-->

Tokoh Toggle

Isamu Sakamoto, Sejarah dalam Kertas Kulit Pohon

Isamu Sakamoto_BUKU, AKSARAOleh Ninuk M Pambudy

Selembar kertas tidak akan memiliki arti apa-apa kecuali kita memberinya makna. Bagi Prof Isamu Sakamoto, menemukan komunitas di sekitar Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, yang masih membuat kertas dari kulit kayu, seperti dilakukan ribuan tahun lalu, bak menemukan jembatan emas ke masa lalu.

Dari selembar kertas kulit kayu dari kulit pohon mulberi (Broussonetia papyrifera Vent, di Jawa Barat disebut saeh) di desa-desa sekitar Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, Sakamoto membaca sejarah panjang peradaban masyarakat Nusantara, hingga 3.500-4.000 tahun lalu. Alat dan teknik pembuatannya sama seperti yang digunakan ribuan tahun lalu.

”Ada sekitar 10 perempuan masih membuat kertas kulit kayu dengan cara dipukul-pukul memakai pemukul batu. Mereka sudah tua,” kata Sakamoto, pengajar di Universitas Surugadai, Tokyo, serta ahli rekonstruksi dan penyimpanan kertas.

Setelah tsunami di Aceh, Desember 2004, dia diminta ikut membantu merekonstruksi berbagai dokumen. Kini Sakamoto bersama lembaga swadaya masyarakat setempat berupaya mereparasi dokumen kertas yang rusak terkena tsunami di timur laut Jepang, Jumat (11/3).

Menurut Sakamoto, dari 10 perempuan di desa dekat Lore Lindu, hanya dua orang yang mampu membuat kertas kulit kayu berkualitas baik. Kertas yang bagus harus bersih, tak berjamur, lebar, transparan, tidak bolong-bolong, dan ketipisannya rata.

Saat ditemui di Museum Tekstil Jakarta beberapa waktu lalu, Sakamoto memperlihatkan alat pukul batu yang permukaannya memiliki pola tertentu. Dia juga memperlihatkan kertas kulit kayu polos berwarna putih buram, yang sayangnya bukan dari kualitas baik. Selain ketipisannya tidak rata, kertas itu juga berbau tak sedap karena berjamur akibat pengeringan tak sempurna.

Seakan menyadari rasa ingin tahu tentang kertas kulit kayu berkualitas baik, Sakamoto mengeluarkan gulungan kertas dari dalam tabung. Bukan hanya jernih dan transparan, kertas itu sudah dilukisi corak wayang.

”Wayang beber dibuat di atas kertas transparan dari kulit kayu. Saya terpikir memberi nilai ekonomi kertas kulit kayu dari Lore Lindu, dengan menjadikannya bahan kertas untuk wayang beber,” kata Sakamoto seraya membeberkan kertas kulit kayu bergambar lukisan wayang yang indah menerawang. Dalang menuturkan cerita wayang beber seraya membuka lembaran kertas.

Makna selembar kertas

Penemuan Sakamoto memberi makna luas bagi Indonesia dan dunia. Menurut dia, dalam banyak literatur akademis asal-usul kertas, wilayah selatan Asia seperti ”daerah gelap”. Hal itu terlihat pada peta Dard Hunter (1883-1966), orang Amerika yang menulis 20 buku tentang asal-usul kertas berdasar perjalanannya ke berbagai penjuru dunia,

Bagi Sakamoto, hal itu tidak masuk akal. Hutan lebat di Asia bagian selatan, termasuk Indonesia, dan iklim tropis adalah sumber bahan baku kertas. ”Itulah yang membuat saya ingin menginvestigasi lebih jauh,” kata Sakamoto yang berkunjung pertama kali ke Indonesia tahun 1996.

Sebelum di Palu, Sulawesi Tengah, Sakamoto menemukan pembuatan kertas kulit kayu di desa antara Bandung dan Garut, Jawa Barat, yang disebut daluang. Sayangnya, kualitas kertasnya kurang baik.

Di Bali juga ada kertas kulit kayu dengan nama ulantaga.

Tahun 2008, Sakamoto tiba di Palu. Dia mendapat informasi dari antropolog Indonesia tentang migrasi orang Austronesia ke Sulawesi Tengah dan alat pemukul batu. Dia lalu menghubungkannya dengan teknik pembuatan kertas kulit kayu.

Saat mengelilingi Lore Lindu, Sakamoto terperanjat, menemukan perempuan berusia 83 tahun masih membuat kertas kulit kayu dengan alat pemukul yang permukaannya bercorak. Ketika dipukulkan di atas kulit kayu yang sudah direndam air hingga lunak, akan terbentuk penanda (water mark), yang menurut Sakamoto, sangat maju dan rumit tekniknya. Ada beberapa jenis penanda, salah satunya bercorak seperti ragam hias kawung pada batik.

Ternyata Sakamoto kemudian menemukan bahwa alat pemukul batu yang digunakan perempuan di Palu itu sama dengan yang berasal dari Zaman Batu Baru (Neolitikum), dan berhubungan dengan migrasi orang Austronesia dari selatan China.

Hal yang lebih menakjubkan Sakamoto, kertas tersebut memiliki penanda yang sama dengan yang ditemukan di Meksiko. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan budaya sejak lama pada masyarakat di dua tempat yang terpisah samudra itu.

Melestarikan

Setelah tahun 2008, Sakamoto beberapa kali ke Palu. Dia berusaha mencari jalan agar para pembuat kertas kulit kayu tidak meninggalkan pekerjaan itu, dan anak muda pun tertarik membuatnya.

”Bagi kami di Jepang, kemajuan teknologi menyisakan penyesalan, karena kami kehilangan jejak asal-usul nenek moyang. Tanpa tahu asal-usul, kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa,” katanya.

Dengan alasan itu, Sakamoto merasa menemukan hal yang tak ternilai harganya dari para pembuat kertas kulit kayu di sekitar Lore Lindu. Dia mulai memikirkan untuk memberi nilai ekonomi lebih baik pada kulit kayu yang dihasilkan. Selain menjadikannya sebagai materi pembuatan wayang beber, dia juga membuat kertas itu sebagai pakaian penari dan upacara.

Sakamoto juga tengah mengupayakan agar Desa Bada, Desa Gintu, dan Desa Bulili, di Kabupaten Poso, dapat berkembang menjadi desa percontohan pengembangan pelestarian kertas kulit kayu yang berkualitas tinggi.

”Caranya bukan dengan membuka desa-desa itu besar-besaran untuk banyak orang. Saya membayangkan, keaslian desa dan tata kehidupannya dipertahankan, tetapi warga juga menjadi modern dan mendapat manfaat ekonomi dari kertas kulit kayu. Orang yang ingin berkunjung datang tanpa mobil,” katanya.

Dia juga ingin mengembangkan kembali pembuatan wayang beber yang semakin terbatas, salah satunya di Pacitan, Jawa Timur. Bersama teman-teman artisannya, Sakamoto berhasil membuat satu gulungan cerita Panji memakai kertas kulit kayu berukuran lebar 70 sentimeter dan panjang 3,5 meter. Dia bertekad menyelesaikan seluruh enam gulung cerita Panji itu.

”Banyak orang Indonesia mengira wayang beber sudah mati. Kami ingin membuktikan, wayang beber bisa dibuat lagi sehingga memberi nilai ekonomi pada kertas kulit kayu,” katanya.

Dengan memberi nilai ekonomi, Sakamoto berharap kegiatan membuat kertas kulit kayu akan bertahan hingga bergenerasi kemudian, dan memberi akar sejarah kepada masyarakat Indonesia.

Isamu Sakamoto

• Lahir: Kobe, Jepang, 12 Februari 1948

• Pendidikan: – Universitas Kwansei Gakuin, Osaka, jurusan teologi – Belajar konservasi, The Royal Danish Academy of Fine Arts, Denmark.

• Pekerjaan: – Ahli pengawetan dan rekonstruksi kertas – Pengajar di Universitas Surugadai, Tokyo, Jepang

Sumber: Kompas, 2 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan