-->

Kronik Toggle

KIAI HAJI ABDUL WAHID HASYIM Beberapa Pemikiran Pembaruan

  • Achmad Zaini Penulis buku K.H.A. Wahid Hasyim: Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan dan dosen IAIN Sunan Ampel, Surabaya
  • WAHID Hasyim adalah sosok yang mewakili kalangan yang jarang sekali tersentuh oleh para peneliti. Hampir semua peneliti, terutama peneliti Barat, jatuh hati pada kelompok “modernis”, yang dinilai dinamis, adaptif, pragmatis, dan sama sekali tidak bermusuhan dengan segalanya yang berpangkal dari Barat. Wahid Hasyim berasal dari kalangan “tradisionalis”, yang menanggung sejumlah stereotipe-antara lain antiperubahan dan resisten terhadap pemikiran serta gagasan Barat.

    Tidak banyak yang kemudian menyimak bahwa ia seorang tradisionalis yang berpikiran jauh ke depan. Wahid Hasyim seorang reformis properubahan; ia melontarkan gagasan yang sama sekali asing bagi lingkungan pesantren. Perubahan paling monumental di Pondok Pesantren Tebuireng terjadi ketika Wahid Hasyim kembali dari Mekah pada 1933. Ia mengajukan beberapa usul pembaruan dalam metode serta tujuan belajar di pesantren, dan pendirian madrasah.

    Wahid Hasyim mengusulkan sistem tutorial, sebagai pengganti metode bandongan. Metode bandongan, menurut dia, sangat tidak efektif untuk mengembangkan inisiatif para santri. Dalam metode ini, santri datang hanya untuk mendengarkan, menulis, dan menghafal pelajaran yang diberikan; tanpa kesempatan mengajukan pertanyaan atau bahkan mendiskusikan pelajaran. Wahid Hasyim secara jelas menyimpulkan bahwa metode bandongan membuat santri pasif.

    Wahid Hasyim juga mencoba mengoreksi harapan santri belajar di pesantren. Ia mengusulkan agar kebanyakan santri yang datang ke pesantren tidak berharap menjadi ulama. Karena itu, mereka tak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun mengakumulasi ilmu agama melalui teks-teks Arab. Mereka dapat memperoleh ilmu agama dari buku-buku yang ditulis dengan huruf Latin, dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dibarengi penguasaan keterampilan. Hanya sebagian kecil yang memang disiapkan menjadi ulama, yang diajari bahasa Arab dan karya-karya klasik dari abad pertengahan.

    Ayahandanya, Hasyim Asy’ari, tidak setuju dengan dua usulan tersebut. Terlalu radikal dan sangat bertolak belakang dengan pemikiran pemimpin pesantren saat itu. Tapi Hasyim Asy’ari mengizinkan putranya itu mendirikan institusi baru, sesuatu yang kemudian terwujud pada 1935.

    Mengambil nama dari institusi pendidikan yang dibangun oleh pemimpin Saljuk, Nizam al-Mulk, di Bagdad, Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nizamiah. Inilah pilot project-nya. Pertimbangannya: terbatasnya pelajaran yang diberikan di pesantren membuat santri kesulitan bersaing dengan koleganya yang belajar dari pendidikan Barat. Kelemahan santri, menurut dia, adalah kurangnya penguasaan santri terhadap ilmu-ilmu Barat, bahasa asing, dan keterampilan.

    Institusi baru yang digagas Wahid Hasyim menggunakan ruang kelas dengan kurikulum 70 persen pelajaran umum dan 30 persen pelajaran agama. Aritmatika, sejarah, geografi, dan ilmu pengetahuan alam termasuk mata pelajaran wajib. Sebagai tambahan, santri diajari bahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda. Keterampilan mengetik juga diberikan untuk meningkatkan kualitas keterampilan santri. Sebagai penunjang, Wahid Hasyim mendirikan sebuah perpustakaan. Buku yang tersedia kurang-lebih 1.000 judul-terdiri atas buku-buku teks dan karya-karya ilmiah populer, baik ditulis dalam bahasa Arab, Inggris, maupun Belanda.

    Tak lama berselang, terbuktilah bahwa gagasan ini mendapat sambutan. Jumlah santri di Tebuireng dan Madrasah Nizamiah meningkat secara dramatis. Pada 1930-an, jumlah santri Tebuireng naik sepuluh kali lipat dari jumlah siswa yang belajar di Tebuireng sepuluh tahun sebelumnya. Perubahan yang terjadi di Tebuireng menjadikannya sebagai pusat pendidikan bagi kader Nahdlatul Ulama. Dilihat dari usaha yang dilakukannya, sudah sepatutnya bahwa Wahid Hasyim diposisikan setara dengan “kaum modernis” sebagai pembaru pendidikan Islam Indonesia dalam penulisan sejarah pendidikan Islam Indonesia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan