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, menyatakan belum mengetahui apakah Deny ikut terlibat atau tidak. “Belum ada pemeriksaan terhadap yang bersangkutan,” ujarnya singkat.

Boy Rafli menjelaskan, pada 23 April lalu, pihaknya menggeledah kediaman Pepi. Polisi menemukan sebuah granat nanas, satu buah campuran adonan bahan peledak berdiameter tiga sentimeter, cashing bom model roket belum terisi mesiu, lima buah bom model kaleng, dan satu bom sudah dapat diledakkan. Terdapat juga dua bahan bom yang sudah jadi, cashing bom model kotak, dan sebuah solder.

Ditemukan pula alat penunjang pembuatan bahan peledak, seperti potongan pipa besi, dan timer jam dinding. “Barang bukti yang berpotensi meledak diserahkan unit penjinak bom Gegana untuk dinonaktifkan, sedangkan bahan yang lain dianalisis tim labfor Mabes Polri,” paparnya. Pepi, sebulan terakhir, tinggal di rumah mertuanya di Bekasi, Jawa Barat. ed: budi raharjo

Sumber: Republika, 25 April 2011, “Pepi Kerap Tenggak Miras dan Jauh dari Agama”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan